Petulo, Jajanan Khas Malang yang Masih Digemari

Editor: Koko Triarko

MALANG – Salah satu jajanan tradisional di kota Malang, Jawa Timur, yang disebut Petulo, hingga kini masih digemari. Makanan yang terbuat dari tepung beras dan tapioka ini biasa dibuat dengan warna klasik hijau dan merah muda.

Latifatu Sa’diah, pembuat petulo di desa Kedungkandang, Malang, mengatakan, untuk membuat petulo sebenarnya cukup mudah. Apalagi, bahan-bahan yang dibutuhkan tidak banyak dan mudah diperoleh. Hanya membutuhkan tepung beras dan tepung kanji dan sedikit garam.

“Kalau tepung beras 1 kg, tepung kanjinya saya kasih 250 gram,” ucapnya kepada Cendana News, Sabtu (19/6/2021).

Latifatu Sa’diah, menunjukkan proses pengukusan petulo di rumahnya di Malang, Jawa Timur, Jumat (18/6/2021). -Foto: Agus Nurchaliq

Selanjutnya, tepung dikukus hingga panas. Masukkan tepung ke dalam wadah, kemudian masukkan air panas sedikit demi sedikit sambil diuleni hingga kalis.

Berikutnya, bagi adonan menjadi dua dan tambahkan pewarna makanan berwarna merah muda dan hijau.

“Petulo memang ciri khasnya warna merah muda dan hijau. Karena biasanya orang-orang gak mau kalau selain dua warna itu,” sebutnya.

Setelah diberi pewarna, selanjutnya adonan dicetak, kemudian dikukus lagi selama 15 menit hingga matang dan siap untuk dikemas.

Satu kemasan plastik biasanya diisi empat buah petulo dan dijual dengan harga Rp2.000 per plastik.

“Sekali produksi antara 25-30 kg, bisa jadi 520 kemasan. Kemudian biasanya kita pasarkan dengan cara menitipkannya di mlijo-mlijo yang ada di pasar,” terangnya.

Dikatakan Latifa, untuk menikmati petulo sebenarnya harus dihidangkan bersama kuah santan yang rasanya manis dan gurih. Hanya saja, ia lebih memilih menjual petulo saja tanpa kuah santan.

“Kalau kuahnya ini cara buatnya mudah, apalagi sekarang sudah ada santan instan. Cukup mencampurkan santan dengan gula kemudian dididihkan. Jadi, pembeli bisa membuat kuahnya sesuai selera masing-masing,” tuturnya.

Menurut Latifa, selain dibantu sang suami, dalam membuat Petulo ia juga dibantu oleh saudara maupun tetangga.

“Saya ambil tenaga untuk bantu-bantu, itu biasanya dari keluarga sendiri, kalau keluarga tidak mampu baru ambil dari tetangga. Jadi, kita utamakan dari orang terdekat lebih dulu. Mereka ini yang biasanya kami perbantukan untuk proses mencetak petulo,” jelasnya.

Untuk cetakan petulo, sementara ini ia mengaku masih menggunakan yang manual. Tapi, ke depan ada keinginan untuk menggunakan yang otomatis memakai mesin, agar hasilnya lebih maksimal.

Salah satu pedagang mlijo, Rohimim, mengakau hampir setiap hari mendapat titipan petulo dari Latifa.

“Alhamdulillah, kalau petulonya dititipkan di sini selalu habis terjual. Bahkan, terkadang ada pembeli yang sengaja memesannya,” pungkasnya.

Lihat juga...