PPKM Mulai Berdampak ke Sektor Usaha Kuliner di Banyumas

Editor: Koko Triarko

PURWOKERTO – Meningkatnya kasus Covid-19 disertai penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), mulai membawa dampak terhadap usaha kuliner di Kabupaten Banyumas. Para pelaku usaha kuliner mengaku mengalami penurunan omzet penjualan dalam satu bulan terakhir.

Sebagaimana dikeluhkan penjual ayam geprek di Jalan A Yani Kota Purwokerto, Sri Gito. Biasanya, dalam satu hari ia bisa menjual habis ayam geprek dan ayam bakar hingga 50 ekor lebih. Meskipun hanya berjualan di kios kecil di tepi jalan raya, namun warung ayam geprek milik Sri Gito selalu ramai pembeli.

Namun dalam sebulan terakhir, penjualan ayam geprek mulai menurun. Sehingga terpaksa Sri Gito mengurangi produksi ayam geprek dan ayam bakarnya.

“Sekarang pembeli turun, jalanan saja sepi, jadi saya terpaksa mengurangi produksi. Biasanya sampai 50 ekor lebih, sekarang hanya sekitar 30 ekor, itupun waktu berjualan lebih lama,” tuturnya, Selasa (29/6/2021).

Menurut Sri Gito, sebenarnya pembatasan jam berjualan yang diberilakukan bagi pedagang kaki lima (PKL) maupun warung-warung makan tidak begitu berpengaruh terhadapnya. Karena ia biasa berjualan mulai siang hari dan menjelang malam pukul 19.00 WIB, dagangannya sudah habis. Penurunan omzet yang dialaminya murni karena memang pembeli sepi.

“Sekarang mau berjualan sampai malampun kalau pembeli sepi, ya tetap saja dagangan tidak laku. Orang sekarang banyak yang enggan keluar rumah, karena kasus Covid-19 menigkat lagi. Dan, banyak pula yang menjalani karantina di rumah, jadi tetap saja jalanan sepi,” katanya.

Makanan olahan ayam di Kota Purwokerto, bisanya selalu banyak diminati pembeli, termasuk ayam geprek. Bahkan ayam geprek menjadi menu ayam favorit, karena rasanya yang gurih pedas. Ayam dengan balutan tepung renyah, dipadukan dengan sambal pedas yang kental aroma bawang.Tingkat kepedasannya bisa dipesan sesuai selera pembeli, tinggal memesan menggunakan berapa biji cabai

Selain ayam geprek, Sri Gito juga menyediakan ayam bakar lengkap dengan sambal dan lalapan. Konsumen bisa hanya membeli lauk ayam saja ataupun bisa juga dengan nasi. Untuk satu potong ayam geprek berukuran cukup besar, hanya dijual Rp12.000.

Salah satu pelanggan ayam geprek, Liswati mengatakan ayam geprek Sri Gito sangat cocok buat lauk makan dan ukuran ayam juga besar, sehingga mantap jika disantap. Liswati mengaku, jika dalam beberapa pekan terakhir, ia memang agak mengurangi berbelanja makanan matang di luar dan memilih untuk masak sendiri.

“Sekarang situasinya lagi sedikit menegangkan, jadi lebih sering masak sendiri. Paling dalam satu minggu hanya sekali membeli makanan di luar, itupun memilih penjual yang menggunakan masker dan tempat berjualannya tidak berjubel orang,” tuturnya.

Lihat juga...