Olah Raga bagi Penderita Hipertensi Harus Mengacu Durasi Terkontrol

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA –  Gaya hidup sehat dengan olahraga teratur harus dilakukan juga oleh penderita hipertensi. Tentu olahraganya tidak boleh sembarangan harus mengacu pada porsi dan durasi yang terkontrol.

Spesialis kedokteran olahraga dari RS Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Michael Triangto, SpKO mengatakan, gaya hidup sehat termasuk olahraga merupakan kebutuhan agar tubuh selalu bugar dan sehat.

Namun bagi penderita hipertensi tidak boleh olahraga sembarangan, ada ketentuan yang harus ditaati. Begitu juga dengan jenis olahraga yang cocok dilakukan.

Menurutnya, ada berbagai jenis olahraga bagus untuk jantung dan tekanan darah. Namun jika dipaksakan akan berpotensi menaikkan tekanan darah. Sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan bahkan kematian.

“Maka disarankan, pengidap hipertensi agar memilih olahraga yang sesuai dengan intensitas ringan,” ujar dr. Michael, pada diskusi online tentang olahraga bagi penderita hipertensi di Jakarta yang diikuti Cendana News, Jumat (18/6/2021).

Karena menurutnya, saat tubuh bergerak, maka jantung akan dipaksa berdenyut lebih kuat dan menaikkan tekanan darah. Kemudian setelah olahraga, denyut nadi akan berkurang. Ini menjadikan tekanan darah menjadi lebih terkontrol.

dr. Michael menganjurkan, jenis olahraga yang dapat dilakukan penderita hipertensi, salah satunya adalah aerobik.

Jenis olahraga ini menurutnya, memiliki gerakan yang berulang-ulang, intensitas ringan dan waktu melakukannya panjang.

Selain itu, kata dia, adalah berenang yang merupakan jenis olahraga bersifat tidak terlalu intens. Tapi sangat baik untuk kesehatan jantung dan pengidap hipertensi.

Bersepeda juga bisa menjadi pilihan bagi penderita hipertensi. Olahraga ini dapat mengatasi atau mencegah terjadinya hipertensi.

“Bersepeda selama 30 menit, jantung akan bekerja lebih efektif dalam memompa darah. Sehingga tekanan darah bisa turun secara signifikan,” ujar dr. Michael Triangto, SpKO dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) itu.

Selain itu, yakni jalan kaki atau jalan cepat yang dilakukan secara rutin bisa menjadikan jantung dan pembuluh darah lebih sehat.

“Untuk menentukan waktu olahraga, bukan berdasarkan pagi, siang, sore atau pun malam. Tapi yang harus diperhatikan adalah durasinya dan tidak terburu-buru,” imbuhnya.

Dia menyebut, WHO menganjurkan untuk berolahraga 150 menit per minggu atau dipecah menjadi 30 menit sehari. Durasi ini pun menurutnya, dapat dibagi lagi menjadi 10 menit di pagi hari, 10 menit pada sore dan 10 menit pada malam hari.

Namun demikian kata dia, bagi penderita hipertensi harus dilakukan penyesuaian sesuai kemampuan.

“Kita harus melihat kemampuan olahraga itu berapa lama, 15 menit juga tidak masalah karena bisa dinaikkan secara bertahap menjadi 30 menit. Karena meskipun 30 menit itu tidak lama, tapi mungkin saja tidak sanggup, jadi jangan dipaksa tapi lakukan secara bertahap sesuai kemampuan,” ungkapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk mencegah terjadinya masalah saat berolahraga, penderita hipertensi harus memperhatikan beberapa hal.

Yakni sebut dia, tidak boleh olahraga di saat sedang sakit kepala. Tentunya, lakukan juga mengukur denyut nadi atau tekanan darah dengan alat. Kemudian lihat catatannya di aplikasi ponsel atau pakai tensimeter digital.

Selain memeriksa tekanan darah dan denyut nadi, penderita hipertensi juga harus rutin melakukan pencatatan dengan memakai tensimeter digital. Dari catatan tersebut dapat dibuat grafiknya, apakah kondisi kesehatan tubuhnya lebih baik atau tidak.

Contohnya kata dr. Michael, kalau dari catatan biasanya tekanan darah 120 lalu naik menjadi 160. Maka sebaiknya, kata dia, hindari dulu berolahraga. Begitu juga dengan denyut nadi, jika biasanya 80-an, tapi naik menjadi 90-100.

Maka lebih baik jangan olahraga dulu, dan segera penderita hipertensi konsultasi pada dokter tentang kondisinya.

“Apakah bisa berolahraga atau tidak, jadi jangan memaksakan diri harus dikonsultasikan dulu dengan dokter,” ujarnya.

Ahli jantung dan pembuluh darah dari RS Pusat Jantung Harapan Kita, dr. Ario Suryo Kuncoro, SpJP(K) menambahkan, penderita hipertensi memang tidak boleh olahraga sembarangan, harus mengacu pada porsi yang terkontrol.

Mengingat kata dia, kalau tekanan darah sudah mencapai 260 mmHg akan berisiko pembuluh darah pecah. Jika hal ini terjadi, maka dapat menyebabkan kematian mendadak.

“Pengidap hipertensi boleh berolahraga, tapi tentunya harus dengan porsi yang terkontrol. Tidak disarankan berolahraga, jika tekanan darah sudah melebihi 200 mmHg,” ujar Ario, pada acara yang sama.

Lihat juga...