Dahan-dahan Pohon Sialang

CERPEN AFRI MELDAM

“GADIH, tolonglah, beri aku kesempatan!” Laki-laki bersuara parau itu mendekat ke pangkal pohon sialang yang dipanjat Gadih.

“Sudah puluhan kali kukatakan, ini jalan hidup yang kupilih. Aku sudah tak peduli dengan apapun yang digunjingkan orang-orang tentangku. Lagi pula, apa salahnya seorang perempuan menjadi pencari madu? Dan Uda juga tak perlu merasa kasihan padaku,” balas Gadih seraya mulai mengurai gulungan tali yang tergantung di pinggangnya.

“Percayalah, aku sudah menganggap Lian seperti anakku sendiri.” Ia mengambil sepotong ranting di tanah.

“Lalu?” Gadih berhasil mengikatkan pangkal bambu ke batang pohon sialang.

“Ya, tidakkah kau berpikir kalau dia juga butuh sosok seorang bapak?”

“Lian tahu kalau Bapaknya sudah meninggal. Ia harus belajar menerima kenyataan itu.”

“Jangan kau bohongi dirimu sendiri, Gadih. Kau bisa memilih jalan hidup yang lebih baik.”
“Sudahlah. Uda hanya membuang-buang waktu Uda di sini. Pulanglah. Aku harus mengambil sarang lebah ini sebelum hari lindap.”

“Aku bisa membantumu kalau kau………..”

“Pulanglah!”
***
SEHARUSNYA  Gadih sudah mempersiapkan diri sejak lama, bahwa sebagai pencari madu, maut sudah mengintai suaminya di setiap cabang pohon yang ia naiki.

Namun, ketika kabar buruk itu benar-benar sampai ke telinganya, ia bahkan tak sanggup menopang badannya sendiri, lalu jatuh meraung-raung begitu orang-orang datang membawa jasad suaminya dari hutan.

Andai ia bisa membaca garis takdir, ia tentu tak akan melepas suaminya pagi itu dengan muka masam, apalagi sampai membiarkan laki-laki itu pergi ke hutan hanya berbekal sekepal nasi dingin yang ia santap bersama minyak dan garam.

Pun, Gadih tentu tak akan memulai pagi mereka dengan pertengkaran yang selalu berulang.

“Kau belum masak apa-apa sepagi ini?” Nuan menatapnya tajam.

Gadih mendengus.

“Mau masak apa, ha? Beras sudah habis, ikan salai yang tinggal seekor pun sudah dimakan kucing!”

Suaranya yang meninggi tak hanya membuat Nuan menatapnya lebih tajam, tapi juga telah membangunkan anak mereka. Lian, gadis kecil itu terbatuk beberapa kali, lalu menangis menjerit-jerit.

“Bukankah kemarin kau pergi menangguk udang ke Dungai?” tanya Nuan kemudian. Ia mencangkung di depan pintu pondok, siap menyalakan rokok daun enau yang sudah dipelintirnya dari tadi.

Sambil menenangkan Lian dalam gendongannya, Gadih berjalan ke dapur dan kembali membawa sesuatu di tangannya.

“Udangnya kujual semua untuk menebus obat Lian. Sudah tiga hari ia batuk kering, dan sekarang badannya pun mulai panas. Aku masih berutang pada bidan Reni.”

Suara Gadih masih belum melunak.

“Kau tak jadi ke rumah Amak? Dia tentu masih menyimpan beras barang seliter, yang bisa kita pinjam.”

“Kenapa tidak Uda saja yang ke rumah Amak? Aku malu selalu minta ini itu pada Amak. Malu sama saudara-saudaraku…”

Gadih membuka botol obat batuk dan menuang cairan kental kekuningan itu ke sendok, yang kemudian ia sorongkan ke mulut Lian.

“Kau selalu banyak alasan!” Kali ini suara Nuan yang membuat Lian terkejut. Terbatuk-batuk, ia kembali menangis.

“Hampir setiap pekan aku ke rumah Amak, meminta beras, kelapa, minyak tanah. Aku tak tahan mendengar mulut-mulut runcing yang membicarakanku, membicarakan keluarga kita!” Gadih masuk ke bilik, mengambil biji buah rumbio, yang ia harap bisa menenangkan Lian.

