Teknologi Insinerator Solusi Pengelolaan Sampah Perkotaan Ramah Lingkungan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Pemanfaatan teknologi insinerator modern, menjadi salah satu solusi dalam pengelolaan sampah perkotaan. Teknologi ini mampu mereduksi sampah hingga mencapai 90 persen dan menyisakan residu 10 persen berupa abu, yang ramah lingkungan.

Teknologi tersebut juga dimanfaatkan Universitas Negeri Semarang (Unnes), dalam pengelolaan sampah di lingkungan kampus, melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).

“Seluruh sampah yang dihasilkan di lingkungan kampus Unnes, dikirim ke TPST, baik sampah organik seperti daun kering, atau limbah dari kantin, hingga sampah anorganik berupa plastik dan lain-lainnya,” terang Manajer TPST Unnes, Hananiel saat ditemui di lokasi tersebut, Sekaran, Gunungpati Semarang, Rabu (16/6/2021).

Dalam pengelolaannya, sampah organik tersebut dimanfaatkan kembali, menjadi kompos untuk sampah daun. Sementara untuk sampah basah organik, seperti sisa makanan, sayur-sayuran, digunakan sebagai pakan untuk budidaya maggot, yang juga dikelola di TPST Unnes.

“Sementara, untuk sampah anorganik, kita kelola dengan menggunakan mesin insinerator. Sebagai mesin pembakar sampah, memiliki suhu hingga 800 derajat celcius, dengan menghasilkan abu dan emisi gas buang yang ramah lingkungan,” terangnya.

Manajer TPST Unnes, Hananiel menunjukkan cara kerja insinerator sampah saat ditemui di lokasi tersebut, Gunungpati Semarang, Rabu (16/6/2021). Foto Arixc Ardana

Dipaparkan, cara insinerator cukup mudah, sampah yang sudah dipilah, kemudian dimasukkan ke dalam tungku pembakaran. Dibakar dalam suhu tinggi yang terisolir, menjadikan sampah menjadi abu.

Sementara, Kepala UPT Pengembangan Konservasi Unnes, Prof Amin Retnoningsih menuturkan, teknologi insinerator dapat menghancurkan sampah-sampah berbahaya dan beracun ataupun sampah-sampah infeksi, sehingga sisa pembakaran dapat dibuang dengan aman ke tempat pembuangan sampah akhir (TPA).

“Saat ini, abu hasil pembakaran insinerator di TPST Unnes, juga tengah kita kembangkan untuk diolah kembali. Salah satunya sebagai bahan campuran untuk pembuatan batu bata atau paving blok,” terangnya.

Dipaparkan, saat ini penelitian tersebut tengah dilakukan oleh dosen Unnes, sehingga diharapkan kedepan, seluruh sampah yang dihasilkan di lingkungan kampus tersebut, dapat dikelola dengan baik.

“Niscaya kalau kita bisa menghilangkan sampah, sebab semua aktivitas kita menghasilkan sampah. Masak sayur misalnya, ada sampah yang dibuang. Makan buah, kulitnya pasti dikupas dan dibuang, demikian juga dengan kegiatan lainnya. Namun persoalannya, bagaimana kita bisa mengelola sampah ini,” terangnya.

Dijelaskan, dengan beragam metode pengelolaan sampah mulai dari pemanfaatan untuk pembuatan pupuk kompos, budidaya maggot hingga pemanfaatan teknologi insinerator, pihaknya berharap sampah tidak lagi menjadi persoalan, namun menjadi potensi yang bisa dikembangkan.

Lihat juga...