Tutut Soeharto: Pak Harto Mengukir Banyak Prestasi untuk Indonesia

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA –  Putri pertama Presiden Kedua RI, Jenderal Besar HM Soeharto,  Siti Hardiyanti Rukmana atau Tutut Soeharto, mengatakan, sejak remaja Pak Harto memilih menjadi bagian dari anak zaman. Yaitu menjadi pejuang yang merebut dan mempertahankan kemerdekaan dengan mengangkat senjata.

“Masa muda Pak Harto dihabiskan dengan meniti karier sebagai prajurit yang menjaga dan memastikan nusa dan bangsa terjaga dari mara bahaya yang datang mengancam,” ujar Tutut Soeharto, pada acara Syukuran 100 Tahun Pak Harto di Masjid Agung At Tin, Jakarta Timur, Selasa (8/6/2021).

Menurut Tutut Soeharto,  pada satu titik penting hidupnya, Pak Harto diberi tanggung-jawab yang luar biasa berat. Di antaranya, kata Tutut Soeharto, Pak Harto harus memimpin Serangan Umum 1 Maret 1949, meredakan pemberontakan-pemberontakan di berbagai daerah, memimpin operasi Mandala Pembebasan Irian Barat, serta membawa bangsa Indonesia keluar dari kemelut nasional pasca-kudeta G30S/PKI.

“Tak hanya itu, pada masa berikutnya, Pak Harto dipercaya menjadi Presiden Kedua Republik Indonesia, dengan amanat yang adil, makmur, sejahtera,” ungkapnya.

Selama memimpin Indonesia, Pak Harto mengukir banyak prestasi. Di antaranya, Pak Harto berjasa besar di bidang pembangunan ekonomi dan pertanian.

Karena mampu menurunkan tingkat inflasi dari 650 persen menjadi 12 persen dalam beberapa tahun pertama kepemimpinannya.

“Selama Pak Harto menjadi presiden, ekonomi Indonesia sempat tumbuh rata-rata secara konstan di atas 7 persen per tahun. Bahkan pernah di atas 9 persen pada awal-awal kepemimpinannya,” urai Tutut Soeharto.

Bahkan menurutnya, hari demi hari ketika menjabat sebagai presiden, Pak Harto tiada kenal lelah memanfaatkan waktu dan tenaga yang dimilikinya untuk memikirkan, mendiskusikan, dan mengambil keputusan yang tidak mudah bagi kebaikan Indonesia.

Pak Harto dengan didampingi istri tercinta, Hj. Siti Hartinah Soeharto, bahu membahu tanpa pamrih mewujudkan apa yang didambakan oleh rakyat hingga purna tugas pada Mei 1998.

“Tentunya, rakyat Indonesia ada yang sangat puas menerima, namun ada pula yang tak puas dengan kiprah Pak Harto selama menjabat presiden. Hal itu semua berpulang ke hadirat Allah SWT,” imbuh Tutut Soeharto.

Bagi Keluarga Besar Pak Harto, 8 Juni 2021 ini merupakan momentum satu abad pasca-hari kelahirannya yang istimewa.

Tutut Soeharto berharap momentum satu abad Pak Harto menjadikan momentum untuk menghidupkan semangat, menemukan, dan meraih keteladanan dari segala kiprah yang telah dilaksanakan semasa hidupnya.

“8 Juni 2021 menjadi momentum untuk mensyukuri betapa pikiran, tindakan, dan kiprah Pak Harto dalam membangun bangsa dan negara, nyata benar manfaatnya,” tutupnya.

Lihat juga...