Harga Jual Pisang Anjlok hingga 50 Persen

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Berkurangnya daya beli masyarakat, ikut berdampak pada petani pisang di Lampung Selatan. Hal ini masih ditambah dengan melimpahnya hasil panen pisang dari sejumlah daerah lain, sehingga harga jual pisang makin terpukul.

Samsul Maarif, petani sekaligus pelaku usaha jual beli pisang, menyebut harga pisang anjlok. Petani di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan itu menyebutkan anjloknya pisang dipengaruhi faktor melimpahnya hasil panen dan sepinya permintaan.

Samsul Maarif bahkan mengaku terpaksa membiarkan sebagian pisang matang di pohon. Jenis pisang yang dibiarkan matang dipohon meliputi pisang muli atau susu, janten, sereh dan ambon. Jenis pisang tersebut memiliki harga jual berkisar Rp1.000 per kilogram saat kondisi normal. Namun, kini harga anjlok menjadi Rp500 per kilogram.

Namun, Samsul Maarif masih mempertahankan jenis pisang bernilai jual tinggi. Di antaranya kepok, raja nangka, tanduk, barangan, raja dan pisang cavendish. Beberapa jenis pisang tersebut dijual dengan harga mulai Rp2.500 per kilogram. Harga tersebut lebih murah dibandingkan sebelumnya yang mencapai Rp5.000 per kilogram.

Samsul Maarif, petani pisang di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, tetap memanen pisang miliknya meski harga anjlok untuk dikirim ke Banten, Senin (7/6/2021). -Foto: Henk Widi

“Pelanggan tetap saya ada di Banten dan Jakarta merupakan pelapak pada pasar, untuk memasok sejumlah usaha gorengan, usaha warung makan. Namun, pisang asal Lampung bersaing dengan pasokan asal Jawa Barat yang melimpah, sehingga persaingan harga tidak terhindarkan,” terang Samsul Maarif, saat ditemui Cendana News, Senin (7/6/2021).

Selain faktor melimpahnya hasil panen dan pasokan dari wilayah lain yang membanjiri pasar, Samsul Maarif juga mengatakan faktor serapan pasar ikut mendorong anjloknya harga. Pada kondisi normal, sejumlah pedagang gorengan menjadi penyerap utama produk pertanian pisang. Namun sejak pandemi Covid-19, sebagian kantor perusahaan yang menerapkan work from home (WFH) ikut mengurangi permintaan pisang.

Dilema tersebut juga dialami oleh para pengepul. Sejumlah pisang yang terlanjur matang di lokasi pengepulan terpaksa tidak dikirim. Sekali proses pengiriman, ia bisa memasok 4 hingga 5 ton pisang. Mengirim sebanyak 4 ton dengan rata-rata harga Rp2.000 per kilogram, ia hanya mendapat Rp8juta.

“Sebelumnya, saat rata-rata harga mencapai Rp5.000 bisa mendapat hasil sekitar Rp10juta, sekarang berkurang,” ulasnya.

Secara matematis, katanya, hasil yang diperoleh terlihat banyak. Namun setelah diperhitungkan dengan biaya perawatan, pemupukan, pemanenan hingga distribusi, ia hanya mendapat keuntungan terbatas. Keuntungan yang diperoleh, bisa mencapai Rp1juta dari semula bisa mencapai Rp3juta. Keuntungan tersebut belum sebanding dengan biaya operasional dan tenaga yang dikeluarkan.

Sanusi, petani pisang di Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, juga mengalami hal yang sama. Ia semula bisa menjual 100 tandan pisang berbagai jenis pada satu siklus panen. Jika dirata-rata satu tandan menghasilkan 10 kilogram, ia bisa mendapat hasil panen 1 ton. Paling dominan ia menanam jenis pisang janten, muli dan kepok. Semula dengan harga Rp3.000 per kilogram, ia bisa mendapat hasil Rp3juta.

“Kini, imbas harga alami penurunan maksimal bisa mendapat hasil Rp2juta di atas kertas, karena biasanya uang tidak langsung diberikan pembeli,” cetusnya.

Pembeli komoditas pisang, sebutnya, akan memberikan nota hasil pembelian pisang. Umumnya, ia hanya menerima pembayaran setengah dari total hasil penjualan. Sisanya akan dilunasi saat pisang telah dijual ke pelapak di Jakarta dan Banten. Pelaku jual beli pisang juga akan menerima pembayaran separuh dari pisang yang dikirim. Pelunasan akan dilakukan pada pengiriman tahap berikutnya.

Sebagian buah pisang pada tandan, dibiarkan matang. Ia bahkan kerap memberikan pisang yang matang kepada tetangga dan kerabat. Sebagian pisang yang matang di pohon kerap hanya dibiarkan untuk pakan burung dan kelelawar. Anjloknya harga pisang disiasati olehnya dengan menanam komoditas pertanian lain. Tanaman jagung dan kelapa, menjadi sumber penghasilan saat harga pisang anjlok.

Sahbudin, pedagang pisang matang di pasar Bakauheni, Lampung Selatan, menyebut pasar sedang kebanjiran pasokan. Jenis pisang yang rutin dibeli oleh pelanggan tetap dominan jenis kepok, janten, tanduk untuk digoreng. Sebagian pisang dijual untuk buah segar seperti ambon, muli dan barangan. Ia menjual pisang persisir dengan harga Rp8.000 hingga Rp10.000 sesuai jenis pisang.

Penurunan harga pisang pada tingkat petani, sebut Sahbudin, ikut menurunkan harga pada level pedagang. Menyiasati agar buah tidak membusuk, ia kerap menjual pisang dengan harga murah. Prinsipnya tetap bisa mengembalikan modal pembelian dari pengepul. Tanpa menjual murah,  stok melimpah bisa berimbas buah membusuk di lapak dan ia mengalami kerugian.

Lihat juga...