Monumen Jogja Kembali Gelar Tahlil 100 Tahun Pak Harto

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Memperingati 100  Tahun Kelahiran Presiden Soeharto, pada 8 Juni, Monumen Jogja Kembali (Monjali) Yogyakarta menggelar acara maulid dan doa bersama di museum tersebut, Selasa (8/6/2021) pagi. 

Selain dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, kegiatan doa bersama ini juga diikuti seluruh pegawai maupun karyawan Monumen Jogja Kembali, yang  diresmikan pertamakali oleh Presiden Soeharto pada 6 Juli 1989 silam.

Ketua panitia kegiatan sekaligus Manajer Operasional Monumen Jogja Kembali, Nanang Dwi Narto, mengatakan digelarnya acara maulid serta doa bersama ini untuk mengenang sekaligus meneladani sosok Presiden Soeharto yang telah banyak berjasa bagi bangsa dan negara. Terlebih, Pak Harto juga memiliki andil besar dalam pendirian Monumen Jogja Kembali.

“Kita menggelar acara ini karena pertama, beliau sangat berperan dalam pendirian museum ini. Selain meresmikan, Pak Harto juga sangat mendukung saat awal pembangunan museum ini. Bersama Sri Sultan HB IX, Pak Harto menunjukkan lokasi tempat pendirian museum yang sangat strategis. Tak hanya itu, Pak Harto juga yang menjadi mesin dalam mengalang dana sumbangan masyarakat untuk seluruh biaya pembangunan museum ini,” katanya.

Ketua panitia kegiatan sekaligus Manajer Operasional Monumen Jogja Kembali, Nanang Dwi Narto, saat ditemui usai doa bersama 100 Tahun Pak Harto, Selasa (8/6/2021).  –Foto: Jatika H Kusmargana

Lebih dari itu, menurut Nanang, peran Pak Harto baik saat era perjuangan kemerdekaan, era kemerdekaan hingga saat beliau menjabat sebagai Presiden RI, juga sangat besar dan tak bisa diragukan lagi.

Menurutnya, Pak Harto tak pernah berhenti berjuang dan berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara. Termasuk dalam mensejahterakan masyarakat lewat berbagai program pembangunan yang telah beliau jalankan.

“Karena itu, hari ini kita menggelar tahlil dan doa bersama untuk mendoakan beliau. Di momen 100 tahun peringatan kelahiran Presiden Soeharto ini, kita semua tetap harus meneladani beliau. Serta selalu mengingatkan pada generasi muda, akan semua jasa-jasa beliau selama ini,” katanya.

Monumen Jogja Kembali dibangun sebagai tetenger atau tonggak peristiwa penting sejarah kembalinya NKRI pada 29 Juni 1949 dari upaya penjajahan kembali oleh Belanda, pascaproklamasi kemerdekaan RI, pada 17 Agustus 1945.

Di museum berbentuk gunungan atau tumpeng ini, masyarakat bisa mengetahui perjalanan panjang sejarah RI pada di tiga fase penting, yaitu perang kemerdekaan 1945, Agresi Militer Belanda 1948 dan Jogja Kembali pada 1949.

Setidaknya, ada tiga peristiwa penting yang menjadi bagian inti dari isi Monumen Jogja Kembali. Yakni, Serangan Umum 1 Maret 1949 yang dipimpin oleh Soeharto, yang saat itu masih berpangkat Letnan Kolonel.

Ke dua, kembalinya NKRI dari upaya penjajahan kembali Belanda pascaproklamasi kemerdekaan RI, dan ke tiga kembalinya Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta dari pengasingan ke ibu kota Negara yang saat itu berada di Gedung Agung Yogyakarta.

Menurut Nanang, ada banyak sekali memoribelia terkait Pak Harto yang disimpan dan dipamerkan di Monumen Jogja Kembali. Mulai dari film tentang Serangan Umum 1 Maret, sejumlah koleksi barang atau benda yang pernah digunakan Pak Harto saat memimpin SO 1 Maret, seperti senjata, kursi yang ditempati berliau saat bergerilya hingga foto-foto, dan lain-lain.

“Di Monumen Jogja Kembali ini kita juga selalu sampaikan pada pengunjung tentang sosok Pak Harto yang selalu berjuang dan mengorbankan semuanya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Terutama saat Serangan Umum 1 Maret, di mana beliau saat itu menjabat sebagai komandan Brigade X dan menjadi eksekutor serangan, sehingga NKRI bisa kembali,” katanya.

Lihat juga...