Maticgator, Solusi Penetas Telur Reptil Otomatis

Editor: Makmun Hidayat

MALANG — Berawal dari banyaknya permasalahan di lapangan yang mengakibatkan telur penyu gagal menetas, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), Ir Sukandar MP, sejak tahun 2012 mulai mengenalkan mesin penetas telur penyu otomatis Maticgator.

Berbagai pengembangan kemudian terus dilakukan Sukandar bersama tim hingga sekarang. Terbaru Maticgator saat ini sudah bisa digunakan untuk menetaskan telur dari beberapa jenis reptil.

Sukandar atau yang lebih akrab disapa Cak Kandar ini menceritakan, ide pembuatan Maticgator tersebut awalnya memang dilatarbelakangi permasalahan banyaknya telur penyu yang gagal menetas. Selain karena perburuan oleh manusia dan ancaman dari hewan lain, faktor kondisi curah hujan yang tidak menentu juga turut andil membuat telur penyu tidak bisa menetas. Penyu yang bertelur pada musim hujan, kemungkinan menetasnya kecil karena kelembabannya terlalu tinggi yang dapat menyebabkan telur menjadi busuk.

Sedangkan jika suhu sekitar terlalu tinggi, maka telur yang menetas kecenderungannya akan berjenis kelamin betina semua. Kalau sudah begitu maka perbandingan antara penyu jantan dan betina menjadi tidak seimbang. Padahal untuk berkembang biak penyu betina membutuhkan lebih dari satu jantan.

Ir Sukandar MP (tengah) bersama tim menunjukkan beberapa model Maticgator di gedung D FPIK UB, Senin (7/6/2021). -Foto: Agus Nurchaliq

“Sebab itu telur perlu dipindahkan ke mesin penetas Maticgator karena selain dapat menetaskan telur, Maticgator juga bisa di-setting untuk merencanakan jenis kelamin penyu yang akan menetas dengan cara mengatur suhu dan kelembabannya,” jelasnya saat ditemui Cendana News di ruang kerjanya, Senin (7/6/2021).

Jika suhu diatur di atas 31 derajat celsius, maka kemungkinan penyu yang menetas berjenis kelamin betina. Tapi jika suhunya kurang dari 29 derajat celsius, maka kecenderungan penyu yang akan menetas berjenis kelamin jantan.

“Pada reptil, tinggi rendahnya suhu di sekitar telur memang dapat mempengaruhi jenis kelamin reptil yang akan menetas,” ungkapnya.

Lebih lanjut Cak Kandar mengaku hingga saat ini timnya terus berupaya agar kondisi penetasan telur penyu di dalam mesin Maticgator bisa mendekati kondisi alaminya. Apalagi pada penyu yang baru menetas biasanya ada proses pergerakan, dimana penyu atau tukik akan keluar dari dalam pasir. Pergerakan ini yang nantinya akan membuat tukik semakin kuat.

“Jadi meskipun di dalam mesin penetas, kita tetap menggunakan media pasir dan menyediakan box penetasan dengan ketinggian sekitar 30-50 cm. Karena di alam, penyu akan meletakkan telurnya di dalam pasir dengan kedalaman 20-50 cm,” terangnya.

Sementara itu salah satu anggota tim, Vian Dedi Pratama mengatakan, sejak tahun 2015, mesin penetas Maticgator sudah banyak dipesan oleh sejumlah instansi terkait dan pengelola konservasi penyu di beberapa daerah. Karenanya menurut Vian, selama kurang lebih sembilan tahun ini Maticgator terus mengalami pengembangan.

“Jadi dari yang awalnya hanya sebagai mesin penetas telur penyu saja, kemudian sekarang berkembang menjadi mesin penetas multi fungsi yang bisa digunakan untuk jenis reptil lainnya. Artinya alat ini bisa digunakan untuk menetaskan telur reptil yang lain seperti kura kura, labi labi, iguana, branded dragon dan aligator,” sebutnya.

Oleh sebab itu, peminat Maticgator ini sekarang bukan hanya instansi atau pengelola konservasi saja, tetapi juga diminati para penghobi reptil.

“Jadi konsumen bisa memesan mesin penetas untuk satu jenis reptil saja atau yang bisa digunakan untuk beberapa jenis reptil sekaligus,” ujarnya seraya berucap syukur alhamdulillah, mesin penetas telur Maticgator ini juga sudah dipatenkan.

Lihat juga...