PPDB SMA Digelar ‘Online’ Kunjungan Konsultasi ke Sekolah Minim

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Semakin melek masyarakat dalam memanfaatkan teknologi informasi membuat proses penyelenggaraan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sistem online tingkat SMA/SMK di Yogyakarta tahun 2021 ini berjalan semakin baik.

Hal ini terlihat dari semakin minimnya orang tua/wali murid atau pun calon siswa yang datang ke sekolah untuk melakukan konsultasi atau pendampingan terkait mekanisme proses pendaftaran sekolah. Salah satu pihak sekolah yakni SMA Negeri 5 Yogyakarta, membenarkan hal tersebut.

“Dibandingkan tahun lalu, jumlah orang tua/wali murid yang melakukan konsultasi ke sekolah semakin berkurang. Sejak dibuka Senin kemarin baru ada beberapa orang saja yang datang. Itu pun mereka tidak berkonsultasi terkait mekanisme pendaftaran, namun lebih ke pertimbangan lain,” ujar Sapto Nugroho, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, SMA Negeri 5 Yogyakarta, Kamis (24/6/2021).

Sapto Nugroho, Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum, SMA Negeri 5 Yogyakarta, Kamis (24/6/2021). Foto: Jatmika H Kusmargana

Dikatakan Sapto, tahapan proses PPDB tingkat SMA/SMK di Yogyakarta mulai berlangsung sejak Senin kemarin. Seperti tahun-tahun sebelumnya, PPDB tingkat SMA/SMK digelar sepenuhnya menggunakan sistem online. Hal ini memungkinkan siswa tak perlu datang sama sekali ke sekolah, karena setiap tahapan proses PPDB bisa dilakukan di rumah masing-masing.

“Karena sudah berjalan selama beberapa tahun terakhir, sistem online  ini sudah semakin dipahami masyarakat. Karena sudah semakin terbiasa. Selain memudahkan calon siswa, pihak sekolah juga lebih diuntungkan. Karena sekolah tidak perlu melakukan verifikasi berkas sama sekali,” ujarnya.

Meski begitu Sapto menyebut masih ada sejumlah kekurangan yang harus diperbaiki Disdikpora DIY dalam pelaksanaan PPDB tingkat SMA/SMK di DIY.

Antara lain terkait sosialisasi tahapan atau jadwal pelaksanaan setiap proses PPDB. Di mana hingga saat ini ternyata masih ada saja calon siswa yang belum mendapatkan sosialisasi tersebut dengan baik.

“Ada kasus siswa asal luar daerah yang sudah mengikuti ujian ASDP sebagai syarat ikut seleksi PPDB. Namun ternyata yang bersangkutan tidak melakukan input data secara online, karena tidak tahu. Sehingga terpaksa harus didiskualifikasi karena jadwalnya sudah tutup,” katanya.

Hal yang sama juga dialami calon siswa lain pada jalur afirmasi/siswa kurang mampu pemegang kartu KMS.

Di mana siswa bersangkutan terpaksa harus didiskualifikasi dari proses PPDB karena tidak melakukan proses upload surat keterangan tidak mampu dari dinas terkait. Lagi-lagi proses ini terlewati karena kurangnya sosialisasi.

“Kalau sudah seperti itu, sekolah tidak bisa berbuat apa-apa, karena memang mekanismenya seperti itu. Jadi memang mestinya sosialisasi terkait jadwal tahapan PPDB ini harus diperbaiki. Sehingga tidak ada siswa yang dirugikan. Sebaliknya, siswa juga harus aktif mencari informasi secara detail terkait tahapan proses PPDB,” katanya.

Meski PPDB tingkat SMA/SMK di Yogyakarta tahun ini sepenuhnya dilakukan secara online, pihak sekolah sendiri tetap membuka layanan konsultasi dan pendampingan bagi orang tua/wali murid dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat.

Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan adanya kesalahan informasi sebagaimana terjadi pada kasus sebelumnya.

Lihat juga...