Cara Menanamkan Nilai-Nilai Pancasila bagi Generasi Milenial

Editor: Makmun Hidayat

SEMARANG — Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mewujudkan pelajar Pancasila. Tidak hanya melalui pendidikan akademik, namun juga karakter. Pelajar Pancasila memiliki enam karakteristik utama, yakni bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bergotong royong, serta berkebhinekaan global.

Hal tersebut disampaikan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Dirjen Dikti Kemendikbud Ristek, Prof Aris Junaidi, terkait Peran Pendidikan Tinggi dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila, dalam Seminar Nasional Peringatan Hari Lahir Pancasila ‘Mewujudkan Nilai-Nilai Pancasila untuk Indonesia Bersatu dan Berkemajuan’, yang digelar Universitas Negeri Semarang (Unnes) secara daring di kampus tersebut, Semarang, Selasa (1/6/2021).

“Keenam karakteristik Pelajar Pancasila tersebut terwujud melalui penumbuh kembangan nilai-nilai budaya Indonesia dan Pancasila, yang merupakan pondasi bagi arah pembangunan nasional,” terangnya.

Di satu sisi, melihat dari karakteristik Pelajar Pancasila, dibutuhkanlah  suatu mekanisme atau gerakan penumbuhan karakter, diantaranya melalui sosialisasi, penyempurnaan pembelajaran, dan aneka kompetisi.

“Salah satunya dengan menerbitkan keputusan tentang mata kuliah wajib pada kurikulum (MKWK) pendidikan tinggi. Ada empat mata kuliah wajib , termasuk didalamnya Pancasila. Ini dalam waktu dekat akan kita umumkan, bagaimana penyampaian dan penerapan mata kuliah MKWK ini,” terangnya.

Di sisi lain, dengan memahami generasi Z yang memiliki rentang usia 9-24 tahun atau generasi saat ini, maka model pembelajaran juga harus diubah dengan pendekatan personal.

“Ini yang akan membangun model pembelajaran baru bagi generasi kita, sehingga nilai-nilai Pancasila akan kita kembangkan dalam problematika solutif, aktual responsif. Semuanya akan mengarah ke nilai-nilai Pancasila baik logika, gramatika, retorika, etika, cipta, rasa dan karsa,” terangnya.

Ditegaskan, tidak hanya anak didik, pihaknya juga perlu mendidik pendidik , beserta institusinya. “Pendidikan Pancasila sebagai mata kuliah wajib, dan pendidikan yang Pancasilais, yang nantinya akan mempengaruhi sistem pendidikan. Termasuk, Pancasila sebagai paradigma pengembangan ilmu dan praktikum Pancasila,” tegasnya.

Sementara, Guru Besar Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Dr Heddy Shri Ahimsa Putra MA M Phil, yang juga hadir sebagai pembicara, menjelaskan nilai-nilai Pancasila bersifat abstrak, tidak mudah dinyatakan, dan tidak mudah diukur oleh generasi milenial, untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini yang menjadi persoalan bangsa pada saat ini.

“Pertanyaannya, bagaimana kita mewujudkan nilai-nilai yang abstrak itu ke dalam kehidupan sehari hari? Disinilah penting untuk kita dapat mewujudkannya,” paparnya.

Menurutnya, perlu operasionalisasi sila-sila Pancasila yang diturunkan menjadi nilai-nilai Pancasila, kemudian menjadi norma-norma Pancasila dan akhirnya menciptakan aturan-aturan konkret untuk mengarahkan perilaku masyarakat dan dapat diwujudkan ke dalam kehidupan sehari hari.

“Sosialisasi nilai-nilai Pancasila pada generasi milenial harus disesuaikan dengan karakter generasi tersebut. Ada tiga karakter generasi milenial perlu diketahui. Karakter yang pertama generasi milenial yakni ingin serba cepat, praktis, to the point, dan suka bermain media sosial. Sosialisasi nilai-nilai pancasila pada generasi milenial dilakukan dengan cara yang singkat, padat dan jelas serta bersifat visual,” tandasnya.

Karakter selanjutnya generasi milenial lebih banyak memahami teknologi komunikasi informasi, pintar dalam mencari informasi, dan memiliki pemikiran kritis serta logis.

“Maka dari itu hubungan antarsila dan operasionalisasi sila-sila harus logis, kuat landasan filosofisnya, dan harus terbukti sebagai falsafah bangsa dan negara yang paling cocok. Dengan landasan kuat tersebut generasi milenial akan yakin dengan manfaat dan kekuatan pancasila. Sedangkan, karakter ketiga generasi Milenial yakni mengglobal, sehingga sosialisasi nilai tersebut perlu menunjukkan kesesuaian Pancasila untuk Indonesia,” tegasnya.

Hal senada juga disampaikan Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman MHum. Menurutnya, Unnes sebagai perguruan tinggi, juga memiliki peran strategis dalam mewujudkan nilai-nilai Pancasila untuk mewujudkan Indonesia bersatu dan berkemajuan, melalui Konservasi Nilai Pancasila.

“Unnes memiliki visi dan misi menjadi Universitas Berwawasan Konservasi dan Bereputasi Internasional, melalui konservasi ini, kita berupaya mewujudkan nilai-nilai Pancasila. Implementasinya melalui pengkajian, pembelajaran,” terangnya.

Dituturkan, Pancasila sebagai pemikiran filosofis memiliki dimensi luas, pengkajian Pancasila dilakukan untuk membuka lapisan-lapisan gagasan dan nilai di dalamnya. Melalui pengkajian, nilai-nilai yang terkandung dapat dipahami kemudian diimplementasikan. Nilai-nilainya Pancasila harus diwariskan melalui proses pembelajaran. Pembelajaran itu yang nantinya menghasilkan pemahaman, sikap, dan tindakan sebagai pelajar Pancasila,” tandas Fathur.

Dalam kesempatan tersebut juga hadir sebagai pembicara, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Dr (HC) Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Yahya serta Wakil Kepala BPIP Prof Dr Hariyono MPd.

Lihat juga...