Penebangan Pohon Kelapa di Lamsel Tanpa Regenerasi Bibit Baru

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kebutuhan komoditas pertanian kelapa penghasil buah, gula kelapa, menghadapi tantangan penebangan.

Giyadno, salah satu petani perajin gula kelapa menyebut tingkat penebangan pohon kelapa masif terjadi pada kurun 2015-2017 di Lampung Selatan (Lamsel). Penebangan dilakukan pada perkebunan milik petani untuk pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS).

Gula kelapa yang telah dicetak dengan hasil pengolahan nira kelapa milik Giyadno di Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, Senin (14/6/2021) – Foto: Henk Widi

Selain untuk infrastruktur jalan, komoditas pertanian pohon kelapa ditebang untuk bahan bangunan. Sejumlah warga yang tanahnya digusur memakai lahan kebun dan batang kelapa sebagai bahan bangunan.

Meski sebagian petani melakukan penanaman namun hasil penanaman sejak 2018-2021 sebagian belum produktif atau berbuah. Selain belum hasilkan buah, petani pembuat gula kelapa harus kekurangan bahan baku.

Suyidno, warga Desa Batuliman, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan mengaku harus berpindah tempat. Ia mencari lahan pertanian yang masih memiliki pohon kelapa produktif untuk penghasil nira.

Rata-rata satu petani produsen gula kelapa akan menyewa sebanyak 70-100 batang. Ia telah menyewa pohon kelapa mulai harga Rp50.000 hingga kini Rp100.000 per batang per tahun.

“Saya memiliki sekitar seratus batang pohon kelapa yang saya sewa dari petani pemilik kebun di Candipuro namun sebagian tergusur pembangunan Jalan Tol Sumatera, akhirnya saya pindah karena mencari lokasi kebun milik petani yang bisa dideres, tidak semua petani mengizinkan perajin gula kelapa menyewa pohon,” terang Giyadno saat ditemui Cendana News, Senin (14/6/2021).

Tingkat penebangan pohon kelapa untuk pemanfaatan bahan bangunan tanpa diiringi penanaman sebut Giyadno jadi tantangan.

Ia menyebut sebagian petani penanam kelapa mulai melakukan penanaman cultivar atau varietas genjah. Jeni tanaman kelapa yang mulai berbuah usia lima tahun jenis kelapa merah, wulung dan entok. Hanya kelapa hijau yang bisa dideres sebagai bahan pembuatan gula kelapa.

Varietas kelapa merah milik petani sebagian dipanen saat muda untuk diambil degan. Di Bakauheni, Giyadno mengaku hanya menyewa sebanyak 70 batang kelapa dari lahan milik belasan petani.

Petani rata-rata memiliki 5-6 batang kelapa untuk dideres pada lahan kebun dan pekarangan. Sebagian dipergunakan sendiri untuk bahan kebutuhan bumbu dapur.

“Sebagian petani menanam bibit kelapa baru, namun belum produktif dengan masa tunggu bisa tiga tahun mendatang baru bisa dideres,” ulasnya.

Sebagian petani sebutnya memiliki kesadaran untuk meregenerasi tanaman kelapa. Sistem tebang pilih dilakukan hanya pada pohon kelapa yang tidak produktif.

Pohon kelapa yang telah berusia lebih dari 20 tahun dengan hasil buah minim ditebang untuk diganti tanaman baru. Kultivar kelapa genjah, hibrida yang ditanam sejak lima tahun silam sebagian telah bisa dideres untuk menghasilkan gula kelapa.

Meski alami pengurangan, Giyadno mengaku masih bisa menghasilkan sebanyak 220 kilogram gula kelapa per dua pekan. Setiap dua hari dari proses menderes bunga kelapa ia mendapatkan 12 jeriken menghasilkan 55 kilogram gula kelapa.

Selama pohon kelapa masih dipertahankan, ia masih bisa memproduksi gula kelapa setiap pekan. Per kilogram gula kelapa dijual ke pengepul seharga Rp15.000.

“Setiap dua pekan menjual 220 kilogram gula kelapa mendapat hasil Rp3,3 juta untuk bahan pembuatan kecap,” ulasnya.

Berkurangnya pohon kelapa juga diakui Misyanti di Desa Sukaraja, Kecamatan Palas. Namun ia mengaku beruntung karena pohon kelapa sebanyak 60 batang merupakan warisan keluarga.

Memiliki keluarga yang turun temurun memproduksi gula kelapa membuat ia masih bisa mendapat hasil dari pohon kelapa. Penanaman pohon kelapa dilakukan untuk mengganti pohon yang tidak produktif.

“Hama kumbang dan juga penggerek batang jadi musuh alami tanaman kelapa sehingga perlu diganti bibit baru,” cetusnya.

Kebutuhan pohon kelapa sebut Misyanti tidak hanya untuk pembuatan gula kelapa. Sebagian petani yang memanfaatkan peluang harga kelapa muda memilih memanen kelapa sebelum tua.

Meski demikian sebagian kelapa yang dipanen muda tidak dipergunakan untuk bahan pembuatan gula kelapa. Jenis kelapa merah kerap tidak digunakan sebagai bahan pembuatan gula kelapa.

Perhatian dari pemerintah sebut Misyanti dilakukan dengan memberikan bibit. Namun saat ini sebagian bibit kelapa yang ditanam merupakan kultivar kopyor.

Sebagian petani memilih melakukan penanaman ulang pada lahan yang telah diremajakan. Jenis kelapa hijau, kelapa merah genjah jadi pilihan dengan masa tanam hingga berbuah hanya 5 tahun.

Jenis kelapa genjah entok, gading jadi pilihan petani karena cepat berbuah.

Lihat juga...