Pengamat : Orientasi Market Makanan Ringan 2021, Sehat dan Nabati

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Tak lepas dari kecenderungan menuju kesehatan, market makanan ringan pun saat ini menganut makanan sehat dan cenderung ke arah bahan baku nabati atau organik. Hal ini, bisa menjadi acuan pelaku UMKM untuk tetap bertahan di masa pandemi ini.

Direktur Eksekutif Asosiasi Corrugated Indonesia, Tuti Buntaran menyatakan, tren snack atau makanan ringan saat ini selaras dengan orientasi global, yaitu mengacu pada makanan sehat.

“Jadi, untuk membuat snack kita tetap bertahan dalam masa sekarang, kita buat yang mengandung makanan sehat atau memberikan tambahan vitamin. Keterangan ini harus disampaikan pada konsumen melalui kemasan,” kata Tuti, dalam diskusi peningkatan daya jual UMKM Snack, Selasa (29/6/2021) sore.

Orientasi konsumen secara umum, lanjutnya, ada dua. Yaitu organik dan sehat.

“Vitaminnya yang lagi tren adalah zinc dan vitamin D. Karena sejalan dengan tren saat ini, yang ingin menambahkan imun tubuh dalam setiap asupannya,” ucapnya.

Tren lain yang juga masih tetap ada dari tahun ke tahun dan tak pernah pudar adalah kecantikan.

“Caranya bagaimana? Snack yang kita buat harus bisa berkaitan dengan tren kecantikan ini. Misalnya detox bites. Semua wanita pasti ingin cantik dan menjaga kecantikannya selama mungkin. Detox bites ini akan mendorong pemikiran mereka untuk membeli snack buatan kita tapi tetap cantik dan sehat,” ucapnya lagi.

Pengaplikasiannya pada kemasan tentunya harus didukung dengan warna yang tepat dan komposisi yang, walaupun sedikit, tetap harus ada sesuai dengan apa yang diklaim pada kemasan.

“Misalnya, salah satu kemasan produk brownies. Kita tahunya brownies itu kan lemak, banyak gula. Pokoknya tidak sehat. Tapi mereka menambahkan Brownies Protein. Walaupun kandungan proteinnya sedikit, tapi mereka membuat tampilan yang menggambarkan suatu bentuk kesehatan, ya kata protein itu,” tutur Tuti.

Sehingga, untuk meningkatkan penjualan UMKM Snack, yang diperlukan adalah suatu proses pemikiran yang sejalan dengan tren dan menciptakan sesuatu yang memenuhi ekspektasi tren pasar.

Work smart, jangan cuma work hard. Kita tampilkan apa yang diinginkan konsumen dalam produk kita,” tandas Tuti.

Konsultan Kemasan Independen, Sri Julianti menyatakan snack berfungsi untuk menghilangkan rasa lapar, memberi pasokan energi ke tubuh dan sesuatu untuk dinikmati.

“Jadi bukan menu utama. Walaupun sekarang, makna ini sekarang menjadi kabur. Karena, saat ini, banyak variasi snack yang berasal dari makanan utama. Contohnya, chicken wings, yang dulu lauk peneman nasi sekarang bisa menjadi cemilan,” ujarnya dalam acara yang sama.

Menurut data, ada 91 persen masyarakat Indonesia memakan cemilan satu kali sehari. Sisanya memakan cemilan 3-4 kali sehari. Sementara, data lainnya, menunjukkan 78 persen dari masyarakat Indonesia, lebih sering memakan cemilan daripada menyantap makanan berat.

“Dari dua data tersebut, maka pelaku UMKM Snack harus melihat peluangnya. Artinya, harus menyediakan yang rasanya enak, sehat dan aman dalam kemasan yang menarik dan higienis,” tutur Julianti.

Tren snack saat ini adalah nabati dan organik. Tapi memang organik memiliki biaya yang lebih tinggi dibandingkan nabati.

“Jadi dikembangkan dari snack otentik dengan nama dan komposisi kekinian. Misalnya, pop corn tahu atau pancake boba. Itu kan digabungkan yang sudah ada sebelumnya dengan yang lagi ngetren. Atau Indonesia punya rengginang. Di luar negeri ada rice cracker, ini sama saja komposisinya. Yang rice cracker dikembangkan dengan menggunakan seaweed atau rumput laut, untuk menunjukkan nabati dan aspek sehat. Lalu kenapa rengginang tidak dikembangkan juga menuju yang nabati. Tapi tentunya, jangan identitas otentisitas rengginangnya hilang,” pungkasnya.

Lihat juga...