Putu Ayu, Jajanan Legendaris yang Masih Berkeliling di Bekasi

Sarmo Banser, warga Brebes penjual Putu Ayu di Bekasi, biasa berkeliling ke berbagai komplek. Diakui putu ayu makan legendaris ini masih diminati, sehari ia mampu menghabiskan 5 kilogram bahan baku yang jadi 500 kue putu, Sabtu (19/6/2021) - foto M Amin
BEKASI – Putu Ayu, jajanan yang melegenda dengan suara khas saat berkeliling di perkampungan, masih bisa dijumpai di Kota Bekasi, Jawa Barat. Memiliki citaras tersendiri Putu Ayu masih digemari banyak warga di di kampung-kampung dan komplek perumahan di Bekasi.

Putu Ayu, merupakan jenis makan tradisional dengan isian gula jawa, dibalut parutan kelapa. Diklaim berasal dari Jawa Tengah (Jateng), sesuai namanya Putu Ayu memiliki tampilan yang cantik, dengan bahan baku tepung beras butiran kasar, yang dimasak dengan cara di kukus, diletakkan di dalam tabung bambu yang sudah dipadatkan.

Adalah Sarmo Banser, terlihat tidak lagi muda dan telah puluhan tahun berkeliling menawarkan Putu Ayu di Bekasi, sehari-hari berkeliling dari kampung ke kampung hingga komplek perumahan. Keluar pukul 14.30 WIB, dengan membawa lima Kilo bahan baku Putu Ayu.  “Saya lupa, sudah berapa tahun berjualan putu Ayu, pastinya sejak zaman bakulan dulu keliling jalan kaki. Tapi sekarang sudah menggunakan sepeda gowes, berkeliling di beberapa lokasi seperti Villa Jatirasa, Jatiasih, Villa 3 Bojongkulur Kabupaten Bogor perbatasan Kota Bekasi,” ujar Sarmo, saat ditemui Cendana News, di Pondok Benda, Sabtu (19/6/2021) sore.

Biasanya, pukul 20.00 WIB Putu Ayu tersebut sudah habis terjual. Untuk menambah penghasilan, Sarmo Banser, juga membawa Klepon, kue tradisional bulat berwarna hijau, yang berisikan gula merah, mirip dengan Putu Ayu.
Sarmo Banser, menjual Putu Ayu dan Klepon dengan harga Rp1.000 perbiji. Biasanya, pelanggan sekali beli Rp10 ribu. Untuk peminat Putu Ayu, masih cukup banyak ditemui di kampung-kampung atau di komplek perumahan. Sarmo menyebut, tak jarang menemui pelanggan yang kecewa, karena saat ia melintas, dagangannya sudah habis. “Putu Ayu ini ciri khas dari bunyi, semua sudah kenal bunyi ditimbulkan dari bambu kecil yang dibawa setiap keliling. Biasanya kalo sudah habis saya matikan saja,”ujarnya pria asal Brebes tersebut.

Saat ini ia menyebut, cuaca di Kota Bekasi mulai sore sering hujan. Sehingga setiap keliling, dagangannya pasti habis tidak sampai malam. Kue Putu, yang disebutnya sebagai makanan iseng, cocok dikonsumsi untuk teman ngopi dan teh di sore hari. Ia mengaku memiliki strategi sendiri, untuk membuat pelanggan tidak bosan. Berkeliling di beberapa tempat secara berpindah-pindah, adalah cara agar pelanggan tidak bosan dengan kehadirannya. Jika setiap hari dia menjajakan di satu tempat, maka lingkungan itu diyakini akan bosan dengan kehadirannya.

“Jadi saya sudah punya jadwal sendiri, sehari berkeliling di sekitar Jatirasa, Jatiasih, besok malam wilayah villa 3, Bojongkulur, wilayah perbatasan dengan Kota Bekasi, kemudian pindah lagi, setelah itu kembali ke tempat awal,” tuturnya.
Nugroho, warga Pondok Benda menyebut, menyukai kue putu dan tidak pernah absen untuk membeli, jika melintas di dekat rumah. Kue Putu sangat membantu untuk menjadi sajian, saat kumpul bersama teman-teman, sebagai teman meminum kopi atau teh. “Kadang-kadang sore lewat kebetulan lagi kumpul di rumah teman-teman, pas banget, bisa buat menu kopi. Kue tradisional yang masih digemari semua kalangan,”pungkasnya.
Lihat juga...