Nelayan Solor Selatan Minim Bantuan Alat Tangkap

Editor: Makmun Hidayat

LARANTUKA — Nelayan Desa Kelike, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengharapkan bantuan alat tangkap agar bisa menangkap ikan di perairan pantai selatan Pulau Solor.

“Kami selama ini menangkap ikan menggunakan sampan yang dibuat sendiri sehingga kami harapkan ada bantuan pemerintah,” sebut Yosep Bawa Wokal, nelayan Desa Kelike, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur, NTT saat ditemui di rumahnya, Senin (14/6/2021).

Yosep mengatakan, dirinya hanya menangkap ikan menggunakan pukat seadanya dan alat pancing dengan menggunakan sampan sehingga jarak melautnya pun tak jauh dari pesisir pantai.

Nelayan asal Desa Kalike, Yosep Bawa Wokal saat ditemui di pesisir pantai di desanya, Senin (14/6/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Ia mengaku hanya menangkap ikan kombong, hada, selar maupun layang dengan jumlah terbatas dan hasil tangkapan ikan yang diperolehnya pun tidak menentu.

“Paling sehari hanya dapat penghasilan Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. Sisa ikan juga untuk dikonsumsi sendiri karena hasil tangkapan terbatas. Saya masih menggunakan sampan dan memakai dayung belum memakai mesin,” ungkapnya.

Yosep mengaku mempunyai kebun juga untuk ditanami jagung namun musim tanam 2020/2021 mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus sehingga dirinya hanya mendapatkan hasil 100 kilogram jagung.

Diakuinya, ikan di pantai selatan Pulau Solor masih banyak sebab sudah sejak lama tidak ada aktifitas pengeboman ikan yang biasa dilakukan nelayan dari ujung timur Pulau Solor.

“Saya lepas pukat sore dan pagi harinya baru diangkat tapi terkadang lepas pukat sore hari dan tarik pukat jam 10 malam.Kalau dapat ikan kombong harga jualnya lebih bagus,” ucapnya.

Sementara itu Wilhelmus Wokadewa Melur, nelayan asal Desa Sulengwaseng, mengaku mendapatkan bantuan kapal ikan berukuran 5 gross ton tapi tidak dilengkapi dengan pukat.

Mus sapaannya mengakui, dirinya mengharapkan agar Dinas Perikanan membantu penyediaan pukat atau jaring agar nelayan bisa melaut setelah ada bantuan kapal ikan.

“Saya mengharapkan ada bantuan alat tangkap seperti pukat atau jaring agar bisa pergi melaut. Harga pukat memang mahal sehingga nelayan kesulitan untuk membelinya,” ujarnya.

Lihat juga...