Rokok daun nipah di bibir Nuan padam tersapu angin pagi yang tiba-tiba datang dari bukit. Ia berjalan ke dapur, menyusun beberapa potong kayu kering di tungku, lalu mulai menyalakan api.

“Dan Uda tahu?” Gadih ternyata masih belum selesai, “Mereka sudah mulai mengungkit-ungkit sepetak ladang keluarga yang kita gadaikan pada Angah Gani.”

“Tak usah pula itu yang kau cemaskan sekarang. Kita akan segera menebus ladang itu kembali,” jawab Nuan yang sudah mengisi ceret dengan air dan menjerangnya di atas tungku.

“Ya, sudah dua tahun ladang itu tergadai. Dan bahkan Angah Gani sudah berani menjual petai yang ada di sana.”

Terdengar nada geram pada suara Gadih.

“Tapi kita bisa apa. Janji hanya setahun, ternyata sampai hari ini kita masih belum bisa melunasi utang pada beliau.”

“Bersabarlah sedikit,” ujar Nuan dengan mulut yang sudah kembali disumpal dengan rokok daun enau.

“Jika aku bisa mengambil sarang-sarang lebah di Lurah Sembilan, kita pasti bisa melunasi utang-utang kita.”

“Uda ingin cari mati?” Bergetar bibir Gadih ketika mengucapkan kata-kata itu.

“Tak seorang pun pencari madu yang kudengar masih berani ke sana.”

Gadih mencelupkan ujung kain gendongan ke dalam ember air, lalu mengusapkannya ke kening Lian.

Gadih memang sudah beberapa kali mendengar tentang sarang-sarang lebah sebesar perut kerbau bunting yang ada di sebatang pohon raksasa di Lurah Sembilan.

Konon, sudah puluhan pencari madu yang mencoba menaklukkan pohon itu, tapi belum satu pun yang berhasil mencapai dahan-dahan tempat kawanan lebah membangun sarang.

Bahkan, pemanjat terbaik yang dibayar Angah Gani untuk mengambil sarang-sarang lebah itu menyerah sebelum ia mencapai cabang pertama.

Kakinya menggigil begitu kembali menginjak tanah, begitu cerita yang dibawa orang-orang. Tidak hanya pohon yang tinggi menjulang saja yang membuat orang-orang gentar, tapi juga bebatuan ngarai yang menunggu mereka di jurang di bawahnya.

“Tuhan menyuruh kita berusaha,” kata Nuan sambil menyusun kayu api ke tengah tungku, “Bukan untuk mencemaskan soal mati!”

Kata-kata hebat seperti itulah yang dulu membuat Gadih jatuh hati pada Nuan. Ah, masa muda yang penuh bunga-bunga, mengapa cepat sekali berlalu.

Rasanya belum lama ketika Nuan datang menemui ayah Gadih dan menyatakan niatnya untuk meminang Gadih setelah tamat SMA.

Pinangan tak biasa itu tentu saja membuat ayahnya heran, tapi demi melihat kesungguhan Nuan serta hubungan baik keluarga mereka yang telah terjalin selama ini, ayah Gadih menyatakan persetujuannya.

Maka, sesuai rencana, begitu Gadih menyelesaikan sekolah, keluarga Nuan pun datang meminang.
Tahun awal pernikahan, bunga-bunga masih bermekaran di antara mereka.

Onak dan kerikil-kerikil kecil dalam rumah tangga mereka masih bisa diselesaikan dengan kelakar dan gelak tawa.

Apalagi ketika Nuan berhasil mendapatkan kepercayaan orang-orang untuk menjadi salah seorang perangkat inti di kantor Wali Nagari. Tak terkira betapa bangganya Gadih pada laki-laki itu.

Namun, Nuan yang terlalu lurus ternyata tak sejalan dengan orang-orang di sana. Ya, itu yang dikatakan orang-orang tentang suaminya itu.

