Kepala Museum Monjali: Soeharto Sosok Pemimpin Visioner

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Museum Monumen Jogja Kembali (Monjali) menjadi salah satu dari sekian banyak bangunan monumen bersejarah peninggalan Presiden kedua RI HM Soeharto yang masih bisa ditemui di Yogyakarta hingga saat ini. 

Di museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 6 Juli 1989 inilah, jejak perjuangan para pejuang seperti Pak Harto, baik sejak era perang kemerdekaan 1945, Agresi Militer Belanda tahun 1948 hingga Jogja Kembali pada tahun 1949, direkam dan diabadikan.

Bagi Kepala Museum Monumen Jogja Kembali, Kolonel Inf (Purn) Maryono, keberadaan Museum Monumen Jogja Kembali, tidak saja sebagai tempat untuk belajar maupun mengali sejarah sekaligus peran para pejuang bangsa seperti Pak Harto.

Lebih dari itu, Museum Monumen Jogja Kembali juga merupakan sebuah alat/media untuk meneruskan perjuangan para pendahulu bangsa seperti Pak Harto, yakni dalam mewujudkan cita-cita beliau membangun NKRI. Khususnya bagi generasi muda.

Senjata laras panjang bernomor seri PM Owen Gun 5451 yang digunakan Komandan Wehkreise III, Letkol Soeharto dalam memimpin serangan umum 1 Maret 1949 di Museum Monumen Jogja Kembali, Selasa (8/6/2021). -Foto Jatmika H. Kusmargana

“Bagi saya Pak Harto itu sosok seorang pemimpin visioner yang sangat sulit ditemukan saat ini. Pak Harto selama ini dikenal memiliki pandangan dan pemikiran yang jauh ke depan. Dibuktikan dengan program-program Repelita-nya. Dan hebatnya beliau bisa menjalankan semua rencananya itu dengan sukses dan berhasil,” katanya.

Di Museum Monumen Jogja Kembali, para pengunjung bisa menyaksikan memorabilia terkait Pak Harto yang disimpan dan dipamerkan. Mulai dari film tentang Serangan Umum 1 Maret, hingga sejumlah koleksi barang atau benda yang pernah digunakan Pak Harto saat memimpin SU 1 Maret.

Dari sekian banyak benda bersejarah tersebut, salah satu di antara yang paling menonjol adalah senjata laras panjang bernomor seri PM Owen Gun 5451. Ini lah senjata asli yang digunakan Komandan Wehkresihe III, Letkol Soeharto dalam memimpin serangan umum 1 Maret 1949.

Selain itu, salah satu benda bersejarah lainnya yang juga disimpan di museum ini adalah kursi tamu yang pernah digunakan Letkol Soeharto selaku komandan Wehkreishe III, ketika beliau merundingkan siasat perang gerilya menghadapi tentara Belanda di kediaman KH Muhdi, Dusun Krapyak Lor, Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, Sleman, Yogyakarta.

Lihat juga...