Pinjaman Online Ilegal Marak, OJK Lampung Minta Warga Berhati-Hati

Ilustrasi pinjaman online - Foto Ant

BANDARLAMPUNG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung meminta, masyarakat mewaspadai keberadaan pinjaman online (Pinjol) ilegal. Ciri-ciri aktivitas pinjaman online (pinjol) ilegal atau rentenir online yang kian marak, harus dikenali oleh masyarakat.

“Agar terhindar dari jeratan pinjaman online ilegal atau rentenir online yang marak saat ini, ada beberapa ciri yang harus dikenali masyarakat,” kata Kepala OJK Provinsi Lampung, Bambang Hermanto, Kamis (24/6/2021).

Ciri-ciri yang dapat diketahui masyarakat, biasanya kerap melakukan penawaran melalui sms spam, kemudian fee sangat tinggi bisa mencapai 40 persen dari jumlah pinjaman. Kemudian, suku bunga dan denda sangat tinggi, bisa mencapai satu persen hingga empat persen per-hari.

Selain itu, pinjol ilegal juga memberikan jangka waktu pelunasan sangat singkat, yang tidak sesuai kesepakatan. Meminta akses data di ponsel, seperti kontak, foto dan video, yang akan digunakan untuk meneror peminjam saat gagal bayar.

Saat melakukan penagihan, tidak beretika dengan melakukan teror, intimidasi dan pelecehan, serta tidak memiliki layanan pengaduan dan identitas kantor yang jelas. “Agar tidak terjebak, masyarakat bisa datang langsung ke OJK atau kontak 157, untuk mengetahui pinjol yang telah terdaftar dan berada di bawah pengawasan di OJK,” jelasnya.

Keberadaan pinjol ilegal disebutnya sangat meresahkan dan merugikan masyarakat, banyak warga yang menjadi korban aksi teror termasuk di Provinsi Lampung. Menanggapi keberadaan pinjol ilegal, salah seorang warga Durian Payung Bandarlampung, Lazuardi, mengaku sering mendapat SMS dari pinjol yang menawarkan dana pinjaman.

Namun, melihat banyak kasus yang terjadi, Lazuardi memilih tidak berhubungan dengan pinjol terutama yang ilegal. Karena dampaknya sangat merugikan, jika gagal bayar atau terlambat mencicil. “Aksi teror yang dilakukan pinjol ilegal pernah saya dengar, karena nasabah gagal membayar, akibat hal itu banyak juga nasabah yang depresi karena ditagih secara kasar dan tidak beretika,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...