Bahwa Nuan terlalu kaku membaca angka-angka dalam anggaran nagari; Nuan selalu mempertanyakan penggunaan kas nagari; Nuan yang selalu mendebat kebijakan-kebijakan Wali Nagari menyangkut dana bantuan irigasi dan pembuatan jalan; Nuan yang tak bisa sedikit saja berkompromi…

“Wali Nagari jelas mengada-ada. Apa pentingnya membangun jalan semen menuju tepian mandi di sungai sementara jalan kampung masih berlubang-lubang?”

Gadih masih mengingat ketika malam itu Nuan pulang dan langsung meradang. “Ya, kalau saja jalan itu tidak melewati rumah mertuanya, ia tentu tak akan menyetujui pembangunan jalan ke sana.”

Sebelum ia disingkirkan oleh orang-orang di kantor Wali Nagari, Nuan memilih mengundurkan diri, dan sejak saat itu ia telah mencoba rupa-rupa kerja hingga kemudian menyerah dan mengikuti orang-orang di kampung: menjadi pencari madu lebah.

Banyak yang mencibir, tentu saja. Tapi Nuan tak ingin ambil pusing. “Lebih baik kuhidupi keluargaku dengan cucuran keringatku sendiri daripada harus mengecoh orang-orang,” katanya pada Gadih ketika ia mulai belajar menjadi seorang pencari madu.

“Dan Uda tentu tahu apa yang Uda hadapi sebagai pencari madu,” balas Gadih, mencari keyakinan di wajah suaminya.

Ya, sepanjang ingatan Gadih, sudah tak terhitung pencari madu yang jatuh dari pohon dan berakhir dengan kaki patah, lumpuh separuh badan, dan bahkan mati di tempat dengan benak berceceran.

Gadih tentu tak ingin hal serupa menimpa suaminya. Apalagi saat itu ia tengah mengandung Lian.

“Aku tahu, Gadih. Untuk itulah kuminta kau selalu mendoakanku setiap saat,” ucap Nuan mantap untuk kemudian mencium perut Gadih.

Batuk kering Lian membawa Gadih kembali dari kepingan kenangan masa lalu, dan ia mendapati suaminya tengah merogoh kaleng bekas biskuit, mencari-cari sesuatu di dalam sana.

“Cari apa?” tanya Gadih sambil mengambil air untuk Lian. “Kopi?”

“Cari apa lagi?” Tangan Nuan kini beralih ke keranjang bambu di sebelah tungku.

“Kopi habis, gula habis. Bukankah sudah kubilang sejak kemarin?” Gadih menyeka air yang jatuh di sela bibir Lian.

“Dan kau dari tadi membiarkanku menjerang air?”

“Kupikir Uda menjerang air untuk air mandi Lian.”

Nuan mendengus. “Sudahlah. Kau pandai sekali menjawab.” Nuan membuka tempayan dan mendapati sedikit nasi di dalam mangkuk di bawahnya.

“Itu nasi untuk Lian. Sengaja aku sisakan untuknya.” Berkata demikian, Gadih segera berjalan ke sana dan menyambar nasi dalam mangkuk itu.

“Sekepal saja sudah cukup buatku mengganjal perut.” Nuan menyodorkan piring kosong ke muka Gadih.

Gadih memindahkan sedikit isi mangkuk ke piring Nuan. Laki-laki itu kemudian meraih tabung bambu tempat garam, mengambil sejumput isinya, lalu menaburnya ke atas nasi. Minyak tanak yang masih tersisa di wajan juga ia tuangkan ke piringnya.

Hanya dua suapan, nasi itu tandas sudah. Nuan lalu mengambil tas goni yang tergantung di dinding dapur, menyisipkan parang di pinggang, dan begitu badannya telah berada di luar, ia kembali menyalakan rokoknya.

“Ke mana?” Dengan Lian di gendongannya, Gadih menyusul Nuan ke halaman.

“Mau ke mana lagi?” Nuan mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengeluarkan bulatan-bulatan kecil asap dari mulutnya.

“Lurah Sembilan?”

“Mungkin.” Nuan masih membentuk bulatan-bulatan kecil dengan asap rokoknya. “Bukankah tadi kau yang mengingatkanku kalau utang-utang kita sudah harus segera dilunasi?”

