Sekolah Lapang Perlu Diterapkan Bagi Petani di Sikka

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Sekolah Lapang (SL) metode pembelajaran mengenai teknik budidaya harus lebih banyak diterapkan bagi kelompok tani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Penerapan sekolah lapang sangat diperlukan dan efektif. Kelompok tani di Sikka harus menerapkannya agar bisa memahami budidaya komoditi pertanian,” sebut Erik Paji, petani dan Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) Swadaya Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, NTT saat ditemui di kebunnya di Desa Ladogahar, Senin (21/6/2021).

Erik menyebutkan, kelompok tani bisa mengajukan permohonan kepada Balai Penyuluh Pertanian (BPP) di setiap kecamatan, untuk pelaksanaan sekolah lapang disesuaikan dengan kebutuhan jenis tanaman pertanian.

Disebutkan, saat ini petani di Kabupaten Sikka banyak yang mulai beralih menanam tanaman hortikultura, seperti sayuran dan buah-buahan, karena dianggap lebih menguntungkan.

“Kita mendorong kelompok tani agar mengajukan penawaran sekolah lapang. Bisa menggandeng pemerintah desa agar dianggarkan melalui dana desa. Diharapkan dengan adanya sekolah lapang, produktifitas pertanian meningkat,” ucapnya.

Erik mencontohkan, pelaksanaan sekolah lapang bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati di Desa Riit, Kecamatan Nita yang sukses mengembangkan budidaya tomat di lahan miring.

Ia paparkan, lahan yang selama ini sulit digarap akhirnya bisa ditanami dengan tanaman tomat kualitas unggul dengan menggunakan sistem terasering di lahan miring dan hasilnya pun meningkat.

“Sekolah lapang efektif sebagai sarana transfer ilmu pertanian kepada petani, sebab dilaksanakan di lapangan dan petani bisa langsung mempraktekannya. Petugas penyuluh lapangan pun melakukan pemantauan, sejak pembibitan hingga pasca panen,” ucapnya.

Direktur Wahana Tani Mandiri (WTM) Kabupaten Sikka, Carolus Winfridus Keupung mengatakan, sekolah lapang memang dilaksanakan agar bisa meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani, dalam menerapkan teknologi budidaya yang baik dan benar.

Win sapaannya menyebutkan, dengan pelaksanaan sekolah lapang, petani dapat mengatasi permasalahan yang timbul di lapangan secara mandiri, karena sudah dibekali ilmu pertanian.

“Sangat efektif untuk sarana transfer ilmu kepada petani. Dalam sekolah lapang diajarkan mengenai konsep pengendalian hama terpadu, budidaya dan penggunaan pestisida,” ungkapnya.

Lihat juga...