Pemda di Flores Diminta Benahi Sarana dan Prasarana Wisata

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Pemerintah Daerah (Pemda) di delapan Kabupaten di Pulau Flores dan Kabupaten Lembata di Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta membenahi sarana dan prasarana pariwisata, demi menyambut kunjungan wisatawan mancanegara.

Pramuwisata dan pengurus HPI NTT, Elisia Digma Dari saat ditemui di rumahnya di Desa Watumilok. Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (1/6/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Banyak yang harus diperbaiki seperti sarana dan prasarana destinasi pariwisata dan infrastruktur,” pinta Pengurus Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Provinsi NTT, Elisia Digma Dari saat dihubungi, Minggu (6/6/2021).

Elis sapaannya menyebutkan, terkadang menjual destinasi wisata tetapi toilet juga tidak ada. Termasuk, pemerintah daerah menjual tempat snorkling, tetapi kamar mandi untuk bilas saja tidak ada, sehingga wisatawan kesulitan.

Menurutnya, kesiapan di destinasi belum ada, termasuk sumber daya manusianya serta infrastruktur belum memadai untuk menjadi destinasi wisata bagi wisatawan.

Ia mencontohkan, destinasi wisata Tanjung Kajuwulu di Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka yang tidak dilengkapi dengan toilet dan kamar mandi yang airnya selalu tersedia

“Kalau untuk warga lokal tidak terlalu masalah, tapi wisatawan domestik dan mancanegara pasti akan mempersalahkannya,” ucapnya.

Pengurus Asita kabupaten Sikka selama 10 tahun ini menyarankan, agar pemerintah membenahi semuanya terlebih dahulu, baru menggandeng tour agent untuk menjual paket wisatanya.

Elis katakan, sebelum dijual menjadi paket wisata, tour agent akan mengecek terlebih dahulu kesiapannya dan bila layak maka dimasukkan dalam kalender wisata tahunan.

“Masih banyak yang harus dibenahi. Kesempatan saat pandemi Corvid-19 ini dapat dimanfaatkan pemerintah untuk melengkapi kekurangan ini, sebab kunjungan wisatawan asing tidak ada,” ucapnya.

Elis menegaskan, wisatawan datang ke Flores ingin melihat keindahan topografi alamnya, wisata adventure serta menyaksikan keunikan budayanya.

Disebutkan juga, minta kalangan muda untuk terjun di dunia pramuwisata patut diacungi jempol. Sekarang ini banyak sekali regenerasi pelaku pariwisata dari kalangan anak muda.

“Sekarang banyak anak-anak muda yang jadi pramuwisata sehingga ada estafet,” ucapnya.

Sementara itu pemilik home stay di Kota Maumere, Wenefrida Efodia Susilowati mengaku sejak pandemi Corona melanda memang tidak ada kunjungan wisatawan, sehingga dirinya memanfaatkannya membenahi fasilitas penginapannya.

Susi mengakui, memang sarana dan prasarana di destinasi wisata masih minim.

“Kita harus menyiapkan sumber daya manusianya di sebuah destinasi apalagi kalau dikelola masyarakat. Bisa dilakukan dengan membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan diberikan pelatihan penguatan kapasitas sumber dayanya,” ucapnya.

Lihat juga...