“Terserah Uda!” teriak Gadih ketika laki-laki itu mulai melangkah meninggalkan pekarangan pondok.

“Ya, kalau aku tak kembali, kau tentu tahu apa yang terjadi denganku. Seorang pencari madu lebah hanya jatuh sekali, dan ia jatuh ke langit!” Nuan membalas dari sebalik rimbun daun kaduduak tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.

Gadih masuk, membanting pintu. Lian kembali menangis di gendongannya, menjerit-jerit.

Tentu saja ia tak pernah menyangka bahwa itu menjadi pertemuan terakhir mereka. Nuan ditemukan dengan kepala pecah oleh seorang penggetah burung siang itu di bawah pohon sialang tak jauh dari ladang penduduk.

Orang-orang menduga, Nuan menemukan sarang lebah itu secara tak sengaja saat ia berjalan menuju Lurah Sembilan.

Pohon sialang itu tak terlalu tinggi, dan Nuan sudah mengumpulkan beberapa bongkah sarang lebah sebelum ia terjatuh dan kepalanya beradu dengan akar pohon tarab yang tumbuh di sana.

Dan, serupa lebah, orang-orang tak henti mendengungkan tentang lelehan madu yang bercampur dengan darah segar yang keluar dari kepala suaminya.
***
“APA lagi yang Uda tunggu?” ujar Gadih setengah berteriak dari dahan pertama tempat ia melilitkan tali untuk mengikat batang bambu untuk pijakan.

Laki-laki itu menoleh sekilas, lalu membuang sepotong ranting yang tadi dimain-mainkannya ke arah jurang. “Apa kau yakin?”

Gadih menghela napas. “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu!”

“Apa lagi yang harus kulakukan untuk meyakinkanmu, Gadih? Aku dan Hindun sudah tak ada ikatan apa-apa lagi…”

“Justru itu. Aku tak ingin orang-orang menilaiku sebagai penyebab perceraian Uda dengan Hindun. Cukuplah kata-kata runcing tentangku selama ini.”

“Asal kau tahu, Gadih. Jauh sebelum mendiang suamimu datang ke rumahmu, aku sudah lebih dulu menemui ayahmu.”

“Sudahlah. Tak usah membuka cerita lama. Yang berlalu biarlah menjadi bagian dari masa lalu.”

“Jadi?”

“Bukankah semua sudah jelas?” Suara Gadih meninggi. “Ini jalan hidup yang telah kupilih. Selama hutan ini masih ada dan lebah-lebah masih membangun sarang di sini, aku yakin, ini pilihan yang terbaik.”

Gadih melempar pandang ke ujung bukit, seolah sedang mencari rangkaian kata-kata di sana. “Dan Uda tentu bisa mencari perempuan lain yang jauh lebih pantas mendampingi Uda sebagai Wali Nagari.”

“Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu.” Laki-laki itu sepertinya sudah kehabisan kata-kata untuk membujuk Gadih.

Suaranya terdengar bergetar. Ia lalu memutar badan dan mulai melangkah menyusuri jalan setapak di antara pepohonan hutan.

Melihat laki-laki itu pergi dan menghilang di antara rimbun semak, entah kenapa, mata Gadih tiba-tiba basah.

Namun, ia buru-buru menyekanya dengan ujung kain basahan. Dan, begitu ia menengadah, di pangkal dahan di atas sana ia lihat serombongan besar lebah baru saja kembali ke sarangnya.

Gadih pun mulai memanjat. Tentu dengan kesadaran bahwa di atas pohon di hutan ini ia bisa kapan saja jatuh, tidak ke tanah, tapi langsung ke langit. Seperti mendiang suaminya. Seperti para pencari madu lainnya.

Di dahan-dahan pohon sialang, Gadih melihat gurat garis hidup yang akan ia tempuh sendiri sebagai seorang perempuan. Sebagai seorang ibu. Dan ia tak akan pulang dengan tangan kosong. ***

Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatera Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, Hikayat Bujang Jilatang terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul “Di Palung Terdalam Surga” bisa dibaca di Pitu Loka (2019). Bekerja sebagai guru BIPA di Jakarta.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...