Investasi Jangka Panjang, Petani Lamsel Pertahankan Tanaman Sawit

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Sebagian petani sawit di Lampung Selatan (Lamsel) memilih menebang tanaman imbas produktivitas menurun. Selain produksi menurun harga yang anjlok jadi penyebab perombakan tanaman sawit.

Namun sebagian petani tetap menjadikan tanaman sawit sebagai investasi jangka panjang. Marjuki, petani sawit menyebut mempertahankan tanaman untuk mendapat hasil setiap bulan.

Satu hektare kebun sawit dengan tanaman mencapai 136 pokok dengan jarak 9 meter. Saat hasil bagus ia bisa mendapatkan hasil panen maksimal sebanyak 2000 kilogram tandan buah segar (TBS) sawit.

Ia menyebut pernah mendapat hasil sebanyak Rp4 juta dengan harga Rp2.000 per kilogram. Namun saat harga anjlok jadi Rp1.900 dan hasil hanya 1,5 ton ia mendapat uang Rp2,8 juta.

Marjuki bilang sebagian petani merombak tanaman kelapa sawit yang telah berusia puluhan tahun. Petani di Desa Gandri, Kecatamatan Penengahan itu menyebut alih alih ikut merombak ia memperbanyak pupuk.

Pupuk jenis urea, NPK dan tambahan pupuk kompos membantu peningkatan produksi TBS. Bisa dipanen setiap setengah bulan, ia mengaku sejak awal Juni harga TBS hanya berkisar Rp1.600 per kilogram.

“Sawit masih jadi komoditas perkebunan yang menjanjikan karena sekali tanam selanjutnya tinggal proses perawatan dengan pemangkasan daun, pembersihan lahan, pemberian pupuk sehingga bisa menghasilkan secara ekonomis hingga jangka panjang,” terang Marjuki saat ditemui Cendana News, Senin (7/6/2021).

Marjuki menyebut pada panen tengah semester tahun ini ia hanya mendapat hasil sebanyak 1.800 kilogram.

Harga TBS sebutnya berkisar Rp1.600 sehingga ia bisa mendapat hasil Rp2,8 juta. Hasil penjualan TBS sebutnya digunakan untuk kebutuhan harian. Mempertahankan tanaman kelapa sawit sebutnya bisa dipergunakan sebagai tabungan untuk kebutuhan biaya pendidikan sang anak.

Menjaga tanaman sawit dilakukan oleh Harjanto, petani di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang. Lahan perkebunan sawit sebutnya berada pada bekas rawa gambut dengan sebanyak 68 tanaman usia delapan tahun.

Ia menyebut mempertahankan tanaman sawit untuk bisa mendapatkan hasil jangka panjang. Memiliki lahan sawit seluas setengah hektare ia masih bisa mendapat hasil panen sebanyak 1 ton. Meski harga hanya mencapai Rp1.600 ia masih bisa mendapat Rp1,6 juta saat panen.

“Hasil panen TBS sawit masih cukup menjanjikan karena proses panen bisa dilakukan setiap setengah bulan,” bebernya.

Ia menyebut harga TBS sawit mencapai Rp1.600 lebih rendah dibanding semester sebelumnya. Sebelumnya ia menjual TBS sawit sebesar Rp1.900 dan mengalami penurunan sebesar Rp300 per kilogram.

Penurunan TBS sawit sebutnya dipengaruhi oleh penurunan harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil. Penurunan harga CPO tersebut berimbas pada harga TBS sawit yang anjlok pada level petani.

Ia mempertahankan tanaman kelapa sawit miliknya sebagai tanaman sampingan. Sebagai tanaman utama, ia masih tetap menanam padi dekat lahan perkebunan sawit miliknya.

Proses perawatan tanaman sawit yang lebih mudah sebutnya menjadikan ia tetap menjaga tanaman bahan minyak goreng tersebut. Ia juga hanya melakukan proses pemanenan TBS sawit karena pengepul akan mengambil hasil panen sekaligus menimbangnya.

Nizar, pengepul sawit asal Natar menyebut mulai sulit mendapatkan pasokan TBS sawit. Berkurangnya jumlah petani yang menanam sawit membuat ia kesulitan mendapat kuota.

Nizar, pengepul tandan buah segar sawit mencatat hasil timbangan panen milik Harjanto di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Senin (7/6/2021) – Foto: Henk Widi

Sekali proses pengiriman ke pabrik pengolahan CPO ia harus mengirimkan sebanyak 10 ton. Sebanyak 8 ton TBS diperoleh dari petani di wilayah Lampung Selatan dan Lampung Timur.

Pasokan TBS sebutnya diperoleh dari petani yang masih mempertahankan tanaman sawit. Petani yang masih mempertahankan tanaman sawit bisa mempergunakan hasil panen sebagai investasi jangka panjang.

Sebab proses pembayaran hasil panen kerap dilakukan setiap bulan. Petani akan mendapatkan nota hasil penjualan dan pelunasan dilakukan setiap akhir bulan.

Setiap petani rata-rata mendapat hasil Rp3,2 juta setiap bulan dari menjual TBS. Sistem pelunasan pembelian sawit sebutnya dilakukan secara bertahap.

Rantai pasok TBS sawit dari petani sebutnya tetap lancar ketika tanaman masih dipertahankan. Sebagian petani yang mempertahankan sawit melakukan penggantian dengan tanaman baru. Penggunaan bibit berkualitas jadi cara mendapatkan pohon dengan produksi buah maksimal.

Lihat juga...