Kolam Detensi Tapal Kuda Mampu Kurangi Debit Banjir

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Bencana hidrometeorologi masih sering terjadi dan silih berganti di Indonesia. Hal ini mengindikasikan, bahwa pengelolaan sumber daya air, masih belum berhasil guna seperti yang diharapkan, dalam upaya pencegahan bencana. Maka perlu inovasi misalnya dalam hal mengurangi banjir. 

Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Ir. Suharyanto, MSc, dalam orasi ilmiah pengukuhan dirinya sebagai guru besar Fakultas Teknik (FT) Undip, yang digelar secara daring dan luring, di kampus tersebut, Semarang, Jumat (4/6/2021).

“Secara prinsip, permasalahan pengelolaan sumber daya air hanya terdiri dari lima hal pokok yaitu too much (terlalu banyak), too little (terlalu sedikit), too dirty (terlalu kotor), too far (terlalu jauh), dan untimely atau sebelum waktunya,” terangnya

Dipaparkan, jika mengacu pada Undang Undang No. 17/2019 tentang Sumber Daya Air, pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara terpadu (PSDAT).

“Salah satu upaya yang dapat secara bersama sama memenuhi pilar-pilar pengelolaan, meliputi konservasi serta pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air, dengan cara pembangunan infrastruktur tampungan, yang memungkinkan dibangun secara partisipatif dan dalam skala mikro. Dengan tampungan maka permasalahan too much, too little, too far, dan untimely water, dapat dikelola yaitu dengan penyediaan, pengelolaan dan pengoperasian infrastruktur tampungan yang sesuai,” terangnya.

Salah satu infrastruktur tampungan yang diusulkan adalah berupa Kolam Detensi Tapal Kuda atau KDTK (horse shoe detention pond).

“Ini dapat dibangun pada lokasi tanah meander berbentuk tapal kuda (horse shoe) yang biasanya labil dan secara terus menerus mengalami permasalahan erosi, gerusan tebing di tikungan luar dan sedimentasi di tikungan dalam,” lanjutnya.

Pembangunan KDTK ini mampu mengurangi debit banjir, menghambat waktu puncak banjir, dan airnya dapat dimanfaatkan untuk keperluan lokal.

“Bentuk pemanenan air hujan (PAH) lainnya, yang perlu selalu dikembangkan adalah berupa PAH individual dan PAH komunal. Pembangunan pemanenan air hujan ini, juga mampu memberikan suplesi tambahan untuk akses air bersih secara individual dan secara komunal, sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat saat kemarau datang,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, turut dikukuhkan dua guru besar baru lainnya, yakni Prof. Dr. Ir. Atik Suprapti, MTA (FT) dan Prof. Dr. Hj. Indira Januarti, SE., M.Si dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB).

Sementara, Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama menandaskan, dengan tambahan guru besar baru tersebut, diharapkan mampu memperkuat institusi Undip sebagai universitas berbasis riset.

“Saya bersyukur pada tahun ini akan ada 21 guru besar baru di Undip, ini sudah 15 orang yang sudah kita kukuhkan, sisanya minggu depan kita kukuhkan. Ini menjadi progres yang baik. Itu artinya upaya memperbaiki kualitas riset, inovasi dan dampaknya ke masyarakat terus meningkat,” paparnya.

Terlebih dari data Scimago Institution Rankings (SIR) yang memuat deretan kampus terbaik dalam “Research, Innovation, and Societal Impact”, dari deretan 20 kampus terbaik di Indonesia, Undip menempati posisi ke-8, sebagai kampus berbasis riset.

Lihat juga...