Reputasi Merek Tingkatkan Daya Jual Produk

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Walaupun memiliki nilai yang penting, terkadang para pelaku UMKM seringkali melupakan peran kemasan dari produk mereka. Padahal, kemasan dinyatakan mampu mempengaruhi keputusan konsumen untuk membeli. 

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Adhi S Lukman, menyatakan kemasan bukan hanya suatu wadah untuk menyimpan produk.

“Tapi, juga merupakan suatu bentuk informasi dan daya dukung dalam hal distribusi. Dan yang paling penting, kemasan merupakan sarana komunikasi bagi produsen dengan konsumen. Sehingga produk bisa diterima atau dibeli oleh konsumen,” kata Adhi, saat dihubungi, Selasa (29/6/2021).

Kemasan ini juga akan diikuti oleh merek atau brand, yang memiliki nilai sangat penting dalam meningkatkan daya jual.

Direktur Eksekutif Asosiasi Corrugated Indonesia, Tuti Buntaran, saat dihubungi, Selasa (29/6/2021). –Foto: Ranny Supusepa

“Merek merupakan suatu hal yang sangat penting, yang terkadang luput dari perhatian para pelaku UKM. Reputasi merek ini sangat penting sekali untuk meningkatkan daya jual dari UKM tersebut,” tuturnya.

Menurut data, industri kecil mikro rumah tangga mencapai 1,68 juta dengan penyerapan tenaga kerja untuk industri pangan mencapai 3,5 juta orang.

“Inilah target GAPMMI, untuk membantu mereka naik kelas. Baik bekerja sama dengan KADIN hingga kementerian dan lembaga, untuk membina dan meningkatkan kompetensi. Salah satunya, ya melalui peningkatan kemasan makanan dan minuman agar bisa menarik lebih banyak konsumen, dan masuk ke pasar yang lebih luas,” tuturnya lagi.

Direktur Eksekutif Asosiasi Corrugated Indonesia, Tuti Buntaran, menyatakan dari 64 juta UMKM, yang 98 persennya adalah usaha mikro, baru 19 persen saja yang masuk ke pasar online. Kontribusi UMKM ke PDB, tercatat mencapai 62,36 persen dan kontribusi ekspor mencapai 15,12 persen.

“Dengan perkembangan saat ini, sepatutnya semua UMKM ini masuk ke pasar online. Selain itu juga mulai memperbaiki kemasan. Karena kemasan merupakan suatu pelindung produk dan sebagai pembuka jalan untuk penjualan,” kata Tuti, terpisah.

Perlu dipahami, lanjutnya, bahwa pascapandemi dan perubahan orientasi pada lingkungan, terjadi perubahan pada kebiasaan konsumen minuman.

“Kalau dulu mereka membeli minuman itu karena mereknya, kalau sekarang yang penting minumannya sehat dan enak, kemasannya ramah lingkungan dan kemasannya tidak ribet. Banyak yang komplain, karena susah dibukanya,” ucapnya.

Menurutnya, kemasan merupakan suatu peluang atas suatu produk untuk dibeli. Berdasarkan data global, 41 persen konsumen minuman membeli karena kemasannya. Bahkan, data Indonesia menunjukkan angka yang lebih tinggi, yaitu 50 persen.

“Kalau sudah dicoba dan memang sesuai dengan selera, maka konsumen akan repeat order. Kalau tidak sesuai, ya tidak akan beli lagi. Tapi, kan awalnya ketertarikan membeli itu pada kemasannya,” ucapnya lagi.

Dan, kemasan pun bisa disesuaikan dengan orientasi pasar, walaupun kandungan produknya masih tetap sama, imbuhnya.

“Berdasarkan data, market minuman itu 40 persennya di Asia Pasifik. Bahkan, salah satu data dalam pertemuan pengusaha soft drink, menyatakan antara negara ASEAN, Vietnam dan Indonesia merupakan market yang paling mereka tuju. Karena pertumbuhan penduduknya tinggi. Jadi, yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya agar market kita ini jangan tergerus oleh produk luar,” pungkas founder  First Packaging Indonesia ini.

Lihat juga...