Penuhi Kebutuhan Keluarga, KWT di Sikka Tanam Sayuran

Editor: Makmun Hidayat

MAUMERE — Kelompok Wanita Tani (KWT) Tanah Terjanji di Bolawolon, Desa Watumilok, Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) menanam aneka hortikultura seperti sayuran yang dijual untuk menambah penghasilan.

“Uang dari hasil penjualan sayuran di kebun contoh maupun di kebun setiap anggota dipergunakan untuk membiayai kebutuhan keluarga,” kata Ketua KWT Tanah Terjanji, Adelina Dhejo saat ditemui di desanya, Selasa (1/6/2021).

Adel sapaanya menjelaskan, kelompok tani yang didirikan bulan November tahun 2020 ini beranggotakan 10 orang ibu-ibu yang tinggal di kompleks Lorong Tanah Terjanji.

Dalam menanam tanaman hortikultura, sebut dia, kelompoknya didampingi oleh LSM Caritas Keuskupan Maumere mulai dari penyediaan benih dan peralatan lainnya hingga mengajarkan penanaman dan membantu pemasaran produknya.

“Kami sudah 2 kali panen  kangkung,bayam,terung peria,lombok dan kacang panjang di kebun contoh. Lahannya milik susteran dan diberikan kepada kami untuk digarap,” ungkapnya.

Ketua KWT Tanah Terjanji Bolawolon, Adelina Dhejo saat ditemui di desanya, Selasa (1/6/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Adel menambahkan, semua anggota memiliki kesibukan lain bahkan 2 anggotanya bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Dinas Pertanian termasuk juga suami mereka.

Ia mengatakan, lahan yang digarap luasnya sekitar seperempat hektare dan memang ada permintaan untuk memperluas kebun namun masih fokus menyiapkan modal kelompok.

“Kami masih siapkan modal dulu untuk bor air sebab selama ini mempergunakan air dari rumah yang berdekatan dengan kebun contoh. Untuk penyiraman dan perawatan tanaman dibagi jadwal 2 kelompok dan masing-masing terdiri dari 5 orang,” terangnya.

Adel menyebutkan, setiap anggota kelompok memiliki jatah 3 hari memelihara tanaman seperti menyiram, membersihkan rumput dan mengganti tanaman yang mati.

Terkait pemasaran, kata dia, selain dibantu Caritas Keukupan Maumere, pihaknya pun memanfaatkan media sosial untuk menjual produknya.

Dia tambahkan, pertemuan evaluasi kegiatan kelompok dilaksanakan sebulan dua kali dengan melibatkan Caritas Maumere selaku pendamping.

“Saya pribadi sudah menjual sekitar Rp500 ribu dan semua anggota juga mempunyai kebun sendiri di rumah selain kebun contoh. Uang hasil penjualan kami sumbangkan juga ke Gereja Paroki Bolawolon sebesar Rp600 ribu,” ucapnya.

Adel mengaku menjadi ketua memang berat namun semua itu tetap dijalani mengingat anggotanya pun memiliki semangat untuk berkarya.

Staf Caritas Keuskupan Maumere, Komisi Pemberdayaan Sosial Ekonomi, Program Ketahanan Pangan, Matheus Manu mengatakan, saat ini pihaknya mendampingi 8 paroki salah satunya di Paroki Bolawolon.

Mateus menjelaskan, pendampingan yang dilakukan di kelompok tani menitikberatkan pada penanaman aneka jenis sayur-sayuran organik.

Menurutnya, ibu-ibu di kelompok tani Tanah Terjanji ini, cara kerja dan semangatnya luar biasa. “Satu hal yang membanggakan kami, mereka sudah memproduksi sayur organik dan menjualnya secara online melalui media sosial,” ucapnya.

Mateus mengakui, saat pandemi Covid-19 setidaknya ekonomi masyarakat terganggu sehingga pendampingan petani bertujuan menambah penghasilan dari penjualan produk pertanian.

Menurutnya, pihaknya bergerak bukan hanya di kebun contoh saja tetapi memfasilitasi di kebun pribadi dan halaman rumah setiap anggota kelompok.

“Kami harapkan anggota kelompok tani ini menjadi motor penggerak bagi ibu-ibu yang lain atau rasul penggerak sosial ekonomi di parokinya,” pesannya.

Lihat juga...