Siasati Minimnya Modal dengan Lokasi Usaha Tanpa Sewa

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Modal tidak terlihat atau intangible assets berupa lokasi strategis menjadi hal penting bagi para pebisnis atau pedagang. Namun bagi pedagang kecil yang memiliki modal terbatas, berbagai cara dan pertimbangan harus dilakukan. Misalnya, dengan memilih cara berdagang di lokasi yang tidak harus menyewa.

Purwanto, salah satu pelaku usaha penjualan makanan tradisional pempek panggang dan sate ayam, sejak dua tahun ini memilih menerapkan cara pikul dengan rombong. Sebelumnya, ia bekerja di salah satu restoran di Bandar Lampung, namun pemutusan hubungan kerja membuat ia memilih wirausaha.

Berbekal keahlian mengolah makanan menjual pempek panggang dan sate, menjadi usaha yang ditekuni. Modal usaha sekitar Rp1juta dipakai membuat rombong dan alat pemanggangan.

Dinda, pedagang misro dan combro memanfaatkan gerobak yang bisa dipindah untuk berjualan tanpa menyewa tempat di Jalan RE Martadinata, Teluk Betung, Bandar Lampung, Selasa (29/6/2021). -Foto: Henk Widi

Ia mengatakan, kendala lokasi usaha menjadi hambatan saat awal memulai usaha. Beruntung, tempat tinggalnya belum ada usaha sejenis. Ia memilih lokasi strategis tanpa harus menyewa lokasi, hanya izin pada pemilik toko yang akan digunakan. Rombong bisa dipindahkan sewaktu-waktu. Menjual rata-rata 500 buah pempek panggang dan sate, per hari ia bisa mendapat hasil ratusan ribu rupiah.

“Pemilik toko masih tetangga dan melihat usaha yang saya jalani tidak menjadi rival atau saingan, jadi tetap berjalan selama dua tahun. Saat ada peluang pada pagi hari berjualan di pasar, saya bisa pindah ke lokasi yang berpeluang mendapat banyak konsumen,” terang Purwanto, saat ditemui Cendana News, Selasa (29/6/2021).

Menurut Purwanto, lokasi strategis merupakan modal usaha tidak yang tidak bisa dinilai dengan uang. Ia pun menggunakan lokasi strategis di dekat akses jalan menuju ke Pulau Pasaran, Kelurahan Kota Karang, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung. Lokasi itu juga akses penghubung kota Bandar Lampung menuju destinasi wisata bahari di Kabupaten Pesawaran.

Lokasi strategis yang dipilih itu juga berada dekat pasar harian, dan ia pun memanfaatkan Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) yang diperoleh dari bank BUMN sebagai tambahan modal. Purwanto mengaku mendapat Rp2,4 juta pada tahap pertama dan Rp1,2juta tahap ke dua.

Purwanto mengaku diuntungkan dengan lokasi strategis dan sarana usaha yang masih terjangkau. Ia mengaku belum berpikir untuk membuka usaha dengan menyewa lapak. Usaha yang praktis mudah dipindahkan dengan bahan baku arang pemanggang dan pempek, masih bisa disediakan bersama sang istri. Menekuni usaha kecil, ia mengaku masih bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Setelah terkena PHK, salah satu sumber penghasilan dengan berjualan dan beruntung mendapat lokasi strategis,” ulasnya.

Menjual makanan dengan memanfaatkan gerobak dorong, juga dilakukan Dinda, penjual kue combro dan misro, yang tidak harus menyewa tempat. Ia bisa memanfaatkan lahan kosong di tepi Jalan RE Martadinata. Ia telah memiliki pengalaman untuk membuka usaha dengan memakai ruko dengan sistem sewa.

“Modal yang cukup untuk sewa ruko harus tetap memperhitungkan omzet penjualan, kalau tidak mampu membayar lebih baik memanfaatkan lokasi yang tidak harus menyewa,” ulasnya.

Ia mengaku membeli gerobak dorong second atau bekas pakai yang direnovasi seharga Rp1juta. Sebagai modal usaha, ia mengaku bisa mendapat tambahan dari omzet penjualan harian. Gerobak untuk berjualan bisa dipindahkan saat tidak digunakan. Omzet harian rata-rata Rp500ribu, sebagian ditabung untuk tambahan modal.

Usaha sejenis penjualan kue combro dan misro, Agus, memilih lokasi strategis di Jalan Cut Nyak Dien, Tanjungkarang. Ia menyebut, bagi pelaku usaha yang memiliki modal usaha terbatas, tempat tanpa menyewa menjadi solusi. Namun, ia tetap berharap bisa memiliki lokasi yang nyaman untuk usaha. Ia bisa menjual makanan tradisional tersebut sebagai sumber penghasilan.

“Saat masa pandemi, usaha kecil masih bisa jadi harapan untuk sumber penghasilan,” ulasnya.

Sementara itu, Sumiarsih, pedagang bakso di Jalan Way Sekampung, Bandar Lampung, mengaku menyewa tempat untuk usahanya. Semula, ia mengaku modal terbatas membuat hanya berjualan memakai gerobak dorong. Namun, adanya subsidi fasilitas membuat ia bisa mendapatkan lapak berjualan dengan uang sewa Rp3juta per tahun. Uang sewa itu sebanding dengan lokasi strategis yang berada dekat dengan stadion pahoman.

Sumiarsih menyebut, kunci untuk memulai usaha kecil harus bisa melihat peluang. Terkait lokasi usaha, menjadi faktor pendukung. Sejumlah faktor lokasi strategis, menjual makanan yang variatif menjadi cara mendongkrak aset.

Lihat juga...