Memahami Esensi Manusia, Perspektif Al-Qur’an sebagai Ilmu Pengetahuan

OLEH: HASANUDDIN

Dalam berbagai ayat dalam Al-Qur’an, Allah sesungguhnya telah memberikan “petunjuk”. Namun makna pamungkas yang terkandung dalam berbagai ayat-ayat Al-Qur’an itu, hanya Allah berikan kepada yang Dia kehendaki, sebagai salah satu bentuk karunia Allah. Sebaliknya, Allah tidak memberikan petunjuk (tidak memberitahukan makna) yang terdapat dalam Al-Qur’an itu, kepada yang Dia tidak kehendaki. Karena ketiadaan petunjuk itu dapat berakibat pada tersesatnya manusia, maka disebut sebagai “siksaan” atau azab Allah.

Allah swt misalnya memberitahu manusia bahwa ruh itu bersifat jujur, atau “ruh al-amin”, hal ini karena ruh itu “suci”, atau disebut dengan ruh al-quds. Malaikat Jibril terkadang disebut “ruhul kudus”. Makna “suci” artinya terbebas dari percampuran dzat (atau murni). Maka jika ruh manusia itu “ditiupkan” Allah ke dalam dimensi biologis manusia, serta meliputi dimensi psikologisnya, maka keberadaan ruh tidaklah bercampur dengan dimensi biologis atau dimensi psikologis, namun memberi pengaruh kepadanya.

Sebaliknya ruh tidak dapat dipengaruhi oleh biologis (tubuh) maupun psikologis manusia (jiwa). Hal ini menjelaskan kata “ruhy” pada ayat di atas yang berarti “ruh-Ku”. Allah meniupkan ruh-Ku untuk menyempurnakan penciptaannya atas manusia. Dapat diterima oleh mereka yang beriman kepada Allah, kenapa ruh itu “jujur” dan “suci”. Jujur karena memiliki sifat sama seperti sifat malaikat, dan “suci” karena bersifat ilahi (berbekal sifat Allah, yakni Al-Haqq).

Demikianlah Allah swt memberi petunjuk-Nya kepada ruh dalam diri biologis (manusia) yang Allah kehendaki. Dan jika seseorang telah diberi penerimaan atas pengetahuan ini, maka seseorang itu akan teguh keberimanannya kepada Allah. Allah swt berfirman:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (56)

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash ayat 56).

Lihat pula misalnya surah Ibrahim (14) ayat 4.

Maka dapatlah dipahami bahwa manusia itu, adalah makhluk yang berketuhanan, atau rabbaniyyun. Dalam arti bahwa esensi terdalam dari manusia itu adalah keilahian. Hanya saja esensi terdalam ini tidak dapat diverifikasi oleh sains, dan Al-Qur’an menyebutnya sebagai rahasia, dan karena sifatnya yang hanya tunduk dan patuh kepada Allah, serta hanya menerima perintah Allah, maka dalam hadis Qudsi dikatakan bahwa “hamba-Ku, adalah rahasia-Ku, dan Aku adalah rahasia hamba-Ku”.

Sehingga dengan demikian, esensi manusia adalah rabbaniyyun, dan eksistensinya adalah hamba Allah. Wallahu a’lam bissawab.

Billahitaufiq walhidayah. ***

Depok, Jumat, 4 Juni 2021

Lihat juga...