PPL : Budidaya Hortikultura Bisa Dikembangkan di Lahan Miring

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Lahan miring banyak dipergunakan sebagai lahan pertanian di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan bisa dikembangkan menjadi lahan budidaya tanaman hortikultura, seperti aneka sayuran dan buah-buahan.

“Budidaya hortikultura juga bisa dikembangkan di lahan miring. Kami gunakan itu dalam budidaya tomat di Desa Riit, Kecamatan Nita,” kata Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Swadaya Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT, Erik Paji saat ditemui di kebunnya di Desa Ladogahar, Senin (21/6/2021).

Erik mengatakan, lahan tomat di Desa Riit yang awalnya tidak dipergunakan akhirnya bisa ditanami tomat bibit unggul dengan produksi yang lumayan bagus, setelah digunakan terasering.

Ia paparkan, lahan tersebut memiliki kemiringan antara 30 derajat hingga 45 derajat sehingga penggunaan terasering wajib dilakukan untuk mempertahankan kesuburan tanah yang sering terkikis air saat hujan.

“Petani kita ajarkan pembuatan terlebih dahulu sebelum menanam tanaman hortikultura. Penggunaan terasering memang tidak asing bagi petani karena dahulu juga dipergunakan, namun sekarang mulai jarang dibuat lagi,” ungkapnya.

Erik mengakui, setelah pembuatan terasering petani diajarkan membuat bedeng-bedeng dan dilapisi dengan plastik mulsa, dimana adanya bedeng juga bisa menghalangi air mengalir ke dataran rendah.

“Penggunaan terasering dan bedeng ternyata berdampak positif karena bisa menahan air hujan tidak mengalir ke dataran rendah di bawahnya. Humus tanah pun tidak terkikis,” ucapnya.

Sementara itu, Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Kabupaten Sikka, Carolus Winfridus Keupung menjelaskan, dalam setiap pendampingan terhadap petani, pihaknya selalu mengajarkan petani membuat terasering.

Win sapaannya menyebutkan, di pematang ditanami dengan tanaman seperti Gamal dan juga pepohonan yang bisa bermanfaat, sehingga dapat menahan erosi dan membuat humus tanah tidak terkikis.

“Terasering penting untuk mengurangi kecepatan aliran air di permukaan sehingga daya kikis terhadap tanah dan erosi diperkecil sekaligus memperbesar peresapan air ke dalam tanah,” terangnya.

Lanjut Win, terasering juga berfungsi mempertahankan kelembaban, meningkatkan kesuburan tanah, memperkuat struktur tanah dan mengurangi keberadaan hama penyakit yang menyerang tanaman.

Ia tambahkan, lahan pertanian di Kabupaten Sikka terutama tanaman perkebunan berada di wilayah dengan kontur tanah miring sehingga bila dikembangkan menjadi lahan budidaya hortikultura maka wajib digunakan terasering.

“Lahan pertanian di Kabupaten Sikka dan di Flores mayoritas merupakan lahan miring karena berada di perbukitan yang lebih banyak ditanami tanaman perkebunan seperti kopi dan kakao,” ungkapnya.

Lihat juga...