Petani di Lamtim Pertahankan Pola Tanam Jajar Legowo

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Petani di Lampung Timur menjaga kearifan lokal dalam budi daya padi dengan sistem jajar legowo. Menurut para petani, sistem jajar legowo memudahkan proses pemupukan dan penyiangan gulma, dan mampu meningkatkan produktivitas padi.

Triani, salah satu buruh tanam, menyebut pemilik lahan sawah telah membuat pola garis untuk penanaman padi. Sistem jajar legowo atau kerap disebut Si Jarwo menjadi salah satu pola tanam padi berselang-seling antara dua atau lebih baris tanaman padi diselingi baris kosong.

Bagi buruh tanam, penyiapan garis sebagai pola tanam memudahkan penanaman bibit. Bibit padi varietas Mapan ditanam dengan sistem legowo yang berasal dari bahasa Jawa bermakna luas dan dowo berarti memanjang. Pembuatan sistem jajar legowo memperbanyak tanaman padi pada bagian pinggir. Makin banyak rumpun di pinggir, hasil bulir padi akan lebih produktif.

Menurut Triani, petani di Desa Braja Yekti, Kecamatan Braja Selebah, Kabupaten Lampung Timur, telah menerapkan Si Jarwo sejak puluhan tahun silam. Varietas padi Mapan yang bisa dipanen saat 90 hari setelah tanam (hst) memiliki anakan dan malai lebih banyak. Penjarangan tanaman mengoptimalkan pertumbuhan, asupan pupuk lebih bagus dan sinar matahari yang diperoleh lebih banyak.

Triani (kanan), menanam padi usia 25 hari pada lahan milik Supami di Desa Braja Yekti, Kecamatan Braja Selebah, Kabupaten Lampung Timur, Senin (7/6/2021). -Foto: Henk Widi

“Petani menerapkan sistem jajar legowo untuk mengatur kerapatan tanaman, dengan membuat jarak tanam memakai perbandingan 2 banding 1 dengan jarak tanam 30 x 15 x 40 cm, memungkinkan adanya ruang terbuka yang lebih lebar berdampak pada produktivitas tanaman meningkat,” terang Triani, saat ditemui Cendana News, Senin (7/6/2021).

Pada penerapan sistem jajar legowo, Triani yang juga memiliki lahan sawah mengaku akan lebih mudah melakukan penyulaman. Penyulaman benih tanaman padi mutlak dilakukan saat terjadi serangan hama keong mas.  Penerapan sistem penanaman dengan jajar legowo akan memudahkan proses penyiangan gulma rumput. Jarak tanaman yang diatur akan memudahkan proses penyiangan gulma dengan sosrok.

Sebelumnya tanpa sistem jajar legowo, tanaman padi yang rapat kerap terserang hama tikus. Sistem jajar legowo atau ubinan dengan membuat kotak-kotak media tanam memudahkan proses pemupukan. Pemupukan pertama yang dilakukan pada saat tanaman berusia 20 hari akan lebih mudah dilakukan.

“Jarak tanaman yang teratur memudahkan petani melakukan pemupukan pada lahan yang berbentuk ubinan,” terang Triani.

Supami, pemilik lahan, menyebut sistem jajar legowo terbukti efektif meningkatkan produktivitas bulir padi. Pada lahan satu hektare varietas padi hibrida Mapan, sebutnya, bisa mendapat hasil 8 ton per hektare.  Jumlah anakan setiap rumpun bisa mencapai 20 hingga 30 anakan. Memakai sistem jajar legowo, jumlah malai pada tanaman padi miliknya bisa mencapai 180 hingga 250 butir.

Penanaman padi hibrida jenis mapan dengan sistem jajar legowo, menghindari rebah tanaman. Sebab, dengan adanya jarak antartanaman akan memudahkan alur angin. Sebagai varietas hibrida dengan tinggi tanaman antara 110-115 cm, relatif tahan rebah. Saat penghujan disertai angin, tanaman tidak mengalami rebah sehingga kerugian berkurangnya bulir bisa dicegah.

“Sistem jajar legowo akan meningkatkan jumlah bulir padi yang dihasilkan, karena proses pemupukan, pengurangan gulma bisa dilakukan,”ulasnya.

Zaenal, petani di desa yang sama menyebut penerapan jajar legowo butuh proses bertahap. Usai proses pengolahan lahan dengan traktor lahan sawah, selanjutnya akan dihaluskan. Memakai serokan, media tanam akan dihamparkan untuk selanjutnya dibuat garis memakai tambang. Pembuatan garis dengan memakai tali bertujuan untuk menciptakan ubinan.

“Sembari menunggu bibit tanaman padi siap dipindahkan, pembuatan garis pola tanam dilalukan dari bagian tengah,” ulasnya.

Pengaturan jarak tanam yang dibuat dengan pola tertentu, akan memungkinkan padi mendapat unsur hara seimbang. Pembuatan garis tanaman bisa dilakukan dengan alat caplak berbentuk kotak. Caplak memudahkan buruh tanam menanam bibit padi pada kotak yang disiapkan. Pembuatan lorong atau jarak antartanaman memudahkan petani saat melakukan pemupukan dan penyiangan gulma.

Lihat juga...