Perajin Batu Bata di Lamsel Masih Andalkan Kayu Bakar

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sektor usaha pembuatan batu bata dan genteng di Lampung Selatan, masih bergantung pada suplai kayu untuk melakukan pembakaran. Selain itu, juga sekam padi dan limbah penggergajian kayu.

Sriyanto, perajin batu bata di Desa Tanjungsari, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, menyebut kayu bakar didatangkan dari sejumlah pengepul. Selain kayu bakar, kebutuhan untuk produksi batu bata berupa sekam padi dan serbuk gergaji. Pengepul akan menawarkan bahan tersebut menjelang proses pembakaran.

“Pembakaran batu bata menyesuaikan target kuota permintaan pelanggan. Pengepul kayu bakar, sekam padi dan serbuk gergaji akan menawarkan bahan bakar beberapa pekan jelang pembakaran. Satu kali proses pembakaran, dibutuhkan kayu bakar sebanyak 3 mobil L300, 10 karung sekam dan 10 karung serbuk gergaji,” terang Sriyanto saat ditemui Cendana News, Selasa (8/6/2021).

Sebagai bahan utama pembakaran batu bata, Sriyanto bilang kayu diperoleh dari limbah gergajian. Sejumlah tempat pengetaman atau usaha penggergajian menghasilkan sebetan atau sisa kayu tidak terpakai. Kayu bahan bakar tersebut dibeli seharga Rp350.000 per mobil L300. Per karung sekam dan serbuk gergaji dibeli seharga Rp3.000.

Membeli pohon roboh sebagai bahan kayu bakar dijadikan peluang Sudakir memenuhi permintaan kayu bakar di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Selasa (8/6/2021). -Foto: Henk Widi

“Pembelian kerap dilakukan bertahap agar tidak membebani, saat proses pencetakan batu bata pengepul sudah mengirim kayu bakar sembari menunggu kering, karena pembayaran kayu juga akan dilakukan saat batu bata sudah laku terjual kepada konsumen,” terang Sriyanto.

Sriyanto mengatakan, relasi antara pengepul kayu, sekam dan serbuk gergaji sudah terjalin lama. Kebutuhan saling menguntungkan tersebut menjadi peluang bagi dua pelaku usaha. Bagi usaha penggergajian kayu, limbah sebetan dan serbuk gergaji akan lebih cepat bersih. Bagi produsen batu bata, bahan pembakaran bisa diperoleh tanpa harus mencari, bahkan diantar sampai lokasi.

Sriyanto bilang, biaya operasional bahan bakar kayu, sekam dan serbuk gergaji menjadi modal produksi. Biaya yang dikeluarkan bisa mencapai Rp3juta. Setelah melakukan produksi batu bata sebanyak 20.000 buah, ia akan menjualnya ke konsumen. Selain konsumen perseorangan, batu bata kerap dipesan oleh toko bangunan. Per seribu batu bata dijual Rp300.000 di tempat atau belum termasuk biaya bongkar muat.

“Total penjualan batu bata sebanyak 20.000 buah bisa mencapai Rp6 juta, dikurangi biaya operasional masih bisa untung Rp2 juta sekali produksi,” ulasnya.

Pentingnya pemasok kayu bagi usaha batu bata dan genteng juga diakui Ponimin. Produsen batu bata di desa yang sama itu mengaku telah memiliki pemasok tetap. Kayu bakar didatangkan dari wilayah Kecamatan Penengahan. Jenis kayu yang dipergunakan untuk pembakaran batu bata dominan kayu hasil perombakan kebun. Jenis kayu jengkol, petai, medang, bayur, karet dan kayu keras lainnya diperoleh dari pemasok.

“Selain membeli, saya kerap dibantu istri yang mencari pelepah kelapa, kayu kering yang dikumpulkan sebelum pembakaran,” cetusnya.

Ia menjelaskan, jenis kayu keras tetap diperlukan untuk meningkatkan kualitas batu bata. Jenis kayu bayur, karet yang keras akan memiliki tingkat panas lebih tinggi. Bagi proses pembakaran batu bata, suhu yang tinggi membuat kematangan batu bata lebih baik. Membeli kayu bakar dari pemasok, sekaligus memberi sumber penghasilan. Sebab, membayar Rp350.000 untuk per mobil L300 cukup sebanding dengan hasil kayu yang diperoleh.

Khusus untuk sekam padi, Ponimin memilih mengumpulkannya dari pabrik penggilingan padi. Tanpa harus membeli, ia kerap bermodalkan karung dan menampungnya. Proses pengangkutan akan dilakukan malam hari setelah pencetakan batu bata. Pengangkutan sekam padi yang ringan dilakukan dengan motor. Sekam diperlukan untuk mengisi sela sela batu bata agar pematangan sempurna.

Sudakir, pengepul kayu bakar, menyebut telah memiliki konsumen tetap. Warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan itu memasok kayu bakar ke warung makan, restoran, produsen genteng, batu bata hingga rumah tangga. Kayu bakar diperoleh dengan cara membeli dari petani. Pohon tumbang, tanaman yang akan dirombak, men jadi peluang baginya.

“Konsumen tetap salah satunya Ponimin dan produsen batu bata, genteng di Kecamatan Palas, rutin minta kayu bakar per bulan,” ulasnya.

Bermodalkan gergaji mesin dan kendaraan pengangkut, ia bisa memenuhi permintaan konsumen. Per pekan, ia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp1juta dari pengiriman kayu bakar. Beberapa pemilik kebun karet yang sudah tidak produktif,  kerap menjual kayu untuk bahan bakar. Pembelian dengan sistem borongan membuatnya memiliki stok untuk dikirim ke konsumen yang membutuhkan.

Lihat juga...