Covid-19 Melonjak, Jateng Bersiap Sediakan RS Darurat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Angka covid-19 di sejumlah wilayah di Jateng menunjukkan peningkatan. Terutama di Kabupaten Kudus, yang melonjak hingga berkali lipat. Berdasarkan data corona.jatengprov.go.id, per Rabu (2/6/2021) pukul 12.00 WIB, di angka covid-19 di Kudus mencapai 1.300 kasus.

Demikian juga di sejumlah wilayah lain seperti di Kabupaten Banyumas 509 kasus, Kabupaten Tegal 549, hingga Demak, Kendal, Sragen, Kota Semarang, Brebes hingga Kebumen dengan angka di atas 300 kasus. Imbasnya, angka Bed Occupancy Rate (BOR) atau keterisian ruang rawat inap rumah sakit menjadi tinggi.

“Angka BOR sejumlah rumah sakit, terutama di Kudus sudah sangat tinggi, mendekati 100 persen. Kita sudah minta agar dilakukan penambahan tempat tidur baik ICU maupun isolasi di rumah sakit. Namun jika angka covid-19 terus naik, tidak segera turun, lalu BOR tetap tinggi, kami akan turunkan rumah sakit darurat,” papar Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo usai rapat penanganan covid-19 di kantor Gubernuran, Semarang, Rabu (2/6/2021).

Pihaknya pun sudah bersiap mendirikan rumah sakit darurat penanganan covid-19 di Kabupaten Kudus.

“Kalau harus membuat rumah sakit darurat, kita sudah siap. TNI/Polri sudah siap. SDM kita dorong, perawatnya dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan dari kita sudah kita dorong, termasuk dokter dari Provinsi maupun Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sudah disiapkan,” tegasnya.

Terkait rumah sakit darurat itu, saat ini pihaknya masih menunggu hasil assesment. “Keputusan membuat rumah sakit darurat ini, tergantung hasil assesment itu. Jika memang segera diperlukan, kita akan bangun segera, nanti kita bisa memanfaatkan gedung atau fasilitas yang ada,” ungkapnya.

Ditambahkan, sembari menunggu hasil assesment terkait keputusan rumah sakit darurat, pihaknya juga mendorong pola gotong royong, dengan menggandeng pemerintah kabupaten kota di sekitar wilayah Kudus, untuk ikut membantu penanganan pasien covid-19.

“Semua daerah ikut menyokong penanganan covid-19 di Kabupaten Kudus, mereka mau mendukung dan membantu. Misalnya Semarang saya senang, karena BOR nya tidak tinggi dan ikhlas menerima pasien dari Kudus. Ini yang akan kita dorong terus,” imbuhnya.

Sejauh ini dari, belajar dari penanganan kasus covid-19 yang tinggi diiringi dengan kenaikan BOR, pihaknya bisa mengatasinya dengan memanfaatkan fasilitas yang ada. Mulai dari hotel, gedung diklat hingga asrama haji, semua dioptimalkan untuk mencukupi kebutuhan ruang isolasi hingga perawatan.

“Prioritas sekarang ini penanganan covid-19. Kalau daerah tidak punya duit, pakai saja dulu anggaran Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Tidak ada yang tidak bisa, semuanya bisa. Ini hanya butuh mau dan strong leadership dari Bupati, agar langsung tunjuk, perintah dan lakukan. Ndak ada yang lain,” tegasnya.

Di lain sisi, pihaknya juga terus mendampingi kabupaten kota, dalam mengatasi persoalan covid-19. Termasuk dari Kementerian Kesehatan, BNPB juga sudah turun untuk membantu.

“Maka kita akan pandu, biar teman-teman di Kudus nyaman semuanya. Kalau sulit bisa langsung komunikasi dengan kami, bantuan apa yang dibutuhkan. Kami siap bantu, Kemenkes dan BNPB juga siap bantu,” tandas Ganjar.

Hal senada juga disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo. Dipaparkan, saat ini, kondisi BOR rumah sakit di Kudus sudah tinggi, sehingga penambahan tempat tidur untuk ruang ICU maupun isolasi, perlu segera dilakukan.

“Tidak hanya ruangan ICU dan tempat isolasi, kebutuhan SDM perawat dan dokter untuk menangani pasien covid-19 di Kudus juga mendesak. Hal ini karena banyak tenaga kesehatan di wilayah tersebut yang terpapar covid-19,” ungkapnya.

Untuk mengatasi kekurangan tenaga kesehatan tersebut, pihaknya juga berupaya melakukan penambahan tenaga. “Saat ini, sudah ada 48 tenaga kesehatan yang kami kirim ke Kudus untuk mencukupi kebutuhan SDM di rumah sakit rujukan covid-19 di Kudus,” tandasnya.

Di lain sisi, pihaknya juga meminta rumah sakit di beberapa daerah lainnya di Jateng, untuk mulai menambah kapasitas tempat tidur dan ruang isolasi covid-19. Hal ini seiring dengan tren peningkatan kasus covid-19 di wilayah tersebut.

“Selain Kudus, penambahan BOR rumah sakit juga dilakukan di Kabupaten Tegal, Sragen dan beberapa daerah lain. Mereka kita minta untuk bersiaga dengan mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan terjadi lonjakan. Rumah sakit harus benar-benar disiapkan agar tidak kesulitan ketika terjadi peningkatan,” terang Yulianto.

Tidak hanya itu, pihaknya juga mendorong 3T yakni testing, tracing dan treatment, harus terus ditingkatkan.

Testing dengan memperbanyak pengujian PCR test kepada lini satu dan dua. Tracing dilakukan untuk menelusuri kasus suspek, kasus probable, dan kasus konfirmasi, hingga treatment berupa penambahan fasilitas kesehatan rumah sakit, seperti bed, APD, ventilator, kamar isolasi, dan obat-obatan. Semuanya tidak boleh kendor, karena ini bisa dijadikan acuan penanganan termasuk antisipasi potensi varian baru,” tegasnya.

Lihat juga...