Diaspora Flotim: Tiga Instansi Banyak Dikeluhkan Masyarakat

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Tiga instansi di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, mendapatkan banyak keluhan dari masyarakat yang disampaikan melalui media sosial terkait pelayanan publik.

“Analisis percakapan di media sosial Facebook selama 2020 didapati tiga institusi yang paling banyak mendapat sorotan masyarakat,” sebut Simon Lamakadu, warga Diaspora Flores Timur, saat dihubungi, Minggu (20/6/2021).

Simon, sapaannya, menyebutkan ketiga institusi tersebut yakni RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka, Pelabuhan laut Larantuka dan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Warga diaspora asal Flores Timur, NTT, yang juga mantan Ketua Tite Hena Jakarta, Simon Lamakadu, Minggu (20/6/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Mantan Ketua Tite Hena Jakarta ini merincikan, total percakapan untuk RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka ada 2.823 percakapan, Pelabuhan Laut Larantuka ada 819 percakapan dan PDAM ada 117 percakapan.

Ia mengatakan, untuk RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka, kasus yang disampaikan sangat beragam, dari soal pasien tidak tertangani karena keterbatasan peralatan dan tenaga medis serta penanganan jenasah.

“Masyarakat juga mengeluhkan pelayan di rumah sakit pemerintah ini soal sistem pengadaan atau pembelanjaan obat. Juga terkait tenaga kontrak seperti gaji rendah dan tebang pilih penempatan tenaga medis,” ungkapnya.

Selain itu, tambah Simon, juga terkait status RSUD yang turun kelas Type C ke Type D dan pelayanan tenaga medis RSUD yang tidak ramah dan lamban serta perawat tidak berseragam.

Dia menambahkan, masyarakat juga mengeluhkan soal manejemen penerimaan barang yang tidak helpfull, tidak tersedia penginapan atau rumah singgah di sekitar rumah sakit hingga soal tenaga listrik cadangan yang tidak tesedia.

“Untuk Pelabuhan Laut Larantuka, kasus yang disampaikan antara lain soal intimidasi di pelabuhan lokal dan pencurian barang, terutama oleh oknum pedagang,” bebernya.

Manajer sebuah perusahaan teknologi informasi ini mengatakan, masyarakat juga mengeluhkan pelabuhan Larantuka menjadi tempat yang tidak ramah, ada tindakan premanisme dan pemaksaan baik dari buruh maupun sopir.

Lanjutnya, barang bawaan penumpang dibongkat dengan cara yang tidak ramah, ada pungli, harga tiket atau tarif tidak sesuai serta mahalnya ongkos bongkar muat di pelabuhan ini.

“Warga juga mengeluhkan soal penerapan protokol kesehatan penanganan Covid-19 di pelabuhan yang masih sangat minim,” ucapnya.

Sementara itu soal PDAM, jelas Simon, warga mengeluhkan soal air bersih yang jarang mengalir serta pembayaran tagihan rekening air yang tidak sesuai dengan pemakaian.

Wakil Bupati Flores Timur, Agustinus Payong Boli, saat menjenguk pasien di rumah sakit pemerintah ini mengakui rumah sakit ini masih banyak pembenahan, termasuk soal fasilitas dan pelayanan.

Agus, sapaannya, menyebutkan rumah sakit ini belum menyandang status Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) karena pendapatan yang diterimanya masih sangat kecil, sehingga masih membutuhkan dukungan dana dari APBD Flotim.

“Memang masih banyak yang harus dibenahi terkait fasilitas dan pelayanannya. Kita akan terus meningkatkannya agar statusnya bisa menjadi BLUD,” ucapnya.

Lihat juga...