Digitalisasi Jadi Peluang Tingkatkan Ekspor Produk UMKM

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) menargetkan kontribusi ekspor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di angka 21,6 persen. Untuk mewujudkannya diharapkan pelaku UMKM dapat memanfaatkan digitalisasi platform e-commerce.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop UKM), Teten Masduki mengatakan, digitalisasi menjadi peluang ekspor produk UMKM ke pasar dunia.

Tercatat data digitalisasi mencatat 12,1 juta UMKM yang sudah terhubung dengan ekosistem digital atau 19 persen dari total 64 juta populasi UMKM.

“Saat ini, UMKM yang gabung ekosistem digital baru 12,1 juta. Padahal digitalisasi itu bisa jadi peluang ekspor produk UMKM ke pasar global,” ujar Teten, ujar Teten, berdasar rilis yang diterima Cendana News, Selasa (8/6/2021).

Diakui Teten, ekspor nasional terus membaik. Tercatat pada Maret 2021 nilai ekspor US$ 4.286,5 atau naik 30,47 persen year on year (yoy) dibandingkan Maret tahun 2020.

Kenaikan ekspor tersebut, terinci sektor non-migas menyumbang 95,06 persen dari total ekspor ke tiga negara tujuan ekspor utama. Yaitu, Tiongkok 21,36 persen, Amerika Serikat (AS) 11,86 persen, dan Jepang sebanyak 7,91 persen.

Namun sayangnya kata Teten, ekspor produk UMKM Indonesia masih sangat rendah. “Ekspor UMKM kita masih di angka 14 persen, jauh tertinggal dari negara Tiongkok sebesar 60 persen, Singapura 14 persen, dan Thailand 29 persen,” urainya.

Tahun 2024, kata dia, Kemenkop UKM menargetkan kontribusi ekspor UMKM dapat meningkat menjadi 21,6 persen.

Untuk memperluas ekspor tersebut, maka digitalisasi platform e-commerce harus dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020 menunjukkan hanya 4,68 persen usaha e-commerce melakukan ekspor. Dimana sebesar 54,01 persennya adalah usaha di sektor perdagangan besar dan eceran bukan sektor produktif.

World Bank 2021 menyebutkan 80 persen UMKM yang terhubung ke dalam ekosistem digital memiliki daya tahan lebih baik di mana 74,1 persen. Di antaranya,  mengandalkan e-commerce dengan profil usaha 51 persen adalah reseller dan produsen baru mencapai 11 persen.

Bahkan kata Teten,  Asosiasi e-commerce Indonesia (IdEA) pun mencatat selama pandemi terjadi kenaikan penjualan pada platform e-commerce sebesar 25 persen

Hal ini menandakan pelaku UMKM telah keluar dari zona nyaman dan beradaptasi untuk bertahan.

Maka itu, menurutnya, transformasi digital menjadi agenda utama pemerintah, untuk mendorong ekspor produk UMKM.

“Digitalisasi memegang peranan penting dalam percepatan pemulihan ekonomi dan mendorong UMKM Indonesia semakin kuat dan berdaya di pasar global,” ujarnya.

Adapun menurutnya,  pendekatan untuk mendorong UMKM go-digital dengan peningkatan literasi digital, kapasitas dan kualitas usaha.

Yakni melalui memperluas pasar dan proses bisnisnya, penguatan database, peningkatan kualitas SDM, dan pengembangan kawasan terpadu UMKM.

Selanjutnya adalah perluasan pasar digital, on-boarding platform pengadaan barang dan jasa, live shopping, dan sistem informasi ekspor UMKM.

“Strategi utama mendorong ekspor UMKM, yaitu penguatan database, peningkatan kualitas SDM dan produk, kemudahan pembiayaan, serta pemasaran,” pungkasnya.

Lihat juga...