Petani Ngawen Gunung Kidul Panen Padi Hibrida 11,6 Ton per-Hektare

Panen di Gunung Kidul panen padi hibrida - Foto Ant

GUNUNG KIDUL – Petani di Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada awal Juni 2021 ini panen raya padi hibrida varietas Supadi 56. Panen dilakukan di lahan seluas 17 hektare (ha), dengan produktivitas 11,6 ton Gabah Kering Panen (GKP) perha.

Ketua Gapoktan Mertani, Kampung Ngawen, Sukirno mengatakan, kelompoknya menanam padi hibrida varietas Supadi 56 di lahan seluas 17 dari 30 hektare lahan yang ada di kelompoknya. “Produktivitas padi hibrida ini sangat memuaskan, hingga mencapai 11,6 ton gabah kering panen per-hektare atau setara dengan 9,4 ton gabah kering giling per-hektare,” kata Sukirno, Minggu (6/6/2021).

Ia memperkirakan, pendapatan kotor yang diperoleh dari hasil panen ini mencapai Rp671,16 juta. Angka ini dihitung berdasarkan harga gabah yang mencapai Rp4.200,00 per kilogram. Kalau dihitung per hektare, pendapatan kotornya sekira Rp39,48 juta. “Ke depan, kami akan menggunakan varietas padi ini, sehingga meningkatkan pendapatan petani,” tandasnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunung Kidul, Bambang Wisnu Broto menyebut, padi hibrida yang dipanen bernama Supadi 56. Jenis ini menghasilkan 11,6 ton gabah kering panen per hektare. Hasil panen di Ngawen tersebut tergolong tinggi. Hal tersebut didukung kondisi cuaca yang baik, sehingga hasil yang didapat bisa lebih maksimal.

Menurutnya, hingga Mei 2021, Gunung Kidul masih mendapatkan hujan rata-rata dua hari. Adapun angka curah hujannya mencapai 16,2 milimeter (mm). “Hal itu pula yang bisa membantu petani Ngawen untuk mendapatkan panen padi ini secara maksimal,” katanya.

Bambang berharap, petani melakukan budi daya tanaman pangan dengan baik, sehingga hasilnya bisa optimal. Mereka juga diharapkan berpegang pada filosofi Lumbung Mataraman. Filosofi khas masyarakat petani DIY tersebut berarti makan apa yang bisa ditanam dan menanam apa yang dimakan.

Prinsip tersebut juga menjadi upaya, untuk menjaga ketahanan pangan di Gunung Kidul. “Kami berharap kegiatan pertanian keluarga juga terus bertahan dan berkembang ke depan,” harap Bambang. (Ant)

Lihat juga...