Lahan Pertanian di Flotim Kian Menyempit

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LARANTUKA — Luas daratan Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa tenggara Timur (NTT) yang hanya 31 persen, kini dihadapkan pada kenyataan semakin menyempitnya lahan pertanian dan perkebunan, karena telah dialihfungsikan untuk kebutuhan hunian penduduk yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

“Porsi lahan perrtanian di Flotim terus menyempit karena menjadi areal hunian dan lahan untuk aneka proyek-proyek fisik dari pemerintah dan korporasi,” sebut Fidelis Lein, pengurus organisasi Diaspora Flotim Jakarta, Titehena saat dihubungi, Senin (21/6/2021).

Fidelis mengatakan, dalam refleksi akhi 2020, yang menggunakan sistem Focus Group Discussion (FGD) dan mengundang berbagai elemen, termasuk pemerintah, diperoleh kekhawatiran terkait menyempitnya lahan pertanian.

Ia menjelaskan, porsi lahan pertanian untuk tanaman jagung, padi, pisang, kacang-kacangan dan umbi-umbian sebagai konsumsi pangan pokok rumah tangga keluarga pun semakin sempit dan tergerus.

Hal ini sebutnya, akibat seiring meningkatnya porsi lahan perkebunan untuk tanaman mete, kelapa, kakao, kemiri dan lainnya.

Dia memaparkan, dari data luas lahan menurut penggunaan di 2019, dimana dari 162.869 hektare luas lahan pertanian bukan sawah, lahan untuk ladang atau huma hanya 10 persen dan lahan tegal 13 persen.

“Sedangkan lahan untuk perkebunan mencapai 16 persen. Meskipun, lahan yang belum diusahakan atau dimanfaatkan masih sekitar 26 persen,” ungkapnya.

Fidelis menegaskan, pola pemanfaatan lahan oleh para petani subsiten dan petani semi komersial atau komersial harus diatur dengan baik dalam perencanaan tata ruang lahan di setiap wilayah desa. Jika tidak dilakukan, maka masyarakat Flores Timur ke depan akan dihadapkan pada problem serius, berupa ancaman ketahanan dan kedaulatan pangan keluarga.

“Kontribusi sektor pertanian, kehutanan dan perikanan terhadap PDRB Flores Timur dalam lima tahun terakhir dimana di 2015 masih di angka 27,60 persen, di 2019 turun 0,29 persen menjadi 27,31 persen,” paparnya.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelola Hutan (UPT KPH) Kabupaten Flores Timur Vinsensius F. Kelado menyebutkan, masyarakat di beberapa wilayah yang berdekatan dengan hutan lindung mulai membuka lahannya mendekati areal hutan.

Vinsensius mencontohkan, lahan pertanian di Adonara termasuk di Desa Nele Lamadike yang mengalami banjir bandang jaraknya kini hanya sekitar 2 kilometer dari kawasan hutan lindung.

“Masyarakat banyak yang mulai membuka lahan di lereng gunung sehingga jarak antara lahan pertanian masyarakat dengan kawasan hutan semakin dekat. Beberapa desa lainnya di Adonara pun lahan pertaniannya mulai mendekati kawasan hutan,” ucapnya.

Lihat juga...