Diminati Pembeli, KWT Tanah Terjanji Fokus Budidaya Sayuran Organik

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Kelompok Wanita Tani (KWT) Tanah Terjanji di Bolawolon, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) membudidayakan aneka tanamana hortikultura, seperti sayuran dan buah-buahan organik.

“Semua sayuran dan buah-buahan seperti pepaya dan pisang semuanya ditanam secara organik tanpa menggunakan pupuk atau pestisida kimia,” kata Ketua KWT Tanah Terjanji, Adelina Dhejo saat ditemui di desanya, Selasa (1/6/2021).

Ketua KWT Tanah Terjanji Bolawolon, Adelina Dhejo saat ditemui di desanya, Selasa (1/6/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Adel sapaannya, menyebutkan, memang terasa berat menanam sayuran organik karena sering terserang hama namun pihaknya mendapatkan pendampingan dari LSM Caritas Kesukupan Maumere.

Menurutnya, banyak pembeli tertarik dengan sayuran organik yang dijual secara online dengan harga jual yang murah dan hampir sama dengan sayuran yang menggunakan bahan kimia dalam penanamannya.

“Kami mendapat support dari Caritas Keuskupan Maumere sehingga tetap semangat menanam sayuran organik. Meski sedikit lebih sulit karena sering tanaman terserang hama terutama di daunnya,” ucapnya.

Sementara itu, staf Caritas Keuskupan Maumere, Komisi Pemberdayaan Sosial Ekonomi, Program Ketahanan Pangan, Matheus Manu mengatakan tujuan pendampingan di kelompok tani untuk meningkatkan ekonomi masyarakat.

Matheus mengatakan, menanam sayuran organik supaya masyarakat lebih menyatu dengan alam dan menjaga kelestarian lingkungan karena dunia sudah semakin  tua.

“Tanah sudah mulai tandus sehingga menanam sayuran organik dapat mengembalikan unsur hara dalam tanah,” ujarnya.

Matheus menyebutkan, untuk mengantisipasi ibu-ibu memproduksi sayuran yang banyak pihaknya bekerja sama dengan PT. Langit Laut Biru untuk menampung sayuran dari kelompok tani.

Sementara itu Elisia Digma, warga Bolawolon, mengakui ikut memasarkan produk pertanian organik dari kelompok wanita tani ini termasuk secara online dan pembelinya pun banyak.

Elis sapaanya mengaku, berusaha padukan kopi mokblek miliknya dan sayuran organik milik kelompok tani untuk dijual dan selalu dipesan pembeli untuk diantar ke rumah mereka.

“Pembeli menyukai produk sayuran organik produksi kelompok tani ini dan lebih banyak meminta agar pesanan mereka diantar ke rumah,” ucapnya.

Elis melihat potensi kelompok tani beranggotakan ibu-ibu ini semangatnya bagus namun terkendala pemasaran sehingga ia pun tergerak membantu penjualannya.

Ia mengatakan anggota kelompok memiliki semangat untuk maju dan setiap anggota memiliki kebun di rumah sendiri juga walaupun memiliki kebun bersama.

Menurutnya, butuh orang-orang yang bisa memotivasi kelompok ini, sebab ketika mereka menanam dan kesulitan menjual maka cepat putus asa.

“Perlu ada orang yang memotivasi mereka dan memberi jalan untuk memasarkan produknya. Teruslah menanam karena suatu saat akan ada yang membelinya karena setiap perjuangan pasti membuahkan hasil,” pesannya.

Lihat juga...