Gula Merah dari Bakauheni Penuhi Kebutuhan Pabrik

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Produk gula kelapa atau gula merah di Lampung Selatan, selama ini dipasarkan hingga luar daerah. Para perajin gula merah membuatnya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, maupun kebutuhan pabrik kecap.

Suyidno, salah satu produsen gula kelapa di Desa/Kecamatan Bakauheni, menyebut peluang pasar usaha kecil pembuatan gula terbuka lebar. Ia memilih spesifikasi pembuatan gula merah untuk pasokan pabrik kecap. Berbeda dengan gula kelapa konsumsi rumah tangga ukuran kecil, gula buatannya lebih besar.

“Gula ukuran besar untuk memenuhi permintaan produsen kecap di wilayah Banten dan Tangerang. Proses pembuatan persis sama dengan gula kelapa pada umumnya,”  terang Suyidno, saat ditemui Cendana News, Selasa (8/6/2021).

Setiap hari, Suyidno menderes 70 pohon kelapa hijau hibrida milik warga yang disewanya. Setiap pohon disewa Rp100.000 selama satu tahun, hanya untuk diambil air nira bahan gula kelapa.

Suyidno, produsen gula merah melakukan pengolahan air nira menjadi gula dengan perebusan sebelum pencetakan di Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (8/6/2021). -Foto: Henk Widi

Suyidno menyebut, setiap hari ia bisa mendapatkan 6 jerigen air nira kelapa. Waktu pemanjatan pohon kelapa memasang jerigen kosong, dan mengambil jerigen berisi nira dilalukan pagi hari. Butuh waktu dua hari agar ia bisa memenuhi tiga belanga atau wajan besar perebusan air nira. Sebanyak 12 jerigen air nira kelapa yang telah direbus, selanjutnya dibuat seperti dodol.

“Air nira yang semula disebut lahang berwarna putih bening, setelah direbus berubah warna merah kecoklatan, agar tidak meletup-letup saat perebusan, diletakkan bunga kelapa dalam belanga hingga air lahang berubah menjadi cairan seperti dodol yang siap dicetak,” kata terang Suyidno.

Suyidno menjelaskan, proses perebusan membutuhkan waktu sejak pagi hingga sore. Dari 12 jerigen air nira yang dimasak, ia mampu mencetak 55 kilogram gula kelapa. Pencetakan memakai baskom ukuran sedang memenuhi kuota permintaan pengepul rata-rata 250 kilogram per pekan. Setiap pekan, pengepul akan mengambil sekaligus membayar gula merah yang diproduksinya.

Sebanyak 55 kilogram gula merah itu memberinya hasil Rp825.000, dengan harga Rp15.000 per kilogram. Bersama Darsih, sang istri, produksi gula kelapa dilakukan olehnya setiap hari untuk memenuhi permintaan pelanggan. Dalam sebulan, jika rata-rata per pekan omzet mencapai Rp825.000, ia bisa mendapat hasil Rp3,3juta per bulan. Hasil penjualan gula kelapa digunakan untuk biaya operasional.

“Biaya operasional yang dikeluarkan untuk pembuatan gula kelapa meliputi kayu bakar, jerigen, alat pencetak dan pengangkutan,” terang Suyidno.

Kayu bakar dibeli seharga Rp350.000 dari tempat penggergajian kayu. Beberapa alat produksi yang harus diganti setiap enam bulan berupa baskom pencetak dan jerigen penampung air nira. Ia juga menyebut sejumlah lokasi pohon kelapa yang disewa berjarak sekitar satu kilometer, sehingga butuh pengangkutan dengan motor. Sebulan ia mengaku masih bisa mendapat keuntungan bersih hingga Rp1,5juta.

Produksi gula merah milik Misyanti dan Yatno di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas, juga mampu tembus pasar luar daerah. Misyanti dan sang suami memilih memproduksi gula merah ukuran kecil untuk konsumsi rumah tangga. Sebagai bahan bumbu gula merah hasil sadapan nira kelapa miliknya dicetak dua hari sekali. Sekali proses pencetakan, dari sekitar 50 batang kelapa ia menghasilkan 15 kilogram gula kelapa.

“Pengiriman dilakukan setiap pekan dengan jumlah rata-rata 50 kilogram ke wilayah Cilegon, Banten,” terang Misyanti.

Misyanti mengaku, setiap pekan bisa mendapat hasil Rp750.000. Pengiriman bisa rutin dilakukan setiap saat, karena sang anak kerap mengirim kelapa butir, sayuran ke pasar Cilegon, Banten. Ia juga menyebut tidak melakukan sewa pohon kelapa. Sebab, sebagian besar pohon yang dideres merupakan tanaman milik keluarganya. Menekuni usaha pembuatan gula kelapa menjadi sumber penghasilan keluarga sejak belasan tahun silam.

Misyanti menyebut, selain melayani permintaan gula kelapa untuk luar daerah, ia tetap memenuhi permintaan pasar lokal. Sejumlah pedagang keliling, pedagang pasar di wilayah Lampung Selatan kerap memesan 25 kilogram untuk penjualan sepekan. Selain pedagang pasar, sejumlah pemilik warung membeli gula kelapa buatannya untuk dijual kembali dengan sistem eceran.

Lihat juga...