Perairan Legundi Cocok untuk Budi Daya Rumput Laut Spinosum

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Arus laut memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan budidaya rumput laut.

Amran Hadi, pembudidaya rumput laut jenis Eucheuma Spinosum menyebut perairan pantai Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan cukup mendukung. Sebab perairan timur tersebut terlindung sekitar lima pulau kecil. Terlindung oleh pulau pulau kecil membuat arus laut stabil.

Kisworo Ramdan (kiri) salah satu asesor dari Lembaga Sertifikasi Profesi Kelautan dan Perikanan menguji kompetensi Amran Hadi (kanan) pembudidaya rumput laut spinosum di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Senin (7/6/2021) – Foto: Henk Widi

Amran Hadi yang juga ketua Kelompok Pembudidaya Rumput Laut Sinar Semendo itu menyebut arus laut cukup baik. Perputaran pasokan udara atau aerasi, perputaran nutrisi dan pengadukan air arus selatan dan utara mendukung kecepatan tumbuh Eucheuma Spinosum.

Arus laut yang sedang oleh keberadaan pulau pulau kecil sebutnya menjaga thallus atau batang rumput laut.

“Berkat lindungan pulau Suling, pulau Seram, pulau Keramat dan pulau kecil lainnya potensi kerusakan imbas arus laut pada thallus atau batang yang kerap patah bisa terhindarkan, terutama saat terjadi arus dan hempasan ombak yang kuat,” terang Amran Hadi saat ditemui Cendana News, Senin (7/6/2021).

Amran Hadi menyebut arus laut yang terlalu kuat bisa menyebabkan thallus rumput laut patah. Selain oleh arus, thallus kerap diserang hama bulu babi, ikan semadar dan lumut hijau.

Arus laut dari Laut Jawa, Selat Sunda yang mengalir melalui sejumlah pulau ideal untuk budidaya. Selain untuk rumput laut sebagian anggota kelompok Sinar Semendo membudidayakan kerang hijau.

Faktor lain yang mendukung budidaya rumput laut sebut Amran Hadi, pengaruh kecerahan perairan. Lokasi yang menghadap timur dengan pencahayaan matahari baik mendukung fotosintesis.

Cahaya matahari sebutnya bisa menempus perairan dangkal hingga kedalaman 1 hingga 5 meter. Selain pasokan sinar matahari, perairan yang jauh dari sungai mendukung lokasi terbebas dari pencemaran.

“Minimnya bahan pencemar mendorong pertumbuhan rumput laut Eucheuma Spinosum yang dikembangkan petani,” ulasnya.

Petani pembudidaya rumput laut sebut Amran Hadi memanfaatkan tonggak kayu, bambu. Satu bentangan media tanam berupa tambang sepanjang 30 meter bisa ditanami ratusan bibit.

Masa panen Eucheuma Spinosum sebutnya bisa berlangsung setelah 45 hari. Selain memperhatikan kualitas arus, perairan ia menyebut penanganan pasca panen menentukan kualitas. Pengeringan dilakukan untuk menurunkan kadar air sebelum dijual.

Kelayakan hidup Eucheuma Spinosum sebut Amran Hadi dipengaruhi suhu. Perairan terbuka yang selalu terkena sinar matahari namun terlindung pulau mendukung pertumbuhan rumput laut.

Kadar garam atau salinitas perairan yang mendukung membuat rumput laut tumbuh subur. Penanaman sebanyak satu siklus sebutnya bisa menghasilkan hingga 1 ton sebagian digunakan untuk bibit.

“Kendala kami saat ini sulit memperoleh bibit berkualitas sehingga harus memakai bibit terusan hasil panen,” ujar Amran Hadi.

Juarsih, pembudiaya rumput laut di desa yang sama menyebut kadar keragenan Eucheuma Spinosum cukup baik. Kualitas perairan yang baik sebutnya menghasilkan karagenofit atau keragenan untuk agar agar.

Bahan tersebut bisa dimanfaatkan untuk bahan pangan, kosmetik dan kesehatan. Jenis Eucheuma Spinosum sebutnya banyak digunakan untuk industri farmasi, makanan, kosmetik sebagai campuran.

Harga per kilogram rumput laut kering sebut Juarsih mencapai Rp10.000. Pemesan hasil panen sebutnya melakukan survei lokasi budidaya.

Sebab kualitas perairan menjadi penentu kualitas hasil panen. Selain untuk digunakan pada pabrik agar agar, ia melayani permintaan untuk usaha minuman. Kualitas agar agar yang dihasilkan dari perairan bersih mendorong tingkat keyakinan pembeli (buyer).

“Konsumen bisa melihat sistem budidaya rumput laut secara langsung sehingga tahu kualitasnya,” tegas Juarsih.

Kisworo Ramdan, asesor dari Lembaga Sertifikasi Profesi Kelautan dan Perikanan menyebut kualitas SDM juga mutlak diperlukan.

Sumber daya manusia khususnya edukasi cara budidaya yang baik, pengetahuan perlu dikuasai pembudidaya. Uji kompetensi bagi pembudidaya mutlak dilakukan untuk mengetahui cara budidaya rumput laut yang baik dan benar.

Melalui uji kompetensi, pembudidaya Eucheuma Spinosum dibekali ilmu budidaya. Selama ini sebagian pembudidaya memakai sistem tradisional. Hanya saja penanganan saat budidaya hingga pasca panen bisa mempengaruhi kualitas.

Agar kualitas keragenan terjaga, edukasi dilakukan dengan pelatihan. Pelatihan dilakukan dengan materi pemilihan bibit hingga pengeringan menjaga mutu hasil budidaya.

Selain mengedukasi tata budidaya yang baik, asesor sebut Kisworo Ramdan bisa membantu petani. Hasil budidaya petani bisa direkomendasikan ke pemakai rumput laut.

Sebab kualitas rumput laut yang baik akan terserap oleh pasar lokal dan luar negeri. Melalui budidaya yang baik dan benar pembudidaya juga berpeluang menjadi penyedia bibit bagi pembudidaya lain.

Lihat juga...