Kembangkan Ekonomi Biru, KKP Libatkan Peran Riset Bioteknologi Kelautan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

BEKASI — Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, memaparkan, mahzab blue economy pada dasarnya memiliki konsep dasar yang sama yaitu pembangunan berbasis zero waste concept (nirlimbah) dengan memanfaatkan sumber daya alam secara efisien.

“Bioteknologi kelautan melalui genetic engineering DNA sequencing, DNA recombinant, gene editing, dan lainnya telah mampu melipatgandakan produktivitas sektor budidaya,” tegasnya dalam webinar yang diikuti Cendana News, Rabu (30/6/2021).

Dikatakan, bioteknologi kelautan memiliki peran penting untuk pembangunan kelautan dan perikanan berkelanjutan berbasis ekonomi biru. Genetic engineering telah mampu membudidayakan organisme di suatu ekosistem yang secara alamiah sebenarnya tidak cocok, contohnya budidaya padi GMO (Genetically Modified Organism) di ekosistem perairan laut Qingdao, China.

Menurut Rokhmin, domain bioteknologi kelautan terdiri dari tiga unsur, meliputi, ekstraksi senyawa bioaktif (bioactive compounds/natural products) dari biota laut untuk bahan baku bagi industri nutraseutikal (healthy food & beverages), farmasi, kosmetik, cat film, biofuel, dan beragam industri lainnya.

Kedua, genetic engineering untuk menghasilkan induk dan benih ikan, udang, kepiting, moluska, rumput laut, tanaman pangan, dan biota lainnya yang unggul. Ketiga, Rekayasa genetik organisme mikro (bakteri) untuk bioremediasi lingkungan yang tercemar.

“Dengan Bioteknologi Kelautan, ikan dan biota laut lainnya tidak hanya bermanfaat sebagai bahan pangan (khususnya protein hewani), tetapi juga dapat diekstrak senyawa bioaktifnya sebagai bahan baku untuk industri farmasi, functional foods, kosmetik, cat, film, bioenergy, dan berbagai macam jenis industri lainnya,” ucapnya.

Sementara itu, peneliti BBRP2BKP, Dewi Seswita Zilda menuturkan, posisi riset bioteknologi kelautan dalam pembangunan ekonomi biru yaitu pada harvesting and trade of marine living resources. Seperti, riset terkait bioprospeksi enzim dari bakteri laut. Rangkaian riset dimulai dari screening, karakterisasi, cloning, hingga aplikasi enzim.

Tidak hanya untuk produk pangan, aplikasi enzim dari bakteri laut potensial untuk dikembangkan sebagai bahan baku produk kosmetika dan obat-obatan.

Kepala BRSDM, Sjarief Widjaja, berharap melalui webinar tersebut dapat melahirkan sebuah kesimpulan berupa rumusan yang dapat dijadikan bahan dasar untuk menyusun rencana aksi nasional. Optimalisasi sumber daya kelautan dan perikanan untuk ekonomi biru dihadapkan pada banyak tantangan.

“Bagaimana kita membuat bioteknologi ini menjadi model pengembangan pengolahan bahan baku yang berasal dari laut secara berkelanjutan,”tegasnya.

Ekonomi biru diterjemahkan sebagai konsep pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan dalam pengelolaan sumber daya alam (pilar ekologi) untuk menghasilkan multiple cash-flow (pilar ekonomi) dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat (pilar sosial).

Kementerian Kelautan Perikanan telah menggagas pola ekonomi biru dalam pembangunan kelautan dan perikanan. Pihaknya pun mengimbau para pelaku dan pemangku kepentingan untuk menyusun langkah strategis dan antisipatif dalam pembangunan sumber daya kelautan dan perikanan.

Lihat juga...