Tera Ulang Cegah Kerugian Akibat Kesalahan Timbangan

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Meminimalisir kerugian konsumen akibat ukuran timbangan yang tidak tepat, Dinas Perdagangan Kota Semarang mendorong agar seluruh alat ukur, termasuk timbangan di pasar tradisional, dapat ditera ulang.

“Ketepatan ukuran timbangan membuat masyarakat akan merasa aman ketika berbelanja, termasuk di pasar tradisional. Untuk itu, setiap timbangan pedagang di pasar wajib melakukan tera ulang minimal setahun sekali,” papar Kepala UPTD Metrologi Legal Dinas Perdagangan Kota Semarang, Edi Subeno, saat dihubungi di Semarang, Selasa (29/6/2021).

Dijelaskan, setiap alat ukur takar dan timbang wajib mengikuti tera ulang secara berkala. Nantinya, timbangan yang sudah ditera ulang akan diberi tanda. Hal tersebut dilakukan untuk melindungi konsumen, agar tidak dirugikan akibat perbedaan tera timbangan.

“Tera ulang dilakukan untuk mencegah terjadinya selisih takaran dalam bertransaksi,” tambahnya.

Kepala UPTD Metrologi Legal Dinas Perdagangan Kota Semarang, Edi Subeno, saat dihubungi di Semarang, Selasa (29/6/2021). –Foto: Arixc Ardana

Ditambahkan, sesuai UU No. 2 tahun 1981 tentang metrologi legal, penggunaan atau pemakaian alat ukur untuk bertransaksi harus bertanda tera sah yang berlaku. Tidak hanya itu, pada alat-alat tertentu dimungkinkan untuk diterbitkan surat keterangan hasil pengujian.

Edi menuturkan, bagi masyarakat yang akan mengajukan tera maupun tera ulang dapat dilayani secara langsung di kantor UPTD Metrologi Legal Kota Semarang atau pelayanan di tempat pakai.

“Kalau di kantor, bisa langsung datang membawa alat timbang atau alat ukur yang akan ditera atau tera ulang, kemudian mendaftarkan ke loket untuk melakukan pembayaran sesuai kategorinya. Nanti alat ukur atau timbangan tersebut akan diuji. Jika memenuhi kriteria, maka akan disahkan dan dapat digunakan dalam bertransaksi,” terangnya.

Sedangkan, jika hasilnya tidak memenuhi persyaratan, masih ada kesempatan untuk dilakukan reparasi dan dilakukan uji ulang.

“Sementara untuk layanan di tempat pakai, pemohon bisa mengajukan permohonan pengujian di tempat pakai. Kemudian akan kami jadwalkan pelaksanaannya sesuai dengan jenis alat dan kemampuan dari petugas yang ada di kantor kami,” tambahnya.

Dirinya pun mendorong agar seluruh pelaku usaha yang menggunakan alat ukur takar timbang serta perlengkapannya, utamanya yang digunakan dalam transaksi, agar ditera atau tera ulang, karena hal tersebut menjadi kewajiban sesuai dengan UU No. 2 tahun 1981 tentang metrologi legal.

“Untuk menjaga tertib ukur di segala bidang, kewajiban yang sudah melekat bagi para pemilik UTTP untuk dapat dilaksanakan,” pungkasnya.

Terpisah, salah satu pedagang di Pasar Peterongan Kota Semarang, Hartati, mengaku selama ini dirinya tertib dalam melakukan tera timbangan.

“Ya tertib tera timbangan, setahun sekalilah, tapi terkadang kalau timbangannya rusak, setelah saya betulkan, kemudian ditera ulang. Biar ukurannya pas,” terangnya.

Sedangkan pedagang lainnya, Kuswati yang juga ditemui di Pasar Peterongan, Semarang, mengaku selama ini dirinya malah belum pernah melakukan tera timbangan.

“Dari beli sampai sekarang belum pernah saya tera, karena tidak tahu. Kalau ada petugas yang datang melakukan tera, saya pasti mau ikut,” pungkas pedagang daging sapi tersebut.

Lihat juga...