Tawaf, Mengelilingi Baitullah

OLEH: HASANUDDIN

SERINGKALI kita melakukan kekeliruan besar akibat abai terhadap hal kecil. Misalnya seorang membacakan firman-Nya di hadapan orang banyak, dengan maksud memberitahukan kepada orang lain, dan melupakan untuk memberitahukan kepada dirinya sendiri.

Karena itu ungkapan Nabi Musa di bawah ini, patut untuk kita camkan agar terhindar menjadi di antara orang-orang yang jahil, bodoh, yakni kita menyeru kepada orang lain, namun lupa bahwa Allah memberikan kalimat-Nya untuk kita ucapkan sesungguhnya adalah kepada diri kita, bukan kepada orang lain.

قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (٦٧)

“Aku berlindung kepada Allah, agar aku tidak menjadi diantara orang-orang yang bodoh (jahil).” (QS. Al-Baqarah (2): 67).

Pada kenyataannya, bersikap jahil, bodoh dapat kita saksikan setiap saat, dari pidato kenegaraan seorang Presiden, para pemimpin politik, para pemimpin lembaga tinggi negara, hingga ke level individu-individu (termasuk penulis, tidak terkecuali), bahwa kerap kali kita membacakan suatu kebijakan seolah-seolah hanya untuk kita tujukan kepada orang lain, dan bukan untuk diri kita sendiri.

Presiden mengeluarkan imbauan agar tidak berkerumun menghindari terjadi penyebaran virus, tapi sesaat kemudian ia sendiri memicu terjadinya kerumunan. Polisi saban hari mengimbau agar mentaati hukum dan peraturan, di saat yang sama mereka terlibat pemerasan, pemerkosaan, penjualan narkoba, penyelundupan, fitnah dan lain-lain bentuk kejahatan. Hakim senantiasa meminta terdakwa berkata jujur, namun mereka memutuskan perkara dengan mengkhianati kata hatinya demi alasan-alasan tertentu.

Pagi ini Allah swt memberikan pelajaran kepada kami dengan memahamkan makna perkataan Musa (QS. Al-Baqarah 67) di atas, perkataan yang terlontar dari mulut Nabi Musa, yang tiada lain adalah pemberian Allah padanya. Nabi Musa berlindung kepada Allah, agar nasihat-nasihatnya kepada kaumnya, tidak membuatnya menjadi seperti orang-orang yang jahil, orang-orang bodoh yang memberitahu kepada orang lain tentang hal baik, namun dirinya sendiri tidak melakukan apa yang baik menurutnya itu.

Inilah pangkal pokok persoalan manusia, dan boleh jadi merupakan salah satu pangkal pokok persoalan kebangsaan kita dewasa ini. Para petinggi negeri, para birokrasi, para ustaz, rohaniawan berbagai agama, para tokoh politik dan tokoh masyarakat teramat banyak berlaku jahil pada dirinya sendiri. Namun di saat yang sama, merasa telah melakukan kebaikan. Ketika apa yang mereka ucapkan dikembalikan kepada diri mereka, seolah mereka sedang melakukan pendakian yang teramat berat untuk mereka gapai.

Allah swt berfirman:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (125)

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk berserah diri (Islam). Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatan baginya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa pada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am (6): 125).

Demikianlah kiranya kita akhir-akhir ini menyaksikan pemandangan-pemandangan tentang perilaku kejahiliaan, kebodohan di sekitar kita.

Lihat juga...