Pandemi, Pengusaha Cilok di Jember Ini tak Merumahkan Karyawan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JEMBER – Pandemi Covid-19 membuat pelaku usaha mengalami penurunan pendapatan dari hasil penjualan yang dilakukan. Salah satunya pengusaha cilok di Jember.

Pedagang cilok di Jember sebelum masa pandemi, omzet yang didapatkan setiap harinya mencapai puluhan juta rupiah. Namun saat ini lebih dari separuh pendapatan mengalami penurunan.

Siti Fatimah, warga Lingkungan Panji, Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, Jember, mengatakan, dampak pandemi mengakibatkan hasil penjualan usaha cilok menurun drastis.

“Sebelum masa pandemi, setiap harinya hasil dari penjualan cilok lebih dari Rp15.000.000, namun saat ini omzet yang didapatkan sekitar Rp5.000.000,” ujar Siti Fatimah kepada Cendana News di kediaman rumahnya di wilayah Lingkungan Panji, Kelurahan Sumbersari, Jember, Selasa (22/6/2021).

Harsono (kiri) dan Siti Fatimah saat ditemui Cendana News di kediamannya, di Lingkungan Panji, Kelurahan Tegalgede, Kecamatan Sumbersari, Jember, Selasa (22/6/2021) – Foto: Iwan Feri Yanto

Menurut Siti, selama pandemi Covid-19 yang mengakibatkan usahanya mengalami penurunan pendapatan, juga disebabkan karena minimnya mahasiswa yang berada di Jember.

“Sebagian besar pelanggan yang ada, mayoritas dari kalangan mahasiswa. Namun, sejak adanya pandemi yang mengakibatkan perkuliahan dilakukan secara daring, dan banyak mahasiswa yang pulang kampung, sangat berdampak terhadap usaha cilok yang terjual,” ucapnya.

Meskipun omzet yang didapatkan setiap hari menurun, Siti mengaku, masih mempertahankan para karyawan yang bekerja di tempat usaha miliknya. Hampir tidak ada karyawan yang diberhentikan atau dirumahkan.

“Secara keseluruhan jumlah karyawan sebanyak 15 orang. Dari 15 orang karyawan, 4 orang bekerja sebagai pedagang cilok, 11 orang lainnya bekerja di bagian produksi cilok,” jelasnya.

Meskipun situasi yang ada tetap sulit dan banyak tantangan, Siti memang tetap berupaya agar karyawan yang bekerja di tempat usahanya tidak kehilangan pekerjaan.

“Setiap karyawan juga diterapkan libur kerja per satu hari, secara bergantian. Penerapan sistem libur kerja semacam ini hanya diberlakukan bagi karyawan yang bertugas memproduksi cilok, sedangkan yang bertugas sebagai penjual cilok tetap masuk setiap hari,” terangnya.

Siti menambahkan, penerapan libur kerja seperti itu mendapat respons positif. Sebab para karyawan juga memahami kebijakan yang diberlakukan, karena omzet pendapatan usaha mengalami penurunan.

Mengawali usaha sebagai pedagang cilok, Harsono suami dari Siti Fatimah mengatakan, banyak tantangan yang didapatkan. Lika-liku jalan sebagai pedagang cilok juga sudah banyak dilalui.

“Pertama kali memulai usaha, saya belajar dari ayah saya sendiri. Setelah berhasil dan mengetahui segala produksi pembuatan cilok, saya mulai produksi sendiri. Selama hampir 5 tahun menjalani usaha sebagai pedagang cilok, beberapa kali ingin berhenti. Karena tidak ada prospek yang bagus untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” ungkapnya.

Harsono menambahkan, berkat dorongan dari keluarga untuk tetap konsisten menjalani usaha sebagai pedagang cilok, kini usahanya membuahkan hasil yang menguntungkan.

“Selama 22 tahun bergelut sebagai pengusaha dan pedagang cilok banyak keuntungan yang sudah didapatkan. Karyawan 15 orang dapat tetap bertahan membantu produksi usaha, serta beberapa capaian lain sudah didapatkan, baik rumah, kendaraan, dan lain-lainnya,” jelasnya.

Suryadi, salah satu karyawan pedagang cilok mengatakan, selama pandemi Covid-19, hasil dari penjualan yang didapatkan memang menurun. Menurutnya, sebelum pandemi omzet dari hasil penjualan bisa di atas Rp1.000.000 namun kali ini tidak menentu.

“Karena sekarang ini pelanggan yang ada sudah berkurang, sehari juga kadang tidak menentu pendapatannya. Untuk beberapa hari sebelumnya, hasil dari cilok yang terjual sekitar Rp800.000, per hari,” ucapnya.

Lihat juga...