Ritual Koke Bale di Lewokluok Flotim Tetap Digelar Meski Pandemi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LARANTUKA — Pagelaran ritual adat Koke Bale di Desa Lewokluok, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur (Flotim), Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap digelar meskipun sedang pandemi Covid-19.

Sekertaris Lembaga Pemangku Adat (LPA) Demon Pagong yang juga warga Suku Beribe di Desa Lewokluok, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT saat ditemui di desanya, Minggu (6/6/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Kami tetap menggelar ritual adat Koke Bale meskipun sedang pandemi Corona. Kami tetap menerapkan protokol kesehatan,” kata Frans Beribe, Sekertaris Lembaga Pemangku Adat (LPA) Demon Paging saat ditemui di Desa Lewokluok, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, NTT, Minggu (6/6/2021).

Frans menyebutkan, Koke Bale merupakan rangkaian ritual adat tahunan yang biasanya dilaksanakan setiap Juni dan dihadiri oleh berbagai warga suku di Demon Pagong.

Ia sebutkan, setelah tetua adat berembug, maka untuk 2021 ini pelaksanaan ritual adat Koke Bale direncanakan berlangsung dari tanggal 1 sampai 15 Juni 2021.

“Biasanya pagelaran ritual adat dilaksanakan di tanggal ganjil dan jadwal pastinya nanti akan disampaikan lagi oleh para kepala suku,” ungkapnya.

Frans menambahkan, kegiatan ini juga nantinya akan dipromosikan agar bisa diketahui dan diharapkan akan ada kunjungan wisatawan tapi tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Selain itu kata Frans, pihaknya juga akan mempersiapkan untuk Pesona Wisata tahun 2022 dimana Desa Lewokluok menjadi salah destinasi wisata yang dikunjungi.

“Saya sudah sampaikan kepada pemerintah agar kalender wisatanya disesuai dengan jadwal pagelaran ritual adat Koke Bale,” ucapnya.

Sementara itu Theodorus Lein salah seorang tetua adat Desa Lewokluok menyebutkan, rangkaian ritual adat Koke Bale dimulai dengan melaksanakan ritual adat Tuhuk Klewo atau pemasangan atap bubungan rumah adat (Koke atau Korke).

Keesokan harinya kata Teho sapaannya, dilaksanakan ritual adat Belo Howok atau penyembelihan hewan kurban yang dilaksanakan di pelataran rumah adat atau Namang, dimana setelah disembelih hewan kurban digantung di kayu yang ada.

“Hewan kurban ini keesokan harinya baru dipotong dan dagingnya dibagikan kepada semua warga suku dan tetamu yang hadir. Ritual adat Koke Bale digelar setahun sekali juga untuk merangkul dan mempersatukan semua warga suku,” ungkapnya.

Theo juga menambahkan, dengan menggelar ritual adat ini secara rutin setiap tahunnya, komunitas adat di desaya ingin mewariskan tradisi ini kepada segenap keturuna dari komunitas adat ini terutama kepada generasi muda.

“Menggelar secara rutin ritual adat Koke Bale dilakukan untuk mewariskan adat dan budaya ini secara turun temurun kepada generasi muda agar ritual ini jangan sampai hilang,” ucapnya.

Lihat juga...