Tetel Ketan, Lezat Disajikan Bersama Tempe Bacem Goreng

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Tetel ketan merupakan salah satu kuliner tradisional berbahan ketan putih. Fransiska, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan menyebut kue tersebut kerap diberi nama ketan uli atau jadah. Kuliner tersebut memiliki filosofi makanan yang mempererat persaudaraan dari kata raketan.

Bahan pembuatan berupa ketan putih jenis thailand. Bahan pelengkap berupa kelapa parut, garam, daun pandan dan daun pisang sebagai pembungkus. Proses pembuatan bertahap, mulai perendaman beras ketan agar lebih lunak. Selanjutnya dikukus dalam dandang dan kemudian diaru dengan garam.

Ketan setengah matang diangkat lalu ditaburi dengan parutan kelapa. Selanjutnya kukus kembali ketan putih dan ketan parut hingga matang. Proses pematangan butuh waktu sekitar 20 menit dengan pengukusan memakai kompor ukuran besar. Setelah matang hamparkan ketan dalam tampah dengan alas daun pisang.

“Tahap selanjutnya ketan yang telah matang dipindahkan dalam lumpang untuk penumbukan, beri alas plastik agar saat proses penumbukan, ketan tidak menempel pada lumbang. Haluskan hingga tercampur sempurna, jika rasa kurang gurih bisa tambahkan garam,” terang Fransiska saat ditemui Cendana News, Sabtu (5/6/2021).

Ketan yang telah ditumbuk akan menggumpal berbentuk lembut. Selanjutnya dibungkus dengan daun pisang berbentuk memanjang. Diamkan selama beberapa menit hingga dingin lalu bisa dipotong ukuran tipis dan kecil.

Tetel ketan sebut Fransiska bisa disajikan langsung setelah dipotong. Namun agar lebih nikmat, sajian kuliner tradisional itu bisa digoreng agar lebih gurih dan renyah. Tambahan tempe bacem goreng yang direbus dengan garam, merica dan bawang merah menambah kelezatannya.

“Tetel ketan yang telah dipotong ukuran tipis selanjutnya bisa digoreng atau langsung disajikan bersama tempe bacem goreng,” ulasnya.

Edi Gunawan, anak Fransiska menyebutkan, tetel ketan kerap disebut gemblong. Kuliner itu kerap disajikan dalam acara khusus. Ketika hajatan dan gotong royong, kue itu menjadi simbol persaudaraan.

“Sebagai pengganti nasi, tetel ketan bisa disajikan bersama dengan kuah opor ayam untuk menu sarapan,” ulasnya.

Tambahan tempe bacem goreng sebut Edi Gunawan menjadi penambah rasa gurih.

Ngatiran, menikmati tetel ketan dengan tempe bacem goreng dan teh hangat di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Sabtu (5/6/2021). Foto: Henk Widi

Ngatiran, salah satu penyuka tetel ketan mengaku hidangan tersebut menjadi menu kebersamaan. Pada masyarakat tradisional Jawa yang ada di Lampung Selatan hidangan tersebut kerap disajikan saat acara keluarga.

Ia mengaku alternatif penyajian bisa dilakukan dengan cara digoreng. Setelah digoreng tetel ketan bisa dibaluri dengan gula putih, gula merah. Namun ia menyukai tetel ketan dengan tempe bacem goreng.

Menikmati tetel ketan bersama dengan tempe bacem goreng sebut Ngatiran cukup menyengangkan. Ketan yang telah dikukus dan dipadatkan bisa menjadi pengganti nasi.

Lihat juga...