Mengurai Limbah Cair Perikanan dengan Bakteri Indigenous

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Penguraian yang menggunakan bahan kimia pada limbah perikanan, akan menimbulkan efek toxic pada lingkungan. Berbeda jika pilihan penguraiannya menggunakan pengurai limbah biologi yang berasal dari limbah itu sendiri.

Peneliti Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan Perikanan, Devi Ambarwaty Oktavia, MP, menyatakan untuk mengurai limbah dibutuhkan suatu pengurai limbah yang ramah lingkungan dan tidak membebani secara biaya.

Peneliti Balai Besar Riset Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan Perikanan, Devi Ambarwaty Oktavia, MP (bawah) menjelaskan konsorsium bakteri hasil penelitian yang berasal dari limbah surimi dan rajungan, dalam diskusi bioteknologi, Rabu (30/6/2021) – Foto: Ranny Supusepa

“Alasan tidak mencemari lingkungan dan murah, menjadikan penguraian limbah menggunakan bahan biologis menjadi tepat,” kata Devi dalam diskusi online blue technology, diikuti Cendana News, Rabu (30/6/2021).

Pilihan pengurai biologi ini jatuh pada bakteri indigenous, yang merupakan bakteri yang ada pada limbah itu sendiri.

“Awalnya, bakteri yang berasal dari limbah cair surimi dan rajungan tersebut kita isolasi untuk mengukur dinamika dan laju pertumbuhan dalam tiga media. Baru kita lakukan identifikasi mikrobanya,” urainya.

Kalau sudah diidentifikasi, baru dilakukan pengujian pada skala laboratorium, in situ dan melakukan perbandingan dengan mikroba komersial.

“Kenapa perlu perbandingan dengan mikroba komersial? Agar bisa mengetahui, konsorsium bakteri yang kita miliki itu memiliki keunggulan atau dapat mengurai limbah cair dari produk perikanan,” urainya lebih lanjut.

Dari hasil pengujian, baru terbukti bahwa konsorsium bakteri yang ada memiliki fungsi sebagai bioremedian.

“Tak hanya itu, ternyata juga bisa menghasilkam enzim kitinase, proteinase, gelatinase dan lipase,” kata Devi.

Dari pengujian lapangan terkait nilai pH, kadar amonia, kadar nitrat dan nitrit, kadar sulfida, nilai BOD, nilai COD dan kekeruhan air, menunjukkan hasil di bawah ambang batas masing-masing standar, sesuai ketetapan regulasi.

“Dari sekitar 12 lokasi pengolahan ikan yang kita ambil airnya sebagai sampel, semuanya menunjukkan penurunan limbah secara signifikan. Kecuali di TPI Muara Angke Jakarta yang memang tingkat polutan organiknya sangat tinggi,” paparnya.

Konsorsium bakteri yang ditemukan ternyata belum mampu untuk mengurai secara optimal nitrit dan nitrat.

“Kemungkinan bakteri yang kita pilih bukanlah bakteri nitrifikasi. Karena itu, tidak berhasil mendegradasi nitrit dan nitrat secara optimal,” paparnya lagi.

Devi menyebutkan dengan adanya konsorsium bakteri ini, akan membuka potensi pembentukan konsorsium bakteri proteolitik dan lipolitik yang efektif dalam menguraikan limbah cair perikanan.

“Selain itu, akan terbuka peluang untuk menghasilkan strain bakteri baru yang berasal dari limbah cair industri perikanan, dan akan berpotensi menghasilkan alat pengolah limbah cair yang bisa digunakan oleh pengolah maupun masyarakat di sekitar industri perikanan,” pungkasnya.

Lihat juga...