Inovasi Jadi Kunci Pabrik Genteng Milik Hanan Tetap Bertahan

Editor: Makmun Hidayat

MAJALENGKA — Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat selama ini dikenal sebagai kawasan penghasil genteng tanah liat berkualitas tinggi yang tersohor hingga ke seluruh wilayah Indonesia. 

Pada periode kejayaannya sekitar tahun 80-90an, ratusan pabrik genteng berdiri menjamur di Jatiwangi dan sekitarnya. Hingga membuat produk genteng kawasan ini tersebar bahkan hingga ke mancanegara.

Sayangnya seiring perkembangan zaman, kepopuleran produk genteng Jatiwangi kini seolah semakin memudar. Jumlah pabrik genteng di kawasan ini pun terus menyusut. Hanya beberapa pabrik saja yang masih bertahan hingga sekarang.

Dari sekian banyak pabrik tersebut, satu yang masih bertahan hingga kini adalah pabrik genteng milik H. Hanan Abdulrahman. Terletak di sebelah utara Jatiwangi, tepatnya Desa Salawana, Dawuan, Majalengka, pabrik ini beroperasi setiap harinya.

H. Hanan Abdulrahman menunjukkan genteng setengah jadi hasil produksinya, Rabu (16/6/2021). -Foto: Jatmika H. Kusmargana

Menempati areal seluas 1,5 hektare, pabrik dengan 5 tungku pembakaran di 3 lokasi berbeda ini rata-rata mampu memproduksi genteng sebanyak 20 ribu unit per hari. Pabrik yang berdiri sejak tahun 1994 ini pun rutin menyetor produk gentengnya hingga ke sejumlah daerah di Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

“Awalnya dulu saya hanya jadi supplier. Menjual genteng yang dihasilkan warga untuk dipasok ke sektor industri. Setelah mengenal seluk-beluknya, saya kemudian memberanikan diri membuat pabrik sendiri,” katanya kepada Cendana News belum lama ini.

Hanan menyebut kunci yang membuat pabrik gentengnya masih bisa tetap eksis dan bertahan hingga saat ini adalah inovasi serta pengembangan produk yang terus ia lakukan. Ia mengaku selama ini tak pernah berhenti meningkatkan kualitas produk agar mampu memenuhi permintaan pasar serta mengikuti perkembangan zaman.

“Di sini bahan baku berkualitas memang melimpah. Tapi jika kita hanya memproduksi genteng secara tradisional, tanpa melakukan inovasi tentu akan tertinggal dan tidak bisa berkembang. Karena itu kita harus terus belajar belajar dan belajar,” ungkap lelaki yang hanya lulusan sekolah setingkat SD ini.

Memproduksi sejumlah jenis genteng seperti Morando, Blentong serta Wuwung, H. Hanan mengklaim produk genteng yang dihasilkannya memiliki kelebihan yang tidak dimiliki produk lainnya. Selain memiliki ketebalan hingga 1 cm, produk gentengnya juga dibuat dari campuran 4-5 jenis bahan baku berbeda. Sehingga membuatnya begitu kuat dan tahan lama.

“Saya rutin kirim produk genteng ini sampai ke Pati hingga Surabaya. Omzetnya saat ini mencapai sekitar Rp8juta per hari. Saya yakin industri genteng seperti ini akan bisa terus berkembang pesat. Karena kebutuhan genteng akan terus selalu ada,” ungkap Hanan yang kini sudah menyerahkan pengelolaan pabriknya itu kepada anaknya.

Lihat juga...