Ini ‘Srikandi’ Guru Besar Undip Terbaru

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Universitas Diponegoro (Undip) Semarang kembali menambah guru besar baru. Menariknya, dari 12 profesor yang dikukuhkan pada bulan Juni 2021, empat diantaranya perempuan.

Mereka yakni Prof. Dr. Ir. Atik Suprapti, MTA dan Prof. Nita Aryanti, ST.,MT.,Ph.D, keduanya dari Fakultas Teknik (FT), Prof. Dr. Hj. Indira Januarti, SE., M.Si dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB), serta Prof. Dian Ratna Sawitri,S.Psi.,M.Si.,Ph.D dari Fakultas Psikologi.

Prof. Dian Ratna Sawitri dari Fakultas Psikologi Undip, saat memaparkan materi pengukuhan guru besar, di sela temu media secara daring dari kampus Undip Tembalang, Semarang, Kamis (3/6/2021). Foto: Arixc Ardana

Sebelumnya, pada bulan Mei 2021 lalu, Undip juga mengukuhkan sembilan guru besar baru, dengan empat diantaranya perempuan yakni, Prof. Dr. Dra. Meiny Suzery, M.S, Prof. Dr. Dra. Endah Dwi Hastuti, M.Si, Prof. Dr. Dra. Dwi Hudiyanti, M.Sc, dan Prof. Dr. Dra. Sunarsih, M.Si. (FSM).

Keempatnya merupakan guru besar dari Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Undip.

“Dengan dikukuhkannya 21 guru besar baru, mulai dari akhir Mei 2021 lalu hingga pertengahan Juni 2021 mendatang, jumlah guru besar aktif di kampus Undip berjumlah 155 profesor,” papar Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama, di sela temu media terkait pengukuhan guru besar, yang digelar secara daring dari kampus Undip Tembalang, Semarang, Kamis (3/6/2021).

Pihaknya pun mengapresiasi dari 21 guru besar baru tersebut, terdapat delapan perempuan yang dikukuhkan sebagai profesor.

“Ini tentu capaian yang luar biasa untuk kami. Ini juga membuktikan bahwa Undip juga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para dosen kami, untuk mencapai guru besar, tanpa memandang gender atau jenis kelamin. Seluruhnya kita dukung agar mampu meraih guru besar,” terangnya.

Bentuk dukungan tersebut, selain pemberian beasiswa S3 (doktoral) bagi para dosen Undip, pihaknya juga mendorong program OPOC (One Professor One Candidate).

Melalui kebijakan tersebut, setiap satu profesor atau guru besar di Undip, harus mendampingi dan membimbing satu orang dosen atau calon profesor, sehingga berhasil meraih gelar guru besar.

Sementara, Prof. Dr. Ir. Atik Suprapti memaparkan, dalam pengukuhan guru besar yang akan dilakukan, Jumat (4/6/2021) besok di kampus Undip Tembalang Semarang, dirinya akan menyampaikan orasi ilmiah berjudul ‘Pendekatan Digital – Warisan Hidup (Living Heritage), Menuju Keberlanjutan Arsitektur & Kota Islam di Pesisir Utara Jawa’.

“Tujuan penulisan naskah ilmiah ini, untuk memberikan pandangan mengenai pentingnya menjaga keberlanjutan warisan budaya melalui pendekatan warisan hidup (living heritage) dipadukan dengan pendekatan digital,” paparnya.

Dipaparkan, penelitian tersebut diharapkan menjadi jembatan antar waktu, masa lalu masa kini serta masa yang akan datang. Sekaligus jembatan antar ilmu pengetahuan tradisional dan digital, sekaligus menjembatani antara keilmuan arsitektur dan perkotaan dalam pelestarian warisan warisan budaya.

“Dengan implementasi hasil-hasil penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada akan memberikan kemanfaatan khususnya bagi pelestarian kawasan warisan budaya, agar bisa mendatangkan nilai tambah bagi masyarakat secara luas,” tandasnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukannya, dapat diambil kesimpulan bahwa keberlanjutan permukiman di Pesisir Utara Jawa meliputi aspek konfigurasi yaitu pola tata ruang kota Islam Jawa yang didasarkan pada pandangan kosmologi dengan sakralitas masjid, makam dan ruang berbarakah.

“Kemudian aspek kohesi sosial, yang meliputi peran masjid, kiai-santri. Contohnya, kampung Kauman yang merupakan perwujudan ruang untuk syiar, serta ruang berpolitik. Selanjutnya, berdasarkan aspek aktivitas ekonomi yang mengarah pada ekonomi kreatif dan diwadahi dalam pasar dan alun-alun,” pungkasnya.

Lihat juga...