Diversifikasi Produk, Strategi Memperluas Pemasaran

Editor: Maha Deva

 LAMPUNG – Samsul Maarif, pelaku jual beli komoditas pertanian di Lampung mengaku mengalami kerugian belasan juta akibat anjloknya harga pisang mentah di pasar tradisional Banten. Membanjirkan pasokan pisang, membuat banyak yang tidak laku bahkan sebagian busuk.

Membanjirnya produk pisang di pasar, membuat harga pisang termahal jenis raja nangka, yang semula dijual Rp5.000 perkilogram, anjlok menjadi Rp2.000 perkilogram. Sementara, untuk mengirim pisang ke Banten, Samsul Maarif, butuh biaya Rp2juta untuk sekali kirim, dengan jumlah kiriman 5 ton pisang. Agar hasil panen tetap laku, minimal dapat menutup biaya produksi, Samsul, memutar haluan, menjual pisang mentah dengan mencari pelanggan baru produsen keripik dan pisang goreng.

Menghadapi kondisi pasar, Samsul, berbisnis pisang dengan skala kecil ke pasar lokal di Lampung, khusus pisang jenis tertentu. Pisang raja nangka, kepok, tanduk, yang bisa diolah menjadi keripik saat mentah dan pisang goreng crispy saat matang. “Dilema pelaku usaha bisnis jual beli pisang, jika berhenti total modal tidak kembali, solusinya mencari usaha kecil yang tetap produksi makanan ringan namun kontinyu, agar hasil pertanian tetap laku terjual minimal sepekan sekali untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi,” terang Samsul, saat ditemui Cendana News, Selasa (15/6/2021).
Tren munculnya kafe kekinian, dengan konsep warung kopi, ikut mendorong permintaan pisang. Ia memasok sejumlah pisang jenis tanduk matang, yang dipakai untuk bahan olahan pisang tanduk crispy, yang dijajakan oleh kafe kekinian. Meski permintaan hanya mencapai puluhan tandan perpekan, namun sejumlah warung rutin meminta pasokan. Peluang memasok pembuat keripik tersebut dipenuhinya, agar roda usaha tetap bergulir.

Riska Pyana, mengolah pisang menjadi keripik berbagai varian rasa di Desa Kekiling, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan untuk meningkatkan nilai jual dengan kemasan menarik, Selasa (15/6/2021) – Foto Henk Widi
Meski tidak menjual pisang dalam skala besar, namun usaha Samsul tetap bisa bertahan untuk meminimalisir risiko daganganya tidak terjual. “Sebagian pisang sebagian membusuk di lokasi pengepulan imbas tidak terjual, tapi kini bisa memiliki pelanggan untuk diolah jadi produk makanan ringan,”ulasnya.
Hanya melayani pesanan dari produsen keripik, juga menjadi pilihan Surahman, pedagang lainnya. Ia mendapat pesanan dari sejumlah toko penjualan oleh-oleh di sepanjang Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) dan pelabuhan Bakauheni. Ia menjual pisang jenis kepok dengan sistem tandan, dengan harga Rp30.000. Keuntungan yang diperoleh sekira Rp10.000 dari setiap tandan yang dibeli dari petani. “Daripada menjual ke pengepul untuk dijual kembali ke Banten, lebih baik saya jual ke produsen keripik,” ulasnya.
Riska Pyana, produsen keripik pisang asal Desa Kekiling, Kecamatan Penengahan membuat keripik berbagai varian. Ia menyebut, harga pisang pada level petani sedang anjlok. Namun, kreativitas pengolahan pisang menjadi produk keripik berbagak rasa, dengan kemasan menarik, menjadi cara meningkatkan harga jual produk pisang. “Sejumlah produk keripik bisa dititipkan pada warung, dijual secara online melalui media sosial agar pasar lebih luas,”ulasnya.
Produk pisang yang diolah menjadi keripik hasil usaha mikro kecil menengah (UMKM) juga dipasarkan di gerai Dekranasda Lamsel di Bakauheni. Suhairul, pengelola gerai menyebut, pisang yang banyak dihasilkan petani sebagian diolah menjadi keripik, sale dengan kemasan menarik. Lokasi strategis di terminal eksekutif menjadi pusat penjualan oleh oleh makanan ringan.
Lihat juga...