Indeks S&P 500 Ditutup di Rekor Tertinggi, Wall Street Menguat

Wall Street - foto Ant 
NEW YORK – Saham-saham di Wall Street, terpantau menguat pada akhir perdagangan Kamis (10/6/2021) waktu Amerika Serikat (AS) atau Jumat (11/6/2021) pagi WIB. Indeks S&P 500, terpantau ditutup di atas rekor tertinggi sebelumnya, yang dicapai pada 7 Mei lalu.
Data ekonomi, tampaknya mendukung pernyataan Federal Reserve (FED), bahwa gelombang peningkatan inflasi saat ini akan bersifat sementara. Ketiga indeks utama saham AS menguat, dengan saham-saham megacaps terkemuka di pasar, menempatkan Nasdaq di depan. Tetapi transportasi dan smallcaps yang sensitif secara ekonomi mengakhiri sesi di wilayah negatif.

Indeks Dow Jones Industrial Average terangkat 19,10 poin atau 0,06 persen, menjadi menetap di 34.466,24 poin. Indeks S&P 500 bertambah 19,63 poin atau 0,47 persen, menjadi ditutup pada 4.239,18 poin. Sementara indeks Komposit Nasdaq terdongkrak 108,58 poin atau 0,78 persen, menjadi berakhir di 14.020,33 poin.

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau, dengan sektor perawatan kesehatan meningkat 1,69 persen, memimpin keuntungan. Sementara itu, sektor keuangan tergelincir 1,12 persen, menjadikannya kelompok dengan kinerja terburuk. Data indeks harga konsumen (IHK) Departemen Tenaga Kerja AS datang di atas konsensus dan menambah perdebatan tentang, apakah lonjakan harga-harga saat ini dapat berubah menjadi inflasi jangka panjang, meskipun ada jaminan Fed bahwa inflasi bersifat sementara.

Tetapi pengamatan lebih dekat menunjukkan, sebagian besar lonjakan harga-harga berasal dari barang-barang seperti komoditas dan tiket pesawat, dan oleh karena itu cenderung bersifat sementara. “Awal minggu ini kami mengalami hari-hari pasar yang sangat membosankan karena kami semua memperhatikan laporan IHK ini,” kata Ryan Detrick, ahli strategi pasar senior di LPL Financial di Charlotte, North Carolina.

“Tetapi, begitu orang melihat ke bawah permukaan, sebagian besar inflasi yang lebih tinggi disebabkan oleh pembukaan kembali, dan saham mengalami reli yang melegakan. Pasar menerimanya dengan tenang karena menyadari seluruh ekonomi tidak terlalu panas,” tambah Detrick.

Lihat juga...