Sejak Lama Pembudi Daya Kerang Hijau di Lamsel Gunakan Media Ramah Lingkungan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Masyarakat di pesisir Lampung Selatan, sejak lama telah menerapkan ekonomi hijau secara berkelanjutan. Salah satunya, pembudi daya kerang hijau dan rumput laut. Penggunaan kayu dan bambu dipilih sebagai media, dan diregenerasikan secara berkala dengan penanaman pohon baru. Penebangan pohon juga dilakukan selektif.

Amran Hadi, warga pembudidaya kerang hijau di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, menyebut penggunaan media budi daya ramah lingkungan sudah dilakukan sejak belasan tahun silam. Bahan ramah lingkungan diperoleh dari kebun untuk penyokong ekonomi.

“Meningkatnya kebutuhan media budi daya mendorong kelestarian pohon, karena diimbangi dengan penanaman pohon untuk kebutuhan budi daya kerang hijau, dan rumput laut. Sejumlah bahan kebutuhan media budi daya berupa bambu apus, bambu hitam, kayu waru, kayu lamtoro, gandri, salam hingga batang pinang,” kata Amran Hadi saat ditemui Cendana News, Selasa (2/6/2021).

Menurut Amran Hadi, semua jenis tanaman itu semula diperoleh dengan cara membeli. Peningkatan jumlah kebutuhan bambu, kayu berdampak pada bahan baku menipis. Sebagian warga yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Sinar Semendo mulai memiliki kesadaran kolektif melestarikan tanaman. Faktor kebutuhan dan kelestarian menjadi pemicu budi daya berkelanjutan.

Amran Hadi menunjukkan stok bambu hitam dan bambu apus di Desa Legundi, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Selasa (2/6/2021). -Foto: Henk Widi

“Tanaman yang kerap ditebang tanpa adanya regenerasi akan berimbas pada sulitnya mencari bahan baku, sebagian warga yang memiliki kebun mulai menanam pohon menyesuaikan kebutuhan pendukung budi daya, termasuk tanaman bambu,” terang Amran Hadi.

Amran Hadi bilang, sejumlah pohon bisa dikembangkan secara generatif memakai biji. Sebagian dikembangkan secara vegetatif dari bagian batang dan tunas yang dipencarkan. Menjaga tanaman tetap lestari, ia melakukan sistem tebang pilih. Hanya tanaman yang sudah cukup umur ditebang sekaligus penanaman bibit baru. Kebutuhan media budi daya diperlukan minimal setiap setengah tahun.

Waktu setengah tahun bisa dimanfaatkan untuk meregenerasi tanaman bambu. Sistem pemilihan bambu tua akan memberi kesempatan bagi tunas muda berkembang. Rumpun bambu memiliki fungsi untuk menjaga resapan air di kebun. Bagi lingkungan, bambu bisa menjadi penaung tanaman lain, habitat burung dan satwa liar.

“Penanaman bambu kami lakukan di Gunung Taman, wilayah lahan miring yang kami gunakan untuk tanaman kayu,” ulasnya.

Jenis tanaman pinang ditanam oleh Amran Hadi dan masyarakat sebagai tanaman wajib. Setiap warga wajib menanam pinang sebagai tanaman pagar kebun. Selain bisa dimanfaatkan sebagai pelindung longsor, buah pinang bisa dipanen. Nilai ekonomis buah, batang pinang memiliki manfaat berkelanjutan. Perbanyakan bibit dengan biji mendukung upaya pelestarian pohon pinang.

Amran Hadi mengatakan, pohon pinang yang ditanam sistem berbaris di pesisir pantai memiliki fungsi ekologis. Ia melakukan penanaman dengan sistem berjajar seperti pagar. Fungsi penanaman berjajar bertujuan untuk meredam angin Timur. Saat terjadi gelombang pasang, kekuatan akar pohon pinang menghindari abrasi. Pemanfaatan batang dilakukan setelah cukup umur.

“Batang pinang yang tua bisa dijadikan tiang pancang media budi daya kerang hijau, rumput laut dan telah memiliki cadangan tanaman baru,” ulasnya.

Pelestarian berbagai tanaman kayu keras juga dilakukan Basroni. Warga Desa Legundi itu menyebut, kebutuhan kayu dan bambu sejak satu dasawarsa ini mengalami peningkatan. Satu siklus budi daya kerang hijau rata-rata satu tahun membutuhkan 1.000-7.000 batang kayu dan bambu. Peningkatan kebutuhan untuk ekonomi hijau berkelanjutan diiringi dengan penanaman pohon.

Ia menyebut, jenis tanaman yang mudah dibudidayakan berupa lamtoro. Memakai bibit dari biji yang disebar, lamtoro akan tumbuh cepat. Tanaman akan dipilih yang lurus dan disortir. Keberadaan tanaman lamtoro menjadi peresap air, penahan longsor dan habitat burung. Saat panen, ia menebang batang dengan ukuran 4 meter, sistem tebang pilih.

“Pohon kami tebang secara bertahap, jadi kebun tidak langsung gersang, apalagi saat ini dominan penghujan berpotensi longsor,” ulasnya.

Korelasi kebutuhan bahan baku media tanam dan konservasi pohon, sebut Basroni, sangat erat. Sebagian pembudidaya mulai melakukan pemanfaatan lahan nonproduktif. Meski dibiarkan kosong, namun tanaman untuk keberlangsungan budi daya kerang hijau ditanam. Selain kayu, bambu sebagai tonggak, bahan bekas tali tambang kapal dan ban dimanfaatkan untuk budidaya berkelanjutan.

Kebutuhan akan bambu, tanaman multi manfaat diakui Juarsih. Pembudidaya rumput laut itu mengaku butuh ratusan tiang pancang bambu. Pengeringan memakai para para bambu mendorong peningkatan kebutuhan. Solusinya, ia memanfaatkan kebun untuk menanam bambu. Penanaman bambu mendukung budi daya berkelanjutan, sehingga ia bisa berhemat tanpa harus membeli.

Batang bambu yang ditanam, menurut Juarsih juga memiliki manfaat bagi pesisir. Sejumlah batang bambu ditancapkan untuk menahan terjangan ombak. Rekayasa hayati dengan membuat alat penahan ombak (APO) juga dilakukan.

APO dari pagar dan bambu utuh dipasang untuk memecah ombak penahan tanaman rumput laut. Kebutuhan bambu yang stabil didukung oleh penanaman bambu berkelanjutan di kebun.

Lihat juga...