Petani di Temon Minta Pemerintah Renovasi Saluran Irigasi Tua

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Sejumlah petani di Kabupaten Kulonprogo meminta pemerintah melakukan perbaikan atau renovasi secara berkala terhadap sejumlah infrastruktur pertanian yang telah berumur tua dan terbengkalai.

Renovasi permanen itu diperlukan agar infrastruktur pertanian seperti saluran irigasi, selokan maupun jaringan irigasi lainnya bisa dimanfaatkan secara maksimal oleh petani serta tidak mengalami kerusakan secara tiba-tiba.

Para petani menyebut banyaknya saluran irigasi tua yang rusak, tak jarang kerap membuat petani repor lantaran mereka harus memperbaiki sendiri secara swadaya. Belum lagi adanya sejumlah tanggul yang tiba-tiba jebol juga kerap berdampak pada lahan milik petani.

“Karena sudah tua dan tidak ada perbaikan sama sekali, kadang tanggul irigasi tiba-tiba jebol. Seperti pada beberapa hari kemarin, saat terjadi hujan deras. Akibatnya luapan air menggenangi lahan petani,” ujar salah seorang petani asal Temon Wetan, Temon, Kulonprogo, Mardirejo, Senin (21/6/2021).

Salah seorang petani asal Temon Wetan, Temon, Kulonprogo, Mardirejo, dijumpai Senin (21/6/2021). Foto: Jatmika H Kusmargana

Luapan air tersebut dikatakan membuat beberapa petak lahan cabai milik petani mengalami gagal panen. Gagal panen terjadi akibat seluruh lahan cabai milik petani tergenang air hingga 50 cm lebih. Akibatnya seluruh tanaman cabai milik petani mati.

“Di kawasan ini setidaknya ada 4 petak lahan pertanian cabai yang terendam air. Sehingga mengakibatkan semua tanaman cabai mati. Jelas ini membuat semua petani merugi sampai jutaan rupiah,” katanya.

Mardirejo mencontohkan, salah satu petak lahan cabai yang tergenang air dan mengalami gagal panen itu adalah milik salah seorang rekannya. Lahan seluas 1500 meter itu tergenang air hingga mencapai 50 cm. Padahal tanaman cabai yang ditanam baru berusia sekitar 20 hari.

“Kemarin baru saja ditanam bibit cabai sebanyak 19 kotak. Baru usia 20 hari. Tapi karena terendam air semalaman, langsung mati semua. Kerugiannya kalau dihitung-hitung ya mencapai Rp1,5 juta. Karena satu kotak bibit harganya Rp75ribu. Itu belum termasuk ongkos untuk tenaga, pupuk, obat, dan lain-lain,” ungkapnya.

Para petani pun hanya bisa berharap agar pihak terkait dapat mengantisipasi hal-hal semacam ini. Yakni dengan melakukan perawatan ataupun perbaikan saluran irigasi secara permanen. Agar jebolnya tanggul semacam ini tidak terulang kembali.

“Kalau kita petani yang memperbaiki, ya jelas tidak mampu karena tidak punya biaya. Paling memperbaiki ya hanya untuk sementara. Suatu saat kalau tidak dilakukan perbaikan permanen pasti juga akan jebol lagi,” pungkasnya.

Lihat juga...