Petani di Sikka Minta Distan Perhatikan Kuota Pupuk

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta memperhatikan pembagian kuota pupuk bagi petani, mengingat saat ini banyak sekali bermunculan kelompok tani terutama yang bergerak di hortikultura.

Petani hortikultura di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, NTT, Yance Maring saat ditemui di kebunnya, Sabtu (29/5/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Dinas Pertanian perlu memperhatikan fenomena kemunculan petani baru, terutama petani muda yang mulai terjun bermain di sektor hortikultura, sehingga kuota pupuk bagi petani tidak terganggu,” harap Yance Maring, petani muda di Kelurahan Wailiti, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT saat dihubungi, Sabtu (5/6/2021).

Yance mengharapkan agar Dinas Pertanian melakukan pendataan terhadap kelompok-kelompok tani yang baru bermunculan, terutama di sektor hortikultura. Petani ini, membuka lahan dalam jumlah besar sehingga pastinya membutuhkan banyak pupuk dalam mengolah lahan pertanian.

Ia katakan, adanya pendataan secara pasti dan membagi kuota pupuk di setiap kecamatan tentunya membuat setiap petani tidak kekurangan.

“Pembelian pupuk kimia di distributor harus menyertakan KTP dan kuota setiap kecamatan terbatas. Sering sekali petani di suatu kecamatan kekurangan pupuk karena sudah habis dibeli petani lainnya,” ucapnya.

Lanjutnya, pendataan penting agar bisa diketahui pasti berapa kebutuhan pupuk bagi petani karena pembukaan lahan hortikultura kian gencar beberapa tahun ini.

“Kalau tidak dilakukan pendataan, maka mengakibatkan petani lainnya bisa-bisa tidak mendapatkan pupuk karena kuota pupuk untuk kecamatannya sudah habis,” ucapnya.

Petani di Desa Nitakloang,Kecamatan Nita, Eustakius Bogar mengatakan, banyak petani di kelompok taninya yang mengeluhkan tidak mendapatkan pupuk, meski kuota pupuk miliknya belum dipergunakan.

Eus katakan, ada juga petani yang mengeluh saat hendak membeli pupuk di distributor, dikatakan bahwa kuota pupuk untuk kecamatannya sudah habis, padahal petani baru membelinya setengah dari jatah pupuk miliknya.

“Kita berharap agar Dinas Pertanian segera melakukan pendataan dan memastikan berapa kebutuhan pupuk untuk setiap kelompok tani. Apabila pupuk tidak diperoleh maka akan berdampak terhadap produktivitas,” ucapnya.

Lihat